Industri tekstil dan garmen Indonesia tengah menunjukkan dinamika yang menarik dalam tiga tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor industri tekstil sempat mengalami fluktuasi. Pada tahun 2025 tercatat sebesar 1,42 juta ton dengan nilai 3,29 miliar dolar AS, sedikit menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Sebaliknya, industri pakaian jadi menunjukkan tren pertumbuhan nilai yang jauh lebih stabil dan menjanjikan. Terdapat peningkatan dari 8,04 miliar dolar AS di tahun 2023 menjadi 8,79 miliar dolar AS pada akhir 2025. Perbedaan tren ini mengindikasikan bahwa produk hilir yang memiliki nilai tambah tinggi (pakaian jadi) menjadi tulang punggung utama devisa negara di sektor padat karya.
Khusus untuk pasar Amerika Serikat, sektor pakaian jadi tampil sebagai komoditas unggulan dengan angka yang sangat dominan. Komoditas pakaian jadi (konveksi) dari tekstil mencatatkan angka ekspor mencapai lebih dari 168 juta kg dengan nilai menembus 4 miliar dolar AS. Diikuti oleh produk pakaian jadi rajutan senilai 802 juta dolar AS serta perlengkapan pakaian dari tekstil sebesar 123 juta dolar AS. Sementara di sisi industri hulu (tekstil), kategori komoditas barang tekstil lainnya memimpin dengan nilai 78,9 juta dolar AS.

Tren ekspor Indonesia ke Amerika Serikat menunjukkan dominasi yang timpang antara sektor industri pakaian jadi (hilir) dibandingkan dengan industri tekstil (hulu/antara). Data BPS mencatat bahwa produk Pakaian jadi (konveksi) dari tekstil menjadi tulang punggung utama dengan volume mencapai 168,9 juta kg dan nilai yang sangat fantastis, yakni 4,01 miliar dolar AS.
Jika dibandingkan dengan komoditas di kategori industri tekstil seperti Benang pintal yang hanya bernilai 42,7 juta dolar AS, terlihat jelas bahwa pasar Amerika Serikat memiliki permintaan yang sangat tinggi terhadap produk akhir siap pakai dari Indonesia ketimbang bahan baku setengah jadi.
Adanya The Agreement on Reciprocal Trade (ART) 2026 membawa mekanisme Tariff-Rate Quota (TRQ) sebagai penyelamat industri di tengah ancaman tarif resiprokal yang tinggi. Mekanisme ini memberikan jalur hijau berupa tarif 0% bagi volume ekspor tertentu produk tekstil dan pakaian jadi Indonesia.
Namun, jika menilik tren agregat dari tahun 2023 hingga 2025, terlihat adanya pergerakan yang kontras pada sisi volume dan nilai. Pada sektor Industri Pakaian Jadi, meskipun volume ekspor tumbuh dari 346 ribu ton di 2023 menjadi 394,5 ribu ton di 2025, nilai ekspornya melompat lebih signifikan dari 8,04 miliar dolar AS menjadi 8,79 miliar dolar AS.
Kenaikan nilai yang lebih tinggi daripada kenaikan volume ini menunjukkan adanya peningkatan unit value atau harga jual rata-rata produk Indonesia di pasar AS, yang kemungkinan dipicu oleh pergeseran ke produk dengan kualitas lebih premium atau efisiensi biaya logistik. Sebaliknya, Industri Tekstil justru mengalami tekanan dengan penurunan nilai ekspor dari 3,62 miliar dolar AS (2023) menjadi 3,29 miliar dolar AS (2025).
Untuk mempertahankan daya saing produk unggulan tersebut, masa depan pertumbuhan ekspor ke AS berpeluang pada kemampuan Indonesia menjaga daya saing produk pakaian jadi melalui mekanisme Tariff-Rate Quota (TRQ) tarif 0%.
Dengan TRQ, eksportir Indonesia tidak perlu lagi memikul beban pajak impor yang mahal selama masih berada dalam kuota yang disepakati. Hal ini sangat krusial mengingat negara pesaing seperti Vietnam telah lebih dulu menikmati fasilitas serupa melalui berbagai perjanjian perdagangan bebas.
Penerapan tarif 0% melalui skema TRQ ini diprediksi akan mengubah peta persaingan secara signifikan. Bagi sub-sektor unggulan seperti pakaian jadi konveksi dan pakaian jadi dari kulit yang memiliki nilai ekspor tinggi, penghapusan tarif ini akan memperlebar margin keuntungan bagi produsen lokal. Sehingga, harga produk Indonesia di Amerika Serikat akan menjadi jauh lebih kompetitif.
Keuntungan dari mekanisme TRQ hingga 0% ini akan terciptanya stabilitas bagi lebih dari 4,5 juta tenaga kerja di industri tekstil dan pakaian jadi nasional. Dengan hilangnya hambatan tarif, Indonesia memiliki peluang besar untuk melakukan ekspansi volume ekspor guna mengisi kuota yang tersedia secara maksimal.