Serangan Amerika Serikat (AS) ke Iran akhir pekan lalu yang merambat ke kawasan Timur Tengah berpotensi membuat industri kreatif Indonesia tertekan. Eskalasi konflik yang belum mereda itu berdampak pada terhambatnya kelancaran arus ekspor industri kreatif ke kawasan.
Pengusaha Busana Muslim Aya Sophia Madjid mengatakan pihaknya baru menjajaki ekspor ke kawasan Timur Tengah dan rencana tersebut untuk sementara ditunda menyusul meningkatnya ketidakpastian geopolitik akibat perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran di kawasan tersebut.
Founder merek Rumah Aya Sophia ini mengatakan bahwa meskipun mereka melihat potensi permintaan tinggi untuk produk kreatif Indonesia seperti fashion dan kerajinan tangan di pasar Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan negara Teluk lainnya, situasi konflik memunculkan risiko logistik dan keamanan yang belum dapat diabaikan.
“Ketidakpastian ini membuat pihak Rumahaya Sophia memilih untuk menahan pengiriman dan entry strategy sembari terus memantau perkembangan terbaru di kawasan,” ujar dia ketika ditemui di acara Laporan Capaian Pelatihan Shopee, di Kantor Shopee, Jakarta (4/3).
Usaha Aya umumnya dikenal memproduksi item seperti fashion, modest wear, atau produk gaya hidup yang menyasar pasar perempuan dan keluarga.
Menteri Ekonomi Kreatif /Kepala Badan Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan selama ini Indonesia merupakan pengekspor utama produk industri kreatif ke Timur Tengah.
Tiga subsektor ekonomi kreatif (ekraf) yang selama ini menjadi primadona dan menyumbang angka ekspor cukup tinggi ke pasar Timur Tengah antara lain fesyen (busana muslim), kuliner (makanan), dan kriya (kerajinan tangan).
"Permintaan tinggi dari kawasan tersebut menunjukkan potensi pasar yang besar bagi produk-produk kreatif Indonesia. Kami akan terus memantau pergerakan data ekspor secara ketat seiring dengan konflik geopolitik yang memanas di Timur Tengah," kata Riefky.
Secara keseluruhan, nilai ekspor sektor ekonomi kreatif Indonesia mencapai sekitar US$26,6 miliar–US$26,7 miliar sepanjang tahun 2025, dengan fashion dan kriya menjadi pendorong utama ekspor ini.
Pihaknya juga akan melakukan koordinasi intensif dengan instansi terkait seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, hingga Badan Pusat Statistik (BPS).
"Diskusi mendalam dengan berbagai pihak juga akan diselenggarakan untuk memetakan dampak spesifik terhadap ketiga subsektor ekraf yang menjadi andalan ekspor tersebut," ujar dia.
Antisipasi yang bisa dilakukan
Riefky menekankan pentingnya penguatan pasar domestik. Ia berharap merek-merek lokal tidak hanya berorientasi pada pasar ekspor, tetapi juga mampu menjadi pemain dominan di dalam negeri.
Ia berharap agar sektor industri kreatif dapat meniru ketangguhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang terbukti mampu bertahan di tengah badai pandemi COVID-19.
“UMKM dan sektor ekraf dapat kembali menjadi tulang punggung perekonomian nasional saat terjadi gangguan pada perdagangan internasional,” ungkap dia.
Di sisi lain, pemerintah juga secara aktif mendorong hilirisasi sektor ekraf untuk mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor. Upaya hilirisasi ini tidak hanya terbatas pada sektor pertambangan, tetapi juga merambah ke sektor-sektor kreatif seperti fesyen busana muslim, kuliner, hingga kerajinan tangan.
Menghadapi tantangan seperti perang global yang mempengaruhi perdagangan internasional, pelaku industri kreatif Indonesia dapat mengambil beberapa langkah strategis seperti fokus pada pasar domestik dengan meningkatkan kualitas dan variasi produk untuk memenuhi kebutuhan pasar lokal serta manfaatkan tren dan selera konsumen Indonesia.
"Diversifikasi pasar ekspor, jangan hanya terpaku pada satu atau dua pasar. Jelajahi potensi pasar baru di negara-negara yang relatif stabil secara geopolitik. Perkuat jaringan distribusi lokal dengan membangun kemitraan dengan platform e-commerce lokal, toko ritel, dan distributor yang memiliki jangkauan luas di Indonesia," kata dia.
Selain itu, Riefky mengatakan diperlukan Inovasi produk dan bahan baku dengan mendorong riset dan pengembangan untuk menciptakan produk kreatif yang menggunakan bahan baku lokal dan memiliki nilai tambah.
Pengamat Ekonomi Bright Institute Muhammad Andri Perdana mengatakan untuk mengantisipasi dampak konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran terhadap ekspor ke kawasan Timur Tengah, pelaku industri ekonomi kreatif Indonesia perlu memperkuat diversifikasi pasar dan strategi pemasaran.
Hal ini mencakup perluasan ke negara-negara di luar wilayah yang paling terdampak konflik, serta peningkatan penetrasi di pasar alternatif seperti Afrika, Asia Selatan, atau negara-negara ASEAN.
“Langkah diversifikasi ini tidak hanya mengurangi ketergantungan pada satu wilayah yang berisiko, tetapi juga memperluas peluang penjualan produk kreatif Indonesia seperti kuliner, fashion, dan kerajinan tangan kepada konsumen baru, sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal di pasar global,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (4/3).
Selain itu, peningkatan kapasitas pelaku usaha melalui sertifikasi internasional, teknologi digital, dan logistik yang adaptif menjadi strategi penting untuk menjaga kesinambungan ekspor di masa ketidakpastian.
"Kolaborasi erat antara pemerintah dan sektor swasta, termasuk pendampingan UMKM dalam memahami regulasi ekspor serta penggunaan platform digital untuk pemasaran lintas batas, dapat membantu mengantisipasi hambatan rantai pasok dan perubahan permintaan," kata dia.

Dorong UMKM go-digital
Riefky menambahkan Kementerian Ekonomi Kreatif menjalin kolaborasi strategis dengan platform e-commerce Shopee untuk mendorong pelaku UMKM meningkatkan penjualan dan memperluas pasar secara digital.
Kerja sama ini difokuskan pada pelatihan literasi digital, optimalisasi fitur pemasaran daring, hingga pendampingan ekspor bagi produk ekonomi kreatif unggulan. Melalui sinergi tersebut, pemerintah berharap semakin banyak UMKM yang mampu naik kelas dan meraih untung lebih besar di tengah persaingan pasar yang kian kompetitif.
Ia mengatakan, pemerintah terus mengupayakan akselerasi penyerapan tenaga kerja muda melalui penguatan sektor ekonomi kreatif berbasis digital. Salah satunya bahwa platform (e-commerce) seperti Shopee Indonesia menawarkan peluang konkret bagi generasi muda.
Profesi sebagai afiliator, mitra pedagang, hingga pelaku usaha daring diyakini mampu menjadi pintu masuk bagi jutaan penganggur untuk terjun ke dunia kerja.
"Apabila 82 persen dari total pengangguran saat ini dapat bertransformasi menjadi pelaku ekonomi digital, baik sebagai afiliator maupun penjual di platform daring, hal itu akan berdampak signifikan terhadap penurunan angka pengangguran terbuka kita," ujar Riefky.
Hingga saat ini, sektor industri kreatif tercatat telah menaungi sekitar 27,4 juta tenaga kerja. Menariknya, sektor ini menunjukkan tren pertumbuhan positif dengan penambahan 1 juta hingga 1,5 juta pekerja baru setiap tahunnya, yang didominasi oleh kelompok usia produktif atau generasi muda.
Kolaborasi yang sudah dijalankan selama setahun adalah program pelatihan digitalisasi Emak Matic dan GenMatic dimana program ini telah menjangkau hampir 3.000 peserta di delapan kota di Indonesia.
Shopee dan Kemenekraf memberikan apresiasi kepada peserta pelatihan dengan performa terbaik untuk masing-masing kategori.
- Pertama, kategori Penjual Shopee akan mendapatkan saldo iklan Shopee senilai Rp15 juta, bimbingan intensif bagi penjual, dan meningkatkan eksposur dan visibilitas produk melalui kanal Shopee Pilih Lokal.
- Kedua, kategori Merchant Shopee Food akan mendapatkan saldo iklan Shopee senilai Rp15 juta, dan pendampingan peningkatan eksposur toko merchant.
- Ketiga, kategori Affiliate akan mendapatkan voucher belanja senilai Rp15 juta, pelatihan eksklusif peningkatan eksposur di media sosial.

Literasi digital
Deputy Director Government Relations Shopee Indonesia Balques Manisang mengatakan peningkatan literasi digital berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi digital nasional.
“Peningkatan valuasi ekonomi digital di Indonesia naik lebih dari empat puluh persen dari 2021 ke 2025 ya. Ini lebih dari seratus miliar US Dollar dalam lima tahun terakhir,” ujar dia.
Ia menambahkan, dalam lima tahun terakhir angka literasi digital di Indonesia juga tumbuh signifikan.
Balques menjelaskan, melalui Kampus UMKM Shopee Kelas Online yang berdiri sejak 2021, Shopee telah melatih jutaan UMKM dari ratusan kota.
“Sudah lima ratus empat belas kabupaten dan kota yang sudah kita latih dan hampir empat ratus modul lebih pelatihan yang dibuat oleh tim Shopee sesuai kebutuhan UMKM,” ujar dia.