Menguji Kekuatan Cadangan Devisa

Kekuatan cadangan devisa Indonesia berkali-kali menghadapi ujian, baik karena faktor internal maupun eksternal. Posisi cadangan devisa per Februari 2026 berada di angka 151,9 miliar dolar AS, sedikit menurun (1,7%) dibandingkan bulan sebelumnya. 

Menguji Kekuatan Cadangan Devisa

Meski mengalami penurunan sebesar 1,7%, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 masih tergolong tinggi, setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Posisi ini berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Kondisi ini memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Penurunan yang terjadi di awal tahun 2026 ini cermin dari besarnya tekanan dari kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah dan perlunya intervensi pasar untuk meredam volatilitas kurs global.

Dinamika cadangan devisa sepanjang 2025 menunjukkan pola yang sangat bergantung pada siklus musiman dan kebijakan moneter global. Dalam satu tahun terakhir, penurunan paling tajam terjadi pada April 2025, di mana cadangan devisa turun 2,9% ke level 152,5 miliar dolar AS. 

Penurunan saat itu terjadi karena periode tersebut merupakan puncak repatriasi dividen oleh perusahaan multinasional dan jadwal pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo pada kuartal II. Pola tersebut menggambarkan faktor struktural tahunan masih menjadi determinan utama dalam pergerakan likuiditas valas nasional.

Memasuki paruh kedua tahun 2025, tantangan beralih pada tekanan nilai tukar yang memaksa Bank Indonesia untuk bersikap lebih defensif. Antara Juli hingga September 2025, cadangan devisa terus terkuras hingga menyentuh titik terendah di angka 148,7 miliar dolar AS. 

Penurunan yang terjadi berulang kali ini merupakan konsekuensi dari langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia dalam menstabilkan rupiah guna menahan sentimen kebijakan suku bunga global. Cadangan devisa menjadi tumpuan kebijakan moneter dalam menjaga stabilitas pasar.

Namun, daya tahan ekonomi nasional sempat menunjukkan pemulihan yang pada akhir tahun 2025. Pada Desember 2025, posisi devisa melonjak signifikan sebesar 4,3% hingga menyentuh angka 155 miliar dolar AS. Kenaikan drastis ini dipicu oleh kombinasi dari aliran masuk modal asing (inflow) melalui aksi window dressing, penerimaan devisa dari sektor migas, serta optimalisasi penarikan pinjaman luar negeri untuk menutup pembiayaan APBN. 

Kini, memasuki awal 2026, tantangan baru kembali muncul seiring dengan meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memicu krisis global. Penurunan devisa pada Februari 2026, bisa jadi juga bulan-bulan berikutnya yang sangat dipengaruhi oleh geopolitik global, menunjukkan kerentanan akibat pelarian modal (outflow) jangka pendek dan kenaikan biaya impor bahan baku industri manufaktur. 

Ke depannya, penguatan hilirisasi komoditas dan daya saing ekspor menjadi solusi agar Indonesia tidak hanya bergantung pada cadangan devisa untuk melakukan intervensi, selain juga menciptakan sumber devisa yang lebih berkelanjutan di tengah situasi dunia yang semakin tak menentu.

Baca selengkapnya