Pengabdian Suster Cecilia Merawat Anak Difabel

Selama lebih dari dua dasawarsa, Suster Cecilia mengasuh ratusan anak difabel dari seluruh Jabodetabek. Kebahagiaan terbesarnya adalah belajar bersyukur dari ketidaksempurnaan anak-anak berkebutuhan khusus.

Pengabdian Suster Cecilia Merawat Anak Difabel
Suster Cecilia (dua dari kiri) bersama anak-asuhnya di halaman depan Wisma Asuh Anak & Orang Tua Kasih Abba di Curug, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, 3 Januari 2026 (Foto: Chris Wibisana/SUAR)

Jari-jemari itu tampak lihai bergerak di balik sinar matahari senja yang menyelinap masuk ke jendela di sebuah bangunan di pinggiran Jakarta. Di sebelahnya, ada tumpukan kain perca yang siap dijahit. Sementara di sudut lainnya, ada seorang anak perempuan remaja yang sedang menguleni adonan terigu dan beberapa butir telur untuk dijadikan berbagai makanan snack seperti kue bawang, dan stik keju.

Berbagai keterampilan seperti memasak, menjahit, merajut, dan memahat merupakan keterampilan yang diajarkan bagi anak-anak penghuni Wisma Kasih Abba, sebuah panti asuhan bagi anak berkebutuhan khusus di Curug, Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Selama hampir dua dasawarsa, Suster Cecilia Rukiyah, ALMA mengasuh total 119 anak penyandang disabilitas yang terdiri dari 60 anak usia 5-12 tahun, sementara 59 anak lain berusia antara 13-21 tahun dari berbagai wilayah di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek).

Tim SUAR berkesempatan mengunjungi panti itu pada 3 Januari 2026 lalu. Ia menyambut kami dengan hangat. Biarawati kelahiran Kulonprogo, Yogyakarta, 56 tahun lalu itu kemudian membawa kami ke sebuah ruangan di sayap timur bangunan berwarna biru muda itu.

Lebih dari 100 anak-anak dengan keterbatasan mental dan fisik tinggal di sini, jauh dari cibiran dan pandangan sinis masyarakat sekitar. Anak disabilitas memang kerap kali menjadi kaum yang menerima diskriminasi di lingkungan tempat tinggal maupun sekolah.

Tak jarang, orang atau anak berkebutuhan khusus justru menerima stigma buruk dari masyarakat sekitar. Di beberapa daerah, anak disabilitas masih dianggap sebagai hukuman atas dosa orang tua atau kutukan keluarga. Hal ini sering membuat keluarga merasa malu dan akhirnya menyembunyikan anak mereka di dalam rumah.

"Itu tidak benar! Tuhan menciptakan setiap anak dengan maksud tertentu. Kita yang dikaruniai Tuhan segala kelengkapan inilah yang membantu mereka memahami maksud dan rencana-Nya, dan membantu mereka belajar hidup mandiri, terampil, dan tidak menjadi beban orang lain," tegas Suster Cecilia saat berbincang dengan SUAR.

Menurut sebuah Laporan Dana Anak-anak Perserikatan Bangsa-bangsa (UNICEF), estimasi jumlah anak difabel usia sekolah di Indonesia ada sekitar 2,2 juta jiwa.

Sedangkan data secara umum total penyandang disabilitas di Indonesia pada 2024 diperkirakan 17,8 juta jiwa. Sebanyak 17,85% diantaranya merupakan usia di atas 5 tahun yang tidak pernah sekolah, demikian menurut Badan Pusat Statistik.

Sempat digusur

Masih segar dalam ingatan Suster Cecilia ketika ia mendapatkan tugas dari pimpinan Tarekat ALMA Puteri untuk memimpin sebuah yayasan. Sebelumnya, anak-anak Kasih Abba adalah penghuni Panti Asuhan Bhakti Luhur Jakarta.

Namun, akibat pembangunan jalan tol Serpong -Kunciran, bangunan empat lantai di Jalan R.E. Martadinata, Ciputat, itu harus dirobohkan. Wisma baru yang mulai ditempati pada 2018 silam diberi nama Wisma Kasih Abba.

"Awalnya berat untuk memikul tanggung jawab ini, tetapi saya sadar, ini adalah tugas mulia, dan sebagai biarawati, saya merasakan tanggung jawab ini adalah tanda kehadiran Tuhan. Jika bukan saya, siapa yang harus memperjuangkan hak mereka?" ucapnya membuka percakapan.

Suster Cecilia ingat, ketika itu, ia mendapat tenggat waktu kurang dari 6 bulan untuk mengosongkan bangunan, mencari tempat baru, dan memindahkan penghuni ke tempat baru.

Suster Cecilia Rukiyah, ALMA (tengah) saat menerima bingkisan dalam Perayaan Natal Bersama 2025. Foto: Dok. Pribadi

Penjajakan mencari tempat baru relatif tidak mudah. Berbagai tempat dikunjungi, tetapi tidak ada yang benar-benar cocok, sementara waktu terus mendekati tenggat pengosongan dan demolisi. Di tempat yang cocok, masyarakat setempat kurang dapat menerima, sementara di lingkungan yang cocok, ternyata areal lahan yang tersedia kurang memadai. Setelah melalui diskusi hampir tiga bulan, sebuah lokasi di Gunung Sindur berhasil diamankan.

"Saya ingat, ketika itu seorang tokoh masyarakat mengatakan, 'Kalau tujuan tempat ini memang untuk menolong orang, kami akan sepenuhnya menerima.' Bagi saya, ini sangat menyentuh dan membangkitkan motivasi kami," ucap Suster Cecilia.

Melibatkan mereka

Wisma Kasih Abba di Gunung Sindur adalah satu dari 6 panti asuhan anak-anak difabel yang dikelola Yayasan Bhakti Luhur. Didirikan Pater Paulus Hendrikus Janssen, CM (1922-2017) di Malang, Jawa Timur, pada 1959, yayasan ini dikelola Tarekat ALMA Puteri, komunitas biarawati sekular yang fokus melayani anak-anak berkebutuhan khusus dan tersebar di 22 keuskupan di seluruh Indonesia.

"Prinsipnya kami sekamar, serumah, semeja makan, dan selalu berada di tengah anak-anak. Mereka adalah majikan, dan kami telah mengikrarkan kaul hidup bakti untuk melayani mereka," ucap Suster Cecilia dengan bangga.

Keterlibatan masyarakat yang simpati kepada anak-anak, menurut Suster Cecilia, sama pentingnya dengan melibatkan anak-anak agar kehadiran mereka dianggap dan diperhitungkan, menekankan bahwa mereka tetap memiliki kemampuan dengan cara yang berbeda. 

Untuk mencapai maksudnya, anak-anak Kasih Abba melaksanakan agenda dengan disiplin yang ketat, tetapi tidak mengekang. Sesudah bangun pagi, mandi, dan sarapan, setiap anak mulai masuk dalam kelas-kelas kecil untuk belajar sesuai kebutuhan dan keterampilan mereka.

Menemukan minat dan bakat anak-anak difabel bukan sesuatu yang mudah, tetapi dengan tuntunan serta motivasi, mereka mengembangkan sebuah hobi yang akhirnya ditekuni secara terus-menerus hingga mencapai kemahiran.

Anak-anak Kasih Abba belajar bermain alat musik angklung. Foto: Dok. Pribadi

Kegiatan "sekolah" berlangsung hingga pukul 12.00. Setelah makan siang, anak-anak dapat mengerjakan PR atau membantu kegiatan kerumahtanggaan seperti mencuci pakaian dan menyeterika baju hingga pukul 15.00.

Selama tiga jam berikutnya, mereka dapat menekuni hobi olahraga, kesenian, atau kerohanian. Tepat pukul enam petang, lonceng berbunyi memanggil mereka ke ruang makan untuk santap malam. Pukul delapan, semua anak wajib kembali ke kamar tidur.

"Ilmu dan keterampilan yang kami ajarkan seluruhnya adalah bekal hidup dan keterampilan yang memungkinkan anak-anak memiliki tabungan dan menata kemampuan finansial. Terkadang, mereka yang sudah lebih cakap membantu temannya belajar menabung dari penghasilan membuat kerajinan, kriya, dan camilan," kisah Suster Cecilia.

Lampu meja dan makanan ringan hasil kerajinan anak-anak penghuni Wisma Kasih Abba, Gunung Sindur, Bogor. (Foto: SUAR/Chris Wibisana)

Tidak selamanya usaha mendidik dan melibatkan anak-anak itu disambut baik. Ada di antara mereka yang sulit bicara dan mengungkapkan perasaan, mudah letih karena daya tahan tubuh yang kurang baik, atau cepat frustrasi.

Bagi Suster Cecilia, perilaku tantrum anak-anak difabel bukanlah cara mereka mencari perhatian, melainkan ungkapan kelelahan yang tak tersampaikan lewat kata-kata.

"Kita melatih kepekaan dengan bertanya apakah mereka capek, apakah mau istirahat. Orang-orang yang tidak memahami seringkali tidak sabar dan tidak mau menerima sifat ini, lalu memperlakukan mereka tanpa empati. Padahal, bukan hanya kesabaran, mereka butuh pendampingan dan pengertian," tukasnya.

Mandiri

Terdiri dari 2 lantai, wisma seluas hampir 3.000 meter persegi itu memiliki total 24 kamar yang dihuni 4-6 anak per kamar. Di belakang Wisma, taman dan kebun luas menjadi tempat anak-anak belajar dekat dengan alam dan memelihara bermacam-macam tanaman.

Anak-anak Kasih Abba belajar berkebun dan merawat tanaman. (Foto: Dok. Pribadi)

Secara berkala, kata dia, anak-anak yang memiliki bakat dalam kesenian mendapatkan kesempatan untuk mengisi paduan suara dalam berbagai kegiatan di gereja.

Selain itu, atas permintaan seorang pastor, setiap misa besar seperti perayaan Natal dan Paskah, salah satu misa menyediakan satu baris kursi khusus untuk anak-anak difabel.

"Saya percaya setiap kali mendampingi mereka beribadah, saya mengantarkan tamu-tamu Tuhan yang paling akrab dan dekat dengan-Nya. Penyediaan kursi khusus itu bukan sekadar empati, tetapi tanda bahwa Gereja memberikan perlakuan bagi anak-anak setara dengan umat lain. Saya sangat bersyukur karena Gereja semakin terbuka bagi anak-anak ini," tutur Suster Cecilia.

Selain pendampingan rohani, Suster Cecilia juga secara berkala mengundang psikolog untuk pemeriksaan kesehatan mental anak-anak maupun terapis untuk memberikan layanan fisioterapi bagi anak-anak penghuni yang membutuhkan.

Setiap pergantian tahun dan tutup pembukuan, tak lupa Suster Cecilia membuat perencanaan "kurikulum" ke depan yang khusus bagi anak-anak Kasih Abba.

"Anak-anak usia 15 tahun ke atas akan menjalani transisi kemandirian seperti keterampilan memasak, membuat kerajinan, dan kemampuan rumah tangga. Yang sudah dewasa dan sudah 18 tahun, bisa dipekerjakan membantu usaha katering, menjadi mekanik atau montir, atau membantu administrasi panti lain," ungkap Suster Cecilia.

Dari uang saku atau upah yang diperoleh, tabungan setiap anak disimpan khusus dan anak-anak belajar mengelola keuangannya masing-masing. Ke depan, Suster Cecilia berharap masyarakat semakin terbuka dan bersedia menerima kehadiran anak-anak difabel dan membukakan kesempatan bagi mereka untuk dapat dipekerjakan.

"Dengan segala perbedaan, kesulitan, dan keterbatasan yang mereka miliki, mereka tidak lahir ke dunia hanya untuk dikasihani seumur hidup, tetapi diperlakukan dengan hormat, setara, dan mendapat kesempatan yang adil mengupayakan masa depan yang lebih baik," pungkasnya.

Suster Cecilia mengatakan ia merasakan kebahagiaan saat melihat anak asuhnya bisa mandiri dan bersyukur atas nikmat.

"Saat mereka bisa mengajarkan saya lebih bersyukur, mengingatkan saya pada panggilan saya sebagai biarawati, saya merasakan rahmat yang sungguh luar biasa," ujar dia.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya