Penjualan Supercar di Indonesia Tunjukkan Tren Stabil

Penjualan dari segmen mobil super mewah, terutama merek-merek seperti Ferrari, terbukti masih memiliki basis peminat yang kuat di Tanah Air. 

Penjualan Supercar di Indonesia Tunjukkan Tren Stabil
Ferrari 296 GTB Dipajang di Showroom Ferrari, Jakarta (4/3/2026). Foto: Ridho/Suar.id.
Daftar Isi

Penjualan supercar di Indonesia tetap menunjukkan tren yang stabil meskipun kondisi ekonomi selalu bergejolak. Penjualan dari segmen mobil super mewah, terutama merek-merek seperti Ferrari, terbukti masih memiliki basis peminat yang kuat di Tanah Air. 

PT Eurokars Prima Utama (EPU) selaku agen pemegang merek (APM) Ferrari di Indonesia selalu optimistis melihat pasar otomotif di Indonesia khususnya untuk segmen supercar. 

General Manager PT Eurokars Prima Utama Nini Chiandra meskipun total pasar otomotif nasional dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan perubahan preferensi konsumen, segmen supercar tetap tumbuh karena jumlah pembelinya tidak banyak berubah secara drastis dari tahun ke tahun. 

Ferrari, sebagai salah satu merek supercar yang paling dikenal, terus dilirik konsumen Indonesia, dan permintaan untuk unit senilai puluhan miliar rupiah ini belum menunjukkan penurunan signifikan.

“Penjualan kami stabil dari tahun ke tahun, kalau untuk angka kami tidak bisa menyebutkan karena confidential begitu juga dengan nama pembelinya,” ujar dia dalam acara Ferrari Iftar Dinner di Jakarta (4/3/2026).

enariknya, tren terbaru menunjukkan bahwa bukan hanya kalangan pebisnis senior yang memburu supercar. Kelompok milenial berpenghasilan tinggi juga mulai masuk dalam daftar pembeli, terutama mereka yang melihat mobil sport eksotis sebagai bagian dari identitas diri dan gaya hidup. 

Aktivitas ini didorong oleh meningkatnya kemampuan finansial beberapa generasi muda yang mencapai puncak karier atau sukses melalui usaha digital dan investasi.

Dealer-dealer resmi Ferrari dan supercar lainnya juga mencatat bahwa komunitas pemilik kendaraan mewah di Indonesia semakin tumbuh, dengan kehadiran klub-klub otomotif dan event khusus yang mempertemukan pemilik dan calon pembeli. 

Hal ini memperkuat ekosistem pasar supercar di Indonesia, walaupun volume penjualan jelas tetap berada di kisaran terbatas oleh karakter segmennya yang sangat eksklusif. 

Penjualan mobil hybrid dari Ferrari terus menunjukkan daya tarik yang kuat di Indonesia, Model-model hybrid seperti Ferrari 296 GTB, 296 GTS, dan SF90 Spider sudah diperkenalkan secara resmi di Jakarta dan beberapa di antaranya bahkan masuk dalam daftar waiting list panjang karena tingginya minat pelanggan Indonesia.

Pajak yang membebani harga jual

Industri otomotif Indonesia tengah menghadapi tantangan serius akibat tingginya pajak kendaraan yang membebani harga jual mobil. 

Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, mengungkapkan bahwa pajak mobil di Indonesia termasuk yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

“Salah satu faktor penyebabnya adalah status mobil yang masih dikategorikan sebagai barang mewah, sehingga terkena Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Dampaknya, harga mobil terus naik sementara daya beli masyarakat tidak sebanding,” ujar dia dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (4/3/2026).

Baca juga:

Ekspor Mobil ‘Made in Indonesia’ Jadi Penopang Otomotif Nasional
ekspor mobil utuh/Completely Built-Up (CBU) tetap menjadi penopang terbesar ekspor.

Meski Indonesia masih menduduki posisi teratas penjualan mobil di ASEAN dengan pangsa pasar 25%, tren ini mengalami penurunan signifikan. Sementara itu, Malaysia menunjukkan pertumbuhan penjualan, bahkan menyalip Thailand yang biasanya berada di peringkat kedua.

Gaikindo menekankan perlunya kebijakan pajak yang lebih proporsional agar industri otomotif dapat bersaing sehat dan konsumen bisa mendapatkan mobil dengan harga yang lebih terjangkau. 

Perkuat layanan purna jual

Dihubungi terpisah, Pengamat Otomotif I Made Dana Tangkas mengatakan penjualan supercar di Indonesia dinilai tetap dapat terjaga stabil sepanjang para agen pemegang merek mampu mempertahankan eksklusivitas sekaligus memperkuat layanan purna jual. 

Segmen ini memang sangat terbatas dan menyasar konsumen kelas atas, sehingga pendekatan personal menjadi kunci. Merek seperti Ferrari, misalnya, dikenal menjaga hubungan erat dengan pelanggan melalui layanan kustomisasi, servis berkala premium, hingga undangan acara khusus yang membangun loyalitas jangka panjang.

“Strategi berikutnya adalah menghadirkan model terbaru yang relevan dengan tren global, termasuk varian hybrid berperforma tinggi yang kini semakin diminati kolektor muda,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (4/3).

Baca selengkapnya