Selamat berakhir pekan.
Berikut informasi seputar tren yang sedang ramai dibahas di publik.

Berkah Menulis Lagu di Earhouse
Di sebuah ruangan yang tidak begitu luas, Tim SUAR melangkah masuk. Suasananya terang temaram. Deretan meja dan kursi kayu memenuhi sebagian area. Bagian depan disulap menjadi panggung.
Karpet hitam bermotif, mikrofon, keyboard, amplifier dan beberapa gitar bersandar di sudut ruangan mungil itu. Earhouse, demikian ruang kecil itu dinamai untuk menjadi ruang aman bagi siapapun yang ingin belajar menulis lagu.
Sore itu Endah Widiastuti yang tergabung dalam grup duo Endah N Rhesa menyambut tim SUAR sebelum memberikan materi di Earhouse. Endah mengaku menyewa ruang ini untuk komunitas kecilnya berkumpul. Dengan nuansa papan kayu terang, lampu gantung kuning, ruangan itu lebih mirip ruang keluarga ketimbang ruang kelas.
“Lokal scene itu kita tempat kita berada dan hidup. Kami tinggal di Pamulang, tapi justru lebih banyak berkegiatan di Jakarta. Kami malah enggak kenal siapa musisi yang ada di sekitar rumah sendiri,” kata Endah mengawali wawancara dengan SUAR, Senin (11/05/2026).


Band rock asal Jepang, ONE OK ROCK, akan menggelar konser bertajuk ONE OK ROCK DETOX ASIA TOUR LIVE di Indonesia Arena, Jakarta, pada 16 Mei 2026. Konser ini menjadi bagian dari tur Asia mereka yang menampilkan album terbaru sekaligus deretan lagu populer seperti The Beginning dan We Are, yang telah mengukuhkan posisi mereka sebagai salah satu band rock Jepang paling berpengaruh di dunia.
Telkomsel akan kembali menghadirkan Telkomsel Digiland Run 2026 pada 17 Mei di Istora Senayan, Jakarta. Ajang ini menjadi signature event Telkomsel yang menggabungkan teknologi, inovasi, dan pengalaman interaktif bagi para peserta. Selain kegiatan lari, acara juga akan dimeriahkan konser musik dengan penampilan musisi populer seperti Hindia, .Feast, Feel Koplo, hingga Aldi Taher

Melemaskan Kawan yang Berpikir Kaku
Dengan kecepatan perubahan penggunaan teknologi saat ini, lingkungan kerja mau tak mau juga harus mengikuti perkembangan. Namun, ketika semuanya ingin menyesuaikan diri, ada saja anggota tim yang merasa sudah cukup dengan pengalaman yang ia punya. Ia tak mau belajar, ia tak mau menambah skil, karena merasa teman yang lainnya sudah memiliki skil itu.
Ia merasa, kontribusi yang perlu ia berikan adalah sesuai apa yang sudah dimilikinya. Jika ada permintaan di luar itu, ia tak berkenan memenuhinya. Begitulah, di tengah dunia kerja yang bergerak cepat, ada satu fenomena psikologis yang diam-diam menjadi penghambat besar transformasi organisasi, namanya cognitive rigidity.
Istilah ini merujuk pada kekakuan cara berpikir — kondisi ketika seseorang sulit menerima perspektif baru, enggan merevisi keyakinan lama, dan tetap mempertahankan pola yang sama meskipun konteks sudah berubah.
Dalam psikologi kognitif, fenomena ini dipahami sebagai rendahnya cognitive flexibility, yakni kemampuan mental untuk beradaptasi terhadap informasi, situasi, atau sudut pandang baru.

Hadir dan Mengalir
Saudaraku, hidup ini adalah aliran air yang tak pernah berhenti mencari muara. Ia hadir diam-diam, lalu mengalir tanpa pamit—membasahi setiap jejak tanah, menyeberangi waktu, menyapa zaman. Seperti pesan peribahasa Sunda yang bijak: lumaku kudu mindung ka waktu, mibapa ka zaman—melangkahlah seiring waktu, berlindunglah dalam naungan zaman.
Namun betapa sering kita mendirikan tenda di zona nyaman, mengawetkan masa lalu seperti fosil yang disembah, seraya menutup gerbang masa depan. Padahal, waktu tak menunggu. Ia seperti sungai: tak pernah terputus dari hulu, namun selalu menari menuju hilir. Zaman pun berubah, seperti langit yang tak pernah tinggal satu warna.
Di antara derasnya arus, dua kebebalan mengadang jalan: yang satu memuja yang tua seolah tua selalu bijak, yang lain menyanjung yang muda seolah baru selalu lebih baik. Padahal, hakikatnya bukan soal usia, melainkan hikmah—apa yang mendewasakan dari yang lama, dan apa yang mencerahkan dari yang baru. Maka, bersikaplah bijak: genggam yang arif dari masa silam, petik yang mulia dari tunas masa depan.
