Momentum Lebaran kembali menjadi pendorong utama peningkatan penjualan minuman ringan di dalam negeri. Tradisi berkumpul bersama keluarga, silaturahmi, hingga menjamu tamu membuat kebutuhan akan minuman kemasan meningkat signifikan.
Pelaku industri mencatat, selama periode ini terjadi lonjakan penjualan sekitar 5%-10% dibandingkan hari normal, seiring meningkatnya konsumsi rumah tangga.
Ketua Umum Asosiasi Minuman Ringan (Asrim) Triyono Prijosoesilo menuturkan kenaikan tersebut juga dipengaruhi oleh tingginya mobilitas masyarakat selama arus mudik dan libur Lebaran.
“Banyaknya perjalanan jarak jauh serta aktivitas di luar rumah mendorong konsumen memilih minuman yang praktis dan mudah dibawa. Selain itu, kondisi cuaca yang cenderung panas turut meningkatkan permintaan minuman yang menyegarkan, sehingga produk minuman ringan menjadi pilihan utama di berbagai kesempatan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (26/3/2026).
Di sisi lain, produsen dan distributor telah mengantisipasi lonjakan ini dengan memperkuat stok dan memperluas jaringan distribusi hingga ke daerah-daerah tujuan mudik.
Jenis produk yang paling digemari adalah jus kemasan, teh kemasan dengan berbagai varian rasa.
Kenaikan omzet toko oleh-oleh
Momentum libur lebaran ternyata menjadi kesempatan baik bagi para pemudik atau pelancong untuk memboyong buah tangan khas dari daerah setempat. Sebagai dampaknya, toko oleh-oleh pun mengalami lonjakan pengunjung, bahkan hingga beberapa kali lipat dibanding hari-hari normal.
Salah satunya dirasakan toko oleh-oleh Aneka Sari Rasa di Kota Bandar Lampung. Sejak Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada Sabtu (21/3), toko tersebut nyaris tidak pernah sepi pengunjung dan area parkir pun selalu dipadati kendaraan.
Di dalam toko, pengunjung terlihat memborong buah tangan khas Lampung, seperti keripik pisang, kerupuk kemplang, hingga sambal khas Lampung.
Supervisor Toko Aneka Sari Rasa, Arya Astawan, mengungkapkan bahwa tingkat kunjungan selama libur Lebaran tahun ini meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, ia tidak merinci angka pasti kenaikan omzet maupun jumlah pengunjung.
"Yang mempengaruhi peningkatan kunjungan ini karena banyak pemudik dari Jabodetabek yang datang ke Lampung," jelas Arya, dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta (26/3/2026).
Baca juga:

Bahkan menurutnya, ada kemungkinan toko oleh-olehnya akan semakin ramai di sisa pekan ini. Pasalnya, berkaca dari situasi di tahun-tahun sebelumnya, pelancong asal Sumatera Selatan umumnya akan berbondong-bondong berkunjung ke Lampung menjelang akhir masa libur lebaran.
Situasi serupa juga terjadi di pusat oleh-oleh Purnama Jati di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Sejak H+1 Idul Fitri, toko ini seolah-olah tidak pernah sepi pengunjung dari pagi hingga malam. Para pengunjung umumnya memburu kudapan khas seperti prol tape serta kacang edamame.
Amalia, salah satu pegawai Purnama Jati, mengakui bahwa tokonya mengalami kenaikan pengunjung secara signifikan setelah Hari Raya Idulfitri dibanding hari-hari biasanya. Adapun menurutnya, mayoritas pengunjung merupakan pelancong yang berasal dari luar Jember yang penasaran dengan oleh-oleh khas wilayah tersebut.
"Kenaikannya cukup signifikan. Sebagai gambaran, jika kami biasanya menerima 30 pengunjung di hari biasa, mungkin di masa mudik dan libur lebaran kali ini kami bisa menerima hingga 100 pengunjung per hari,” tutur Amalia.
Momentum untuk promosi produk lokal
Sementara itu, para pengunjung mengaku sengaja memanfaatkan momentum pulang kampung dan libur Lebaran untuk memborong oleh-oleh. Alasannya pun beragam, mulai dari dibagikan kepada kerabat hingga memperkenalkan produk unggulan khas daerah.
Salah satunya Vivi, pengunjung toko oleh-oleh Purnama Jati yang juga merupakan warga asli Jember. Pada periode pulang kampung kali ini, ia mengaku membeli beberapa bungkus kopi asal Jember untuk dibagikan kepada rekan-rekan kerjanya di Jakarta.
"Kopi jember ini memang enak, cuma tidak banyak orang tahu. Jadi saya manfaatkan masa-masa mudik ini untuk membeli kopi agar teman-teman saya mengenal kopi asal Jember," tuturnya.

Di sisi lain, Ikey, pengunjung toko Aneka Sari Rasa di Lampung, mengatakan akan membagikan oleh-oleh tersebut kepada kerabat-kerabatnya di Subang, Jawa Barat.
Industri F&B penopang PDB
Kementerian Perindustrian menegaskan posisi industri makanan dan minuman (mamin) sebagai sektor andalan dan penopang utama ekonomi nasional harus terus dijaga.
Sektor ini didukung oleh sumber daya alam yang melimpah dan permintaan domestik yang kuat, sektor ini terus menunjukkan kinerja impresif yang melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengungkapkan bahwa industri mamin berhasil tumbuh sebesar 6,15% pada triwulan II-2025, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,12%. Pada periode yang sama, sektor ini juga menyumbang 41% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas.
“Sektor makanan dan minuman menjadi motor utama pertumbuhan industri nonmigas, menyerap tenaga kerja besar, sekaligus mendorong ekspor,” ujar Agus dalam siaran persnya yang diterima SUAR di Jakarta.
Untuk terus mendorong pertumbuhan, Kemenperin menyiapkan berbagai insentif seperti tax allowance dan fasilitas super deduction tax. Selain itu, pemerintah juga mendorong penggunaan bahan baku lokal seperti tepung sagu untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat industri dari hulu ke hilir.