Surplus Neraca Perdagangan yang Menipis dan Tantangan Tarif Resiprokal Serta Perang AS-Iran

Kendati masih surplus, namun besaran surplus mengecil bila dibandingkan Desember 2025 yang sebesar USD2,51 miliar. Ke depa, Indonesia akan dihadapkan pada dua tantangan besar yakni kesepakatan tarif resiprokal Indonesia-Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik pasca serangan AS-Israel ke Iran.

Surplus Neraca Perdagangan yang Menipis dan Tantangan Tarif Resiprokal Serta Perang AS-Iran
Foto udara truk kontainer melintasi susunan peti kemas di Pelabuhan Kendari New Port, Kendari, Sulawesi Tenggara, Minggu (8/2/2026). ANTARA FOTO/Andry Denisah/nz
Daftar Isi

Indonesia mempertahankan surplus neraca perdagangan selama 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020, ini tercermin dari kinerja neraca perdagangan Januari 2026 yang surplus USD0,95miliar. Kendati masih surplus, namun besaran surplus mengecil bila dibandingkan Desember 2025 yang sebesar USD2,51 miliar.

Ke depan, Indonesia akan dihadapkan pada dua tantangan besar yakni kesepakatan tarif resiprokal Indonesia-Amerika Serikat (AS) dan ketegangan geopolitik pasca serangan AS-Israel ke Iran. Lantas Bagaimana perdagangan internasional ke depan?

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai total ekspor Indonesia pada Januari 2026 sebesar USD 22,16 miliar, naik 3,39% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Year on Year/YoY) . Sementara itu, nilai total impor Indonesia pada Januari 2026 sebesar USD 21,20 miliar, naik 18,21% YoY. Dengan demikian Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan pada Januari 2026 sebesar USD 0,95 miliar.

Dalam Rilis Berita Resmi Statistik di Jakarta, Senin (2/3/2026), Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, kenaikan ekspor ditopang oleh ekspor non migas yang pada Januari 2026 mencapai 4,38% YoY sehingga menjadi USD 21,26 miliar. Sementara itu ekspor migas pada Januari 2026 turun 15,26% YoY menjadi USD 0,89 miliar.

Ateng menjelaskan, capaian ekspor nonmigas pada awal tahun tidak terlepas dari peningkatan nilai ekspor dari sektor manufaktur yang tumbuh 8,19% YoY, didorong peningkatan ekspor CPO, nikel, besi dan baja, semikonduktor, komponen elektronik, serta ekspor kendaraan roda empat atau lebih. Capaian tertinggi diraih nilai ekspor CPO dan turunannya yang naik 59,63% YoY menjadi USD 2,29 miliar.

Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi tiga negara tujuan ekspor utama Indonesia pada Februari 2026. Nilai ekspor nonmigas ke Tiongkok menduduki tempat tertinggi sebesar USD 5,27 miliar, didominasi komoditas besi dan baja. Sementara itu, ekspor ke AS dan India masing-masing mencapai USD 2,51 miliar dan USD 1,52 miliar dengan komoditas dominan mesin dan perlengkapan elektronik ke AS dan bahan bakar mineral ke India.

Baca juga:

Dinamika Baru Perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat
Hubungan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pada sektor non-migas. Kesepakatan baru yang dicapai lewat The Agreement on Reciprocal Trade (ART) diharapkan dapat memperkuat hubungan dagang kedua negara.

Penyempitan surplus neraca perdagangan tidak lepas dari kenaikan impor secara signifikan, terdiri dari kenaikan impor migas 27,52% YoY senilai USD 3,17 miliar dan kenaikan impor nonmigas 16.52% YoY senilai USD 18,04 miliar. Secara rinci, impor barang konsumsi naik 11,81% menjadi USD 1,84 miliar; impor bahan baku/penolong naik 14,67% menjadi USD 14,88 miliar; dan impor barang modal naik 35,23% menjadi USD 4,49 miliar.

“Impor tiga komoditas utama mesin/perlengkapan elektronik, mesin/peralatan mekanis, dan plastik/barang dari plastik memiliki andil 37,54% terhadap total impor nonmigas. Nilai impor mesin/perlengkapan elektrik naik 29,54% menjadi USD 2,92 miliar; impor mesin/peralatan mekanis naik 12,09% menjadi USD 2,90 miliar; sementara impor plastik/barang dari plastik naik 5,92% menjadi USD 0,95 miliar,” ujar Ateng.

Secara kumulatif, impor ketiga komoditas tersebut telah memicu defisit pada neraca perdagangan sebesar USD 2,27 miliar. Akibatnya, dengan surplus kumulatif hanya mencapai USD 3,22 miliar, surplus neraca perdagangan bulan Januari 2026 memecahkan rekor surplus terendah sejak Januari 2021 yang mencapai USD 1,96 miliar

“Surplus yang menipis disebabkan penurunan ekspor yang lebih dalam dibandingkan  penurunan impor, dari sektor migas maupun nonmigas. Terkait ada atau tidaknya efek penerapan tarif resiprokal dalam penurunan kinerja ini masih memerlukan kajian lebih lanjut, tetapi berdasarkan grafik, surplus perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat masih menjadi penyumbang surplus terbesar neraca total maupun neraca nonmigas,” jelas Ateng.

Efek samping pro-growth

Kepala Penelitian Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman menengarai performa kinerja ekspor yang lebih lambat dibandingkan kinerja impor tidak lepas dari postur kebijakan fiskal, moneter, dan industrial pro-growth yang mendorong permintaan impor, sementara perang dagang dan perlambatan ekonomi global menghambat kinerja ekspor yang mengimbanginya.

“Akselerasi impor hingga 18,21% YoY merupakan hasil dorongan kebijakan pro-growth yang meningkatkan permintaan domestik. Karena itu, meskipun surplus neraca perdagangan ke depan tetap bertahan, tetapi penipisan bertahap tetap tidak terhindarkan,” ucap Faisal saat dihubungi, Senin (2/3/2026).

Baca juga:

Pemerintah Percepat Belanja Rp809 Triliun untuk Kejar Target Pertumbuhan Kuartal Pertama
percepatan belanja pemerintah sebesar Rp809 triliun menjadi salah satu upaya menjaga momentum pertumbuhan Kuartal-I yang diharapkan mencapai 5,5%.

Ia mengingatkan bahwa kinerja ekspor tahun lalu yang memungkinkan tercapainya surplus neraca perdagangan tahunan USD 41,05 miliar tidak terlepas dari faktor front-loading ke AS yang tidak berulang di tahun ini, sementara tekanan harga bahan bakar akibat ketegangan konflik di Timur Tengah akan menaikkan biaya logistik yang berimbas pada kenaikan nilai impor secara kumulatif.

“Meski demikian, implementasi perjanjian tarif resiprokal Indonesia-AS dapat mendukung kinerja ekspor dan membantu pembatasan pelebaran neraca pembayaran, terutama jika Indonesia dapat memaksimalkan manfaat dari pembebasan tarif terhadap komoditas ekspor utama Indonesia ke AS dengan andil yang substansial,” ujarnya.

Efisien, tetapi adaptif

Mengantisipasi potensi disrupsi rantai pasok akibat eskalasi konflik AS-Iran, Founder dan CEO Supply Chain Indonesia Setijadi menyarankan agar eksportir Indonesia dengan tujuan atau melewati kawasan Timur Tengah untuk mengedepankan strategi “efisien tetapi adaptif”. Artinya, biaya logistik tetap ditekan bersamaan dengan menaikkan fleksibilitas rute dan kontrak.

“Ketergantungan pada satu chokepoint seperti Selat Hormuz perlu dikurangi melalui perencanaan rute alternatif yang sudah disiapkan sejak awal, bukan menunggu gangguan terjadi,” ucap Setijadi kepada SUAR.

Secara operasional, Setijadi menilai perusahaan perlu menyiapkan routing playbook berlapis: jalur utama sesuai skenario normal, jalur alternatif yang meminimalkan ketergantungan pada Teluk bagian dalam, dan jalur fallback jika terjadi pembatasan transit berupa pengalihan ke rute yang lebih aman meski lebih panjang. Penggunaan pelabuhan buffer di luar titik risiko tinggi, dilanjutkan dengan short-sea shipping atau distribusi darat regional dapat mengurangi risiko total kegagalan pengiriman.

“Optimalisasi pemakaian kontainer dan konsolidasi muatan menjadi krusial untuk mengimbangi potensi kenaikan premi risiko dan biaya tambahan akibat delay. Strategi memecah pengiriman besar menjadi beberapa batch atau carrier berbeda juga dapat menurunkan risiko keterlambatan total. Selain itu, negosiasi klausul fleksibel dalam kontrak seperti opsi rerouting, rebooking, atau tambahan free time sangat menentukan dalam mengendalikan biaya tak terduga,” jelas Setijadi.

Dari sisi strategis, eksportir perlu meningkatkan koordinasi aktif dengan forwarder dan carrier dalam penilaian risiko rute secara berkala. Informasi keamanan maritim dan perkembangan geopolitik mutlak diperlukan dalam pengambilan keputusan logistik, mengingat kecepatan switching rute menjadi faktor kunci efisiensi dalam situasi fluktuatif.

“Dalam kondisi risiko tinggi, pengaturan ulang pembagian tanggung jawab freight dapat membantu mengelola eksposur biaya dan risiko. Untuk barang bernilai tinggi atau mendesak, kombinasi pengiriman laut dan udara secara selektif dapat menjaga kontinuitas pasokan. Efisiensi dalam situasi krisis bukan hanya soal tarif terendah, tetapi tentang ketahanan struktur distribusi dan kelincahan pengambilan keputusan,” pungkas Setijadi.

Baca juga:

Ramalan Guncangan Perekonomian dari Serangan AS-Israel ke Iran
Ketegangan AS-Israel dengan Iran akan menciptakan ketidakpastian global yang berdampak luas tak hanya pada perekonomian global namun juga merembet ke Tanah Air.

Dihubungi secara terpisah, Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno menyatakan efek penutupan Selat Hormuz telah tampak dari kenaikan harga minyak dunia yang saat ini telah mencapai 10% dan akan berlanjut apabila konflik terjadi berkepanjangan. 

“Hal ini akan memengaruhi biaya logistik secara langsung, tetapi untuk nominal kenaikan, kami masih menunggu offering kenaikan dari perusahaan-perusahaan pelayaran,” ucap Benny saat dihubungi.

Apabila eskalasi berjalan, Ketua Umum Asosiasi Produsen Serat dan Benang Filamen Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengungkapkan industri tekstil dan produk tekstil berisiko menghadapi gangguan pasokan monoetilen glikol (MEG), komponen utama dalam produksi serat poliester yang menopang ekspor nasional. Saat ini, ketergantungan Indonesia impor MEG dari kawasan Timur Tengah telah mencapai 85%.

“Jika jalur distribusi terganggu, produksi serat sintetis dapat tersendat dan berdampak langsung pada ekspor tekstil, terutama ke pasar Eropa dan Amerika Serikat. Kita coba alihkan impornya dari Malaysia, tetapi stok MEG saat ini masih cukup untuk di atas 2 bulan,” ucap Redma di Jakarta, Senin (2/3/2026).

Dari segi harga, MEG dari Timur Tengah relatif lebih murah dari Malaysia, tetapi pengalihan saat ini merupakan langkah realistis untuk menjaga stabilitas produksi dan ekspor tekstil nasional. Di samping itu, senada dengan Benny, Redma memastikan biaya logistik akan naik akibat kenaikan premi asuransi dan potensi perpanjangan rute pelayaran yang menambah waktu transportasi.

“Ekspor ke Eropa pasti akan terganggu karena biaya logistik dan waktu pengiriman. Ini akan mengganggu kinerja ekosistem secara keseluruhan. Untuk menjaga dan memperbaiki kinerja, pemerintah perlu mengatur kebijakan untuk mendorong industri menguasai pasar domestik yang saat ini masih dikuasai produk impor hingga 60%,” cetusnya.



 

 

 

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya