Petani membutuhkan benih yang berkualitas guna meningkatkan produktivitas. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mendorong nilai tukar petani (NTP) yang tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Desember 2025 naik 1,05% menjadi 125,35, atau naik 1,05 persen dibandingkan dengan November 2025. Capaian ini menegaskan semakin membaiknya kesejahteraan rumah tangga pertanian di seluruh Indonesia.
Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan petani bisa menerapkan sejumlah upaya untuk meningkatkan produktivitas.
"Salah satunya adalah dengan menggunakan benih berkualitas, pupuk yang tepat, dan didukung dengan teknologi pertanian dan mesin yang canggih," kata Sutarto dihubungi SUAR di Jakarta, Selasa (6/1/2025).
Selain itu, petani juga bisa menanam komoditas dengan permintaan tinggi agar hasilnya bisa bernilai tambah tinggi. "Itu jelas akan mendorong NTP berkelanjutan," kata dia.
Menurut dia, NTP yang meningkat membuat petani mempunyai pendapatan lebih tinggi, surplus dari harga jual produk yang lebih tinggi dibandingkan biaya produksi pupuk, benih meningkatkan pendapatan bersih petani.
"Peningkatan pendapatan berdampak langsung pada kualitas hidup keluarga petani, memberikan rasa aman dan kepercayaan diri," kata dia.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, menjelaskan kenaikan NTP ini terjadi karena Indeks Harga yang Diterima Petani (It) melonjak sebesar 2,08 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) yang hanya 1,02 persen.
"Kondisi ini menunjukkan bahwa posisi tawar petani semakin menguat dan usaha pertanian semakin menguntungkan," kata Pudji.
Lonjakan NTP Desember 2025 terutama didorong oleh kinerja impresif subsektor hortikultura yang mencatat kenaikan NTP sangat signifikan sebesar 14,48 persen. Selain itu, komoditas lain juga tercatat memengaruhi peningkatan, mulai dari gabah, cabai rawit, kakao, dan ayam ras pedaging.
Selain itu, secara kumulatif, sepanjang Januari–Desember 2025, NTP nasional mencapai 123,26, atau meningkat 3,04 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024.
Kenaikan NTP Desember 2025 dipengaruhi oleh naiknya NTP di tiga subsektor pertanian, yaitu Subsektor Tanaman Hortikultura sebesar 14,48 persen,Subsektor Peternakan sebesar 0,77 persen dan Subsektor Perikanan sebesar 0,42 persen.
Dalam keterangan resminya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan angka ini mencerminkan meningkatnya daya beli petani, seiring membaiknya harga hasil pertanian dan terkendalinya biaya produksi serta konsumsi rumah tangga.
"Swasembada pangan tidak lagi dimaknai semata sebagai kecukupan stok, tetapi sebagai jalan menuju petani yang lebih sejahtera," ujar dia.
Secara wilayah, capaian positif NTP terjadi secara luas. Sebanyak 22 dari 38 provinsi mencatat kenaikan NTP, dengan Provinsi Gorontalo menjadi yang tertinggi secara nasional, naik 5,60 persen di bulan Desember.
Capaian ini menunjukkan bahwa penguatan sektor pertanian tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga dirasakan nyata hingga ke daerah. Secara keseluruhan, lonjakan NTP pada Desember 2025 menjadi bukti nyata bahwa sektor pertanian Indonesia semakin tangguh, produktif, dan menguntungkan.

Indikator utama
Menanggapi hal tersebut, Pengamat Pertanian IPB Dwi Andreas mengatakan manfaat utama Nilai Tukar Petani (NTP) adalah sebagai indikator kesejahteraan dan daya beli petani, mengukur kemampuan petani menukar hasil panen dengan kebutuhan produksi dan konsumsi.
NTP di atas 100 berarti surplus kesejahteraan meningkat, di bawah 100 defisit berarti kesejahteraan menurun.
“NTP juga menjadi alat ukur keberhasilan pembangunan pertanian, mengukur daya saing produk, serta menjadi data penting untuk perumusan kebijakan ketahanan pangan nasional.” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (6/1).
Data NTP digunakan pemerintah untuk mengevaluasi keberhasilan pembangunan pertanian dan merumuskan kebijakan yang tepat sasaran, seperti subsidi atau program penguatan.
Terkait harga beras, BPS melaporkan rata-rata harga beras di penggilingan pada Desember 2025 secara total naik 1,26 persen secara bulanan (month-to-month), dan naik sebesar 6,38 persen secara tahunan (year-on-year).
Jika dipilah menurut kualitas beras di penggilingan, harga beras premium tercatat naik 2,62 persen secara m-to-m dan naik 6,92 persen secara y-on-y. Sementara beras medium naik 0,67 persen secara m-to-m dan naik 6,72 persen secara y-on-y.
Selanjutnya untuk inflasi beras di tingkat grosir serta eceran pada Desember 2025, di tingkat grosir terjadi inflasi beras sebesar 0,22 persen secara month-to-month, dan juga terjadi inflasi beras sebesar 5,00 persen secara year-on-year. Sedangkan di tingkat eceran terjadi inflasi beras sebesar 0,18 persen secara month-to-month, dan juga terjadi inflasi beras sebesar 3,64 persen secara year-on-year.