Menjual Cokelat dengan Edukasi (4)

Produsen cokelat lokal, menarik konsumen dengan konsep pemberdayaan petani melalui usaha pertanian hijau, hingga melakukan edukasi. Mencoba bersaing dengan produsen kelas dunia di kandang sendiri.  

Menjual Cokelat dengan Edukasi (4)
Diorama Monggo (Dok. Museum Factory Chocolate Monggo)
Daftar Isi

Citarasa cokelat yang khas sering memantik kerinduan Thierry Detournay ke kampung halamannya di Belgia. Karena kekecewaan Thierry Detournay saat tidak menemukan cokelat yang berkualitas di Jogja serta heran kenapa Indonesia sebagai salah satu penghasil kakao terbesar di Dunia namun masyarakatnya masih awam mengenai produk cokelat yang bagus pada 2001, hal itu menjadi alasan lahirnya Chocolate Monggo

Dengan ilmu yang ia miliki, meskipun ia adalah seorang sarjana Psikologi, Thierry nekat memproduksi cokelat yang mendekati rasa cokelat Belgia. Produk pertamanya, ia mencetak truffle, cokelat berbentuk bola-bola kecil,  lalu mulai memasarkannya ke lingkungan teman-temannya. 

Banyaknya respons yang positif, Thierry pun semakin serius mendalami bisnis cokelat dari biji lokal. Pada 2005, lahirlah brand dengan nama Cokelat Monggo, pelopor cokelat artisan pertama di Yogyakarta. Sebagai dosen bahasa Prancis di Universitas Gadjah Mada, ia memiliki banyak kawan yang membuat, marketing cokelat buatannya dilakukan dengan cara-cara yang inovatif.

Monggo, dalam terjemahan bebas bahasa Jawa bisa berarti silakan, menyiratkan kebijakan tentang kerendahan hati dan keakraban. Kata monggo juga sangat melekat di hati orang Jawa di mana pun berada. 

Definisi baru cokelat premium

Meski begitu, perjuangan membesarkan cokelat Monggo juga bukan jalan yang mulus. Seperti ketika awal cokelat Monggo dirilis, pasar cokelat Indonesia masih didominasi produk impor dan premium yang hanya identik dengan produk Eropa. Menyadari besarnya hambatan itu, Cokelat Monggo memutuskan mengambil jalur berbeda, jualan cokelat mutu kelas wahid, dengan tetap menjaga harga agar terjangkau masyarakat kelas menengah bawah Indonesia.  

“Waktu itu, orang Indonesia belum banyak yang tahu apa itu cokelat premium,” kata Tri Widiantoro, Business Development & Company Relationship, Coklat Monggo. “Tahunya ya cokelat manis yang isinya gula. Padahal kita ini produsen kakao terbesar ketiga di dunia,” tambahnya. 

Ini juga yang membuat Thierry awalnya bingung. Ia heran, Indonesia punya kakao melimpah, tapi masyarakatnya justru mengonsumsi cokelat tinggi gula yang sering kali berdampak buruk bagi kesehatan. “Ada misconception besar tentang cokelat,” ujar Tri. Dari situ, Monggo hadir sebagai pembawa definisi baru, cokelat premium dengan bahan baku murni Indonesia, namun diolah dengan teknik dari Eropa. 

Anak-anak belajar mencetak cokelat mediant di Musesum Monggo (Do. Museum Factory Chocolate Monggo)

Maka, cokelat Monggo memadukan teknik pembuatan cokelat dari Belgia, salah satu negara yang dianggap menghasilkan cokelat terbaik di dunia, dan mencoba memadukan dengan biji kakao petani lokal. Sementara bahan bakunya juga dipilih bukan dari sembarang biji cokelat. “Kita hanya pakai biji yang fermentasinya sempurna, tidak dicuci, dan ukurannya sesuai standar Monggo. Itu sebabnya kita langsung bekerjasama dengan petani, bukan lewat pengepul,” jelas Tri.

Varian cita rasa cokelat Monggo pun juga diracik dari bahan natural, bukan perisa. “Kalau kita bikin praline, isiannya bukan flavor jeruk, tapi jeruk beneran. Ada bir pletok, jeruk purut, bunga telang, semuanya kekayaan Nusantara,” ujarnya.

Identitas lokal juga muncul lewat kemasan. Wayang, batik, dan simbol-simbol budaya Indonesia menjadi bahasa visual Monggo. Selain itu, mereka melibatkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)  untuk membuat kemasan. “Itu bagian dari prinsip sustainability kami,” kata Tri. “Kita selalu berusaha memberi dampak ekonomi balik ke para pelaku usaha kecil.”

Dengan mempertahankan mutu, maka penggemar cokelat Monggo juga diharapkan loyal terhadap merek ini. Tri juga menjamin, jika seorang pecinta cokelat akan bisa menengarai produk cokelat Monggo melalui tes mata tertutup atau blind test

“Kelebihan nomor satu Monggo itu flavor. Kita membuat standar rasa hasil blend berbagai biji kakao Indonesia, dan itu diberi nama ‘Monggo’. Jadi kalau orang sudah pernah makan, lalu makan lagi kedua atau ketiga kali, mereka akan ingat,” ujar Tri. 

Mendidik konsumen, gaya pemasaran efektif

Namun memperkenalkan premium flavor di pasar yang terbiasa dengan cokelat manis bukan perkara mudah. “Tantangannya menjual sesuatu yang bagus di tempat yang orang belum tahu sesuatu itu bagus,” ujarnya. 

Proses edukasi ini memakan waktu panjang, lebih dari 15 tahun, sampai akhirnya produk dark chocolate 100% justru menjadi salah satu bestseller.  “Begitu orang sudah paham, mereka tahu kualitas itu beda. Cokelat 100% itu pure, baik untuk kesehatan, dan itu yang kami dorong terus,” kata Tri.

Demi memberikan edukasi kepada publik terkait cokelat, perusahaan ini juga membangun tempat yang komplit untuk belajar mengenai serba serbi tentang cokelat, dari Sejarah cokelat yang tersaji di Museum Chocolate Monggo kemudian melihat langsung proses produksi biji kakao menjadi cokelat batangan di Pabrik Chocolate Monggo, praktek langsung membuat cokelat praline, serta mencicipi berbagai varian cokelat hingga membeli cinderamata cokelat premium khas dari Yogyakarta.

Sekarang Coklat Monggo dijual ke pasar dengan banyak variasi. Ada berbagai jenis dark chocolate dengan berbagai pilihan rasa, sampai 100 persen dark chocolate. Juga ada produk khusus event, seperti produk ramadan dan lebaran, yaitu kurma praline. Coklat Monggo juga mengembangkan biskuit, cookies, juga gelato.

Berbagaio varian cokelat Monggo (Suar.id/Dian Amelia)

Cokelat Monggo juga bisa didapatkan di berbagai gerai toko yang berada di Jawa dan Bali. Orientasi Thierry memang tak terlalu ingin Cokelat Monggo diekspor, namun menjadi produk kebanggaan yang hanya bisa didapat di Indonesia. 

Ambisi ke panggung dunia

Beda dengan Cokelat Monggo yang rendah hati ingin mengedukasi masyarakat Indonesia tentang cokelat dan kakao, produsen cokelat yang juga memiliki perkebunan di Bali, Cau Cocholate berambisi menjadi pemain dunia. Dan untuk mengalahkan produsen internasional, setidaknya mengambil sebagian kecil pangsa pasarnya, Cau Chocolate menawarkan  keunggulan ke konsumennya. 

Ragam produk Cau Chocolates yang didistribusikan di Toko Oleh-Oleh Krisna, Denpasar, Bali

Salah satunya bahan baku yang melandaskan pada ekonomi hijau berkelanjutan. Dengan mengandalkan produksi dari perkebunan di Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Jembrana, perusahaan lokal ini, fokus pada kegiatan budidaya dan pengolahan kakao menjadi cokelat. “Sudah ada ratusan varian yang kami produksi, fokus pada beberapa cluster, coklat organik dan anorganik,” kata I Wayan Alit Artha Wiguna, pendiri Cau Chocolates. 

Menurut Wayan, proses produksi cokelat di Cau Chocolate seratus persen organik. “Ini bukti kami mendorong green industry,” katanya. Proses ini menjadi cerita untuk menggaet pasar pengunjung dari mancanegara, di mana perusahaan juga membuat petani sejahtera, bertani secara organik, dan memajukan nilai-nilai inklusif dan penghargaan kepada petani. 

Produk cokelat organik Cau Chocolates tersedia dalam berbagai tingkat konsentrasi kakao, mulai dari 61% hingga 90%

“Itu yang mengangkat brand, kami bukan sebagai cokelat biasa, tetapi cokelat yang peduli pada nasib orang banyak. Nilai-nilai seperti itu jauh lebih mereka hargai daripada sekadar harga,” jelas Artha Wiguna. 

Menurutnya, salah satu yang menjadi misi Cau Chocolate adalah membantu petani meningkatkan pendapatan mereka melalui budidaya dan pascapanen dan pengolahan. Perusahaan bekerja sama dengan petani Tabanan dan Jembrana dengan spirit NEO-GT: Need Each Other and Grow Together, fair trade dengan harga terbuka. “Senyum Cau Chocolates adalah senyum petani kakao,” ujarnya. 

Memudahkan akses ke petani

CEO Cau Chocolate, I Kadek Surya Prasetya Wiguna, menegaskan,  selama ini, petani kakao memang tak mudah mengubah nasibnya sendiri. Padahal para petani itu hanya satu saja permintaannya, bagaimana ketika menanam, hasil tanamannya berproduksi dengan baik. Namun, nasib baik memang tidak berpihak kepada mereka. “Ketika dia punya tanah satu hektar, dalam satu tahun, dia hanya dapat Rp18 juta per tahun. Siapa yang bisa hidup?” ujarnya. 

Sebagai perusahaan, Cau Chocolates memposisikan misinya untuk tak hanya mencari profit. Dengan konsep three bottom line, yaitu Profit, Planet, dan People, perusahaan selalu memberikan harga bagus buat petani, dengan membeli di atas harga dunia. “Ketika kami mampu memberikan pelatihan dan harga yang baik, maka petani dapat menghasilkan Rp 7 juta hingga Rp 10 juta per bulan. Dan Fair trade ini tidak hanya kepada petani, tetapi juga fair kepada industri dan pembeli,” kata Kadek. 

Cau Chocolates  didirikan di Dusun Cau, Kecamatan Marga Kabupaten Tabanan, pada Desember 2014 dan mulai beroperasi pertengahan 2016. Pabrik Cau Chocolate  bersebelahan dengan Desa Jatiluwih,  salah satu lokasi warisan budaya dunia yang dilindungi UNESCO.  

CEO Cau Chocolates I Kadek Surya Prasetya Wiguna (Paling kanan)

Sejak awal Cau Chocolates memang didirikan untuk memberikan kemudahan akses bagi petani kakao lokal untuk menyalurkan hasil pertaniannya. Hasil kakao dari petani sekitar, tidak akan dibeli sebelum Cau Chocolates melakukan pendampingan, agar  kakao yang dihasilkan berkualitas tinggi dengan 2 syarat utama, yaitu kakao harus memenuhi standar fermentasi dan organik.

Sebelum Cau Chocolates berdiri, Desa Cau merupakan salah satu penghasil kakao yang cukup besar. Namun hama penyakit dan kurangnya kesadaran petani untuk mengelola tanaman kakaonya dengan baik, membuat banyak kakao di daerah ini mati dan tidak terpelihara.

Karena itu, Cau Chocolates mendorong pengembangan petani agar bisa berproduksi sebaik-baiknya, dan tidak sembarangan menjual ke pasar tradisional. Dari konsep ini maka akan terbangun ekosistem yang bisa memicu tumbuhnya industri kakao bermutu  yang bisa dikenal dunia  “Masalah utama kita adalah branding. Tidak ada satu batang pun kakao tumbuh di Eropa, tapi kenapa cokelat terbaik di sana?” tanya Kadek. 

Potensi besar pasar dalam negeri

Kadek juga menjelaskan, sebagai produsen  kakao besar,  pengusaha lokal tidak berani mencoba untuk membuat cokelat terbaik di dunia. Padahal potensi ke arah sana sangat besar. Hal ini yang kemudian menjadi misi lain perusahaan. “Apakah Cau Chocolates mahal? Tidak. Harga kami masuk akal seperti kami membeli dari petani dengan harga yang juga masuk akal,” kata Kadek. 

Keyakinan untuk bisa membangun merek lokal yang kuat, juga didukung demand pasar lokal di Indonesia yang potensial. Hanya masalahnya, perspektif kelas atas yang hanya 4% itu tetap menganggap produk luar lebih baik. Sehingga perspektif masyarakat di dalam negeri harus berubah dulu. 

Salah satu produk Cau Chocolates Food and Gift restoran . Foto: Antaranews Bali/Analia.

“Kelas menengah ke atas kita harus memahami bahwa cokelat dan kakao Indonesia berkualitas baik, sepanjang diproses dengan tepat mulai dari bibit, perawatan organik, dan fermentasi, sampai menghasilkan cokelat yang berkualitas. Dari segi bahan baku, kita memang tidak kalah,” ujar Kadek. 

Kekurangan dalam hilirisasi produk kakao adalah dari sisi teknologi. Masih banyak mesin-mesin pengolahan cokelat yang diimpor. Indonesia belum mampu membuat pabrik-pabrik pengolahan dengan kapasitas dan kualitas mesin yang setara dengan buatan Tiongkok. 

Karenanya, Indonesia tak boleh menyerah membangun industri kakao-nya. Karena teknologi bisa dialih daya kelak ke Indonesia. “Kita harus belajar menciptakan teknologi mesin pengolahan yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia,” kata Kadek. 

Dalam perkembangannya, Cau Chocolates saat ini merupakan satu-satunya cokelat Indonesia yang telah meraih organik sertifikat dari badan terakreditasi milik pemerintah Indonesia, Amerika (USDA) dan Eropa (EU).

Pintu masuk pabrik dan wisata edukasi Cau Chocolates di Dusun Cau, Desa Marga, Tabanan, Bali

Perusahaan juga  telah bekerjasama dengan ratusan petani kakao di seluruh Bali, untuk menghasilkan biji kakao organik berkualitas tinggi, melalui proses fermentasi. Saat ini Cau Chocolates rata-rata mengolah biji kakao sekitar 9 ton hingga 15 ton per bulan untuk menghasilkan berbagai produk olahan, dengan berbagai merek dagang. Selain itu Cau Chocolates juga memiliki restoran dengan menu unggulan. 

Perusahaan juga mengembangan wisata pertanian berbasis cokelat. Tujuannya untuk mengenalkan kepada wisatawan tentang tanaman kakao mulai dari budidaya, pemeliharaan, panen dan pasca panen, serta pengolahan menjadi produk cokelat, dengan konsep from farm to chocolate ready to consume.

Cau Chocolate saat ini merekrut sekitar kira 100 pekerja dan didukung 600 petani kakao. “Omzet kami sekarang kira-kira Rp 5 miliar per bulan, harapannya nanti 50% bisa berasal dari ekspor. Dua pasar ekspor tahun ini adalah Australia dan Polandia.” kata Kadek 

Mukhlison, Chris Wibisana, dan Dian Amalia

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya