Pemerintah Akan Impor Minyak Mentah Dari Amerika Imbas Penutupan Hormuz

Pasokan minyak mentah, BBM, hingga gas cair secara rata-rata berada di atas ambang batas minimal 21 hari.

Pemerintah Akan Impor Minyak Mentah Dari Amerika Imbas Penutupan Hormuz
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia (kedua kiri) didampingi Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Satya Widya Yudha (kiri) bersiap memberikan keterangan pers terkait Perkembangan Terkini Timur Tengah dan Implikasi Terhadap Sektor ESDM di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (3/3/2026). (ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/wsj.)

Pemerintah berencana mengalihkan sumber pasokan minyak sebagai dampak penutupan Selat Hormuz akibat perang Amerika Serikat, Israel terhadap Iran yang pecah akhir pekan lalu.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan untuk mengantisipasi penutupan Selat Hormuz, Indonesia akan menambah impor dari kawasan lain. Dengan begitu, pasokan untuk kebutuhan dalam negeri dapat terjaga.

"Skenarionya adalah sekarang ini untuk crude (minyak mentah) yang kita ambil dari Timur Tengah, sebagian kita alihkan untuk ambil dari Amerika. Ini supaya ada kepastian ketersediaan crude kita," kata Bahlil dalam konferensi pers usai menggelar rapat bersama Dewan Energi Nasional (DEN) di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (3/3/2026).

Selain itu, kata dia, Indonesia juga akan melakukan impor minyak dari berbagai kawasan lain seperti Afrika dan Amerika Selatan.

Rapat tersebut membahas dampak penutupan Selat Hormuz akibat konflik Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Selat Hormuz merupakan jalur lalu lintas perdagangan minyak dunia. Sekitar 20 juta barel minyak bumi dari kawasan Timur Tengah melalui selat ini setiap hari.

Mengutip Al Jazeera, Iran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia sebagai respons atas serangan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan pemimpin tertinggi di tanah Persia itu.

Seorang komandan di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan pada hari Senin bahwa selat tersebut "tertutup" dan bahwa setiap kapal yang mencoba melewati jalur air tersebut akan "dibakar."

Setidaknya lima kapal tanker telah rusak, dua personel tewas, dan sekitar 150 kapal terdampar di sekitar selat tersebut, yang memisahkan Iran dan Oman, demikian laporan kantor berita Al Jazeera.

Bahlil mengungkapkan, Indonesia mengimpor sekitar 20 sampai 25 persen kebutuhan minyak mentah dari Timur Tengah. Sedangkan untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak ada impor dari kawasan itu.

Bahkan Indonesia saat ini sudah tidak mengimpor Solar. Sekarang yang masih diimpor adalah bensin RON 90, RON 93, RON 95, dan RON 98. Sebagian besar dipasok dari kawasan Asia Tenggara.

"Alhamdulillah secara kebetulan untuk impor jenis BBM seperti ini tidak kita lakukan dari Timur Tengah, tapi kita lakukan dari negara-negara di luar Timur Tengah termasuk dalamnya adalah Asia Tenggara. Jadi ini relatif tidak ada masalah," ujarnya.

Sementara untuk impor LPG, Bahlil mengatakan bahwa pasokan akan ditambah dari AS. "LPG kita impor 7,3 juta ton per tahun dan tahun ini naik menjadi 7,8 juta ton. Sekitar 70 persennya sekarang kita ambil dari Amerika," ucapnya.

Pemerintah, Bahlil melanjutkan, juga tengah memperhitungkan dengan cermat dampak kenaikan harga minyak dunia terhadap APBN. Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar layanan pada masyarakat jangan sampai terganggu.

"Alhamdulillah, untuk persiapan hari raya dan bulan puasa, stok kita semua rata-rata di atas standar minimum nasional," ujar Bahlil.

Sebaliknya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai bahwa konflik tersebut bisa berdampak pada harga minyak global, terutama setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang berperan sebagai jalur utama distribusi minyak dunia. 

Namun, ia tetap optimistis bahwa kebutuhan BBM domestik masih dapat terpenuhi karena Indonesia telah mengamankan pasokan dari luar kawasan Timur Tengah, termasuk kerja sama impor dengan negara seperti Amerika Serikat. 

Airlangga menyebut pemerintah akan terus memantau perkembangan geopolitik secara intensif, termasuk kemungkinan gangguan logistik global yang dapat mempengaruhi rantai pasok energi nasional. 

“Meskipun konflik tersebut berpotensi mendorong harga BBM di dalam negeri naik, langkah-langkah mitigasi akan dilakukan untuk menjaga stabilitas pasar dan kebutuhan energi masyarakat,” ujar dia saat ditemui di kantornya, Jakarta (3/3).

Airlangga mengatakan bahwa ketidakpastian durasi konflik tetap menjadi salah satu faktor yang akan menjadi perhatian pemerintah dalam pengambilan kebijakan selanjutnya. 

Pemerintah berkomitmen untuk terus mengawasi situasi global dan bersiap melakukan langkah antisipatif agar pasokan BBM tetap aman bagi kebutuhan nasional. 

Dampak langsung dan tidak langsung

Pengamat Ekonomi Universitas Paramadina Wijayanto Samirin mengatakan serangan AS-Israel terhadap Iran memberikan dampak langsung dan tidak langsung ke Indonesia. 

Dampak langsung berupa hambatan ekspor, mengingat mayoritas ekspor mobil Indonesia ke Timur Tengah melalui jalur selat Hormuz, ini berpotensi mengalami disrupsi. Selain itu, ketegangan Hormuz akan berdampak pada kenaikan harga minyak dunia yang akan meningkatkan biaya subsidi yang membebani APBN.

“Apalagi saat ini fiskal Indonesia sedang lemah,setiap kenaikan harga minyak sebesar USD 1 per-barrel, subsidi akan meningkat Rp3 Triliun,masalahnya jika kenaikan harga dilepas ke pasar, masyarakat akan semakin kehilangan daya beli,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (3/3).

Dampak tidak langsung lainnya datang melalui channel investasi dan keuangan. Ketidakpastian ini akan menyebabkan pemegang dana lebih nyaman menempatkan dananya di emas, USD atau mata uang kuat lainnya sehingga surat utang Indonesia semakin sulit mendapatkan pembeli, kecuali dengan bunga yang tinggi.

Pengendara motor antre mengisi BBM di salah satu SPBU kawasan Kuningan, Jakarta, Minggu (1/3/2026). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/bar)

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang memuncak pada serangan militer besar-besaran AS di wilayah Iran dalam beberapa hari terakhir, diperkirakan akan membawa dampak signifikan bagi industri logistik nasional. 

Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto menyampaikan kekhawatirannya tentang dampak langsung konflik tersebut pada sektor logistik di Tanah Air. Menurut Mahendra, perubahan rute penerbangan dan pelayaran akibat ancaman militer membuat pengiriman kargo dari dan ke kawasan Timur Tengah serta Eropa menjadi lebih rumit dan mahal. 

Ia memperingatkan bahwa jika konflik ini berlangsung lebih dari dua minggu, biaya logistik nasional bisa meningkat drastis hingga dua kali lipat dibanding tarif normal, memberikan tekanan besar pada biaya produksi dan distribusi barang di Indonesia.

“Lebih jauh lagi, eskalasi serangan dan potensi penutupan rute pelayaran utama seperti Selat Hormuz juga dikhawatirkan menciptakan efek domino terhadap biaya energi dan transportasi domestik,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (3/3).

Lonjakan harga minyak dunia yang turut menjadi efek dari konflik ini akan otomatis berpengaruh terhadap ongkos bahan bakar kendaraan logistik, sehingga berdampak pada harga barang konsumsi. Mahendra menegaskan bahwa pelaku industri logistik dan sektor terkait harus mulai mempersiapkan strategi adaptif untuk menghadapi risiko kenaikan biaya tersebut, sambil berharap penyelesaian konflik secara diplomatik agar gangguan pada jaringan pasokan global bisa diminimalkan.

Daftar untuk buletin SUAR Inspirasi Penggerak Dunia Usaha.

Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.

Silakan periksa kotak masuk Anda dan konfirmasi. Terjadi kesalahan. Silakan coba lagi.

Baca selengkapnya