Di tahun 2025, produksi padi melonjak tajam mencapai 60,21 juta ton, sementara produksi jagung relatif stabil di angka 15,03 juta ton. Keberhasilan meningkatkan produksi pangan menjadi batu loncatan bagi Indonesia untuk kembali mencapai swasembada pangan berkelanjutan.
Tidak hanya itu, peningkatan produksi juga mengarah pada ekspor beras. Target ini menjadi sangat penting sebagai strategi penguatan ekonomi nasional sekaligus posisi tawar Indonesia sebagai lumbung pangan di kawasan regional.
Namun, ambisi besar tersebut kini dihadapkan pada tantangan alam yang rutin terjadi. BMKG telah memberikan peringatan dini bahwa musim kemarau tahun 2026 diprediksi akan datang lebih awal dengan puncak pada bulan Agustus, yang dibarengi dengan masuknya fase El Niño.
Fenomena El Niño dikenal luas sebagai pemicu kekeringan ekstrem yang dapat mengganggu siklus tanam dan menurunkan ketersediaan air irigasi. Perubahan pola cuaca yang mendadak ini berisiko menjadi hambatan utama yang dapat mengoreksi tren positif produksi tanaman pangan yang telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir jika tidak segera dimitigasi dengan langkah yang tepat.
Dari data historis Southern Oscillation Index (SOI) selama lima tahun terakhir, kita dapat melihat fluktuasi indeks yang mencerminkan kondisi iklim di Indonesia. Pada periode 2020 hingga awal 2023, data didominasi oleh nilai positif yang cukup konsisten (fase La Niña), seperti pada Desember 2022 yang mencapai 2,1. Kondisi kemarau basah ini sangat mendukung peningkatan produksi padi, terlihat dari data produksi 2022 yang tetap terjaga di angka 54,75 juta ton.
Sebaliknya, penurunan nilai SOI ke angka negatif yang signifikan pada pertengahan hingga akhir 2023, seperti -1,3 pada September 2023, menandakan masuknya El Niño yang secara langsung berkontribusi pada penurunan produksi padi tahun 2024 menjadi 53,14 juta ton. Hal ini membuktikan adanya korelasi kuat antara indeks ENSO dengan fluktuasi output pangan nasional.
Fenomena alam tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian kita masih sangat rentan terhadap anomali iklim. Tantangan iklim yang kian parah di tahun 2026, dengan prediksi kemarau yang lebih maju, menuntut kewaspadaan tinggi bagi seluruh pemangku kepentingan. Jika indeks SOI terus bergerak ke arah negatif yang ekstrem, risiko kegagalan panen akibat kekeringan akan meningkat secara signifikan.
Sebagai langkah antisipatif, pemerintah dan petani perlu memperkuat manajemen sumber daya air, optimalisasi infrastruktur irigasi, dan penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan. Antisipasi terhadap El Niño 2026 bukan sekadar masalah teknis pertanian, melainkan upaya menjaga kedaulatan pangan agar tidak bergantung pada impor.