Mengantisipasi dan Mitigasi Risiko Ketidakpastian Global

Kurasi peristiwa terpenting yang perlu diketahui semesta dunia usaha untuk mengawali hari.

Mengantisipasi dan Mitigasi Risiko Ketidakpastian Global
Foto: ev / Unsplash
Daftar Isi

Selamat pagi, Chief… 

Berikut informasi penting terkait pengembangan semesta dunia usaha yang perlu mendapat perhatian hari ini berdasarkan kurasi Tim SUAR.

Antisipasi "Polycrisis" Akibat Revisi Outlook Negatif Fitch Ratings

  • Lembaga pemeringkat keuangan global Fitch Ratings pada Rabu (4/3/2026) lalu melakukan penyesuaian terhadap outlook atau prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Keputusan dari lembaga pemeringkat global ini bisa memicu tekanan ekonomi dari banyak arah (polycrisis), terutama dari luar negeri atau eksternal yang bisa merambat juga menjadi tekanan internal.
  • Kendati demikian, di saat yang sama, Fitch Ratings memutuskan untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB. Afirmasi terhadap peringkat kredit itu menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap fondasi perekonomian Indonesia masih tetap kuat, stabil, dan memiliki prospek jangka menengah hingga panjang yang solid.

Ketidakpastian Global Meningkat, Redam Gejolak dengan Pengelolaan Cadangan Devisa yang Tepat

  • Ketegangan geopolitik global dan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed) kembali meningkatkan risiko arus modal keluar dari negara berkembang. Dalam situasi tersebut, stabilitas nilai tukar rupiah dan ketahanan cadangan devisa menjadi perhatian, mengingat gejolak di pasar keuangan global berpotensi memicu pergeseran portofolio investor menuju aset yang dianggap lebih aman. Di tengah dinamika tersebut, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tercatat sebesar US$151,9 miliar. Angka ini menurun dibandingkan posisi pada akhir Januari 2026 yang mencapai US$154,6 miliar.

Pemerintah Bidik Transaksi Belanja Rp53 Triliun dari BINA Lebaran 2026

  • Pemerintah menargetkan transaksi sebesar Rp 53 triliun pada program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 yang resmi  dimulai dari 6 hingga 30 Maret 2026. Program BINA merupakan bagian dari upaya bersama untuk memperkuat pasar domestik sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui berbagai promosi dan program belanja, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan aktivitas konsumsi masyarakat selama Ramadan hingga Idul Fitri. BINA Lebaran 2026 akan diselenggarakan selama 25 hari, mulai dari tanggal 6 Maret hingga 30 Maret 2026, dengan melibatkan sekitar 380 perusahaan, 800 brand, dan lebih dari 80.000 gerai ritel di berbagai wilayah Indonesia. Selain itu, program ini juga didukung oleh sekitar 400 pusat perbelanjaan yang menghadirkan berbagai promosi dan diskon untuk masyarakat.

Tak Sekadar Eksklusif, Pakar Harap Universitas Asing Rangkul Semua Kalangan

  • Rencana pemerintah untuk mendatangkan universitas asing ternama dinilai merupakan langkah strategis untuk melakukan lompatan besar dalam kualitas sumber daya manusia (SDM). Contohnya, melalui pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pendidikan seperti KEK Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (ETKI) di Banten memungkinkan investasi asing di sektor pendidikan menjadi lebih fleksibel, sehingga memudahkan universitas top global untuk membuka cabang.

Mengoptimalkan Jumlah Wajib Pajak yang Besar agar Tax Ratio Meningkat

  • Berdasarkan data Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP), pada tahun 2024 dan 2025, realisasi penerimaan mulai berada di bawah target yang ditetapkan dalam APBN. Pada data sementara tahun 2025, realisasi tercatat sebesar Rp 2.217,9 triliun, padahal target dalam APBN dipatok cukup tinggi pada angka Rp 2.490,9 triliun. Sejalan dengan itu, tax ratio atau rasio penerimaan pajak terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga mengalami tren menurun setelah sempat mencapai puncaknya pada tahun 2022. Indonesia berhasil mencatatkan tax ratio sebesar 10,38% pada tahun 2022, namun angka ini perlahan menurun menjadi 10,31% (2023), kemudian 10,08% (2024), hingga mencapai titik 9,31% pada data sementara akhir 2025. 

Impor Energi dari AS Ditingkatkan, Alokasi dari Timur Tengah dan Asia Tenggara Berkurang

  • Pemerintah Indonesia dan pemerintah Amerika Serikat menyepakati sejumlah komitmen strategis di bidang perdagangan dan energi sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi nasional. Kesepakatan tersebut tertuang dalam The Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang difinalisasi dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC pada 19 Februari lalu. Indonesia menyepakati peningkatan pembelian produk energi dari AS dengan total nilai sekitar 15 miliar dolar AS. Rinciannya yaitu impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) sekitar 3,5 miliar dolar AS, impor minyak mentah (crude oil) sekitar 4,5 miliar dollar AS, dan impor produk BBM olahan tertentu sekitar 7 miliar dolar AS. Implementasinya akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan aspek keekonomian, kebutuhan nasional, serta kesiapan infrastruktur dan tata kelola.

Laporan Survei Konsumen Februari 2026. Bank Indonesia (BI) dijadwalkan akan merilis laporan ini pada Senin 9 Maret 2026, yang bisa diunduh selengkapnya di situs BI yakni www.bi.go.id. Laporan ini menjadi penting bagi dunia usaha karena bisa digunakan untuk jadi indikator bagaimana perkembangan tingkat konsumsi di masyarakat. Dengan demikian, pengusaha bisa mengambil keputusan dan strategi yang sesuai dengan kondisi tersebut.

Diskusi Publik "Ekonomi Lebaran di Tengah Gejolak Perang". Acara ini akan diselenggarakan Senin 9 Maret 2026 secara daring dan disiarkan melalui Youtube Indef. Hadir sebagai pembicara dalam diskusi ini para peneliti Indef, yakni Peneliti Pusat Makroekonomi dan Keuangan Abdul Manap Pulungan, Peneliti Pusat Pangan, Energi, dan Pembangunan Berkelanjutan Afaqa Hudaya, dan Peneliti Pusat Ekonomi Digital dan UKM Nur Komaria.

"Kita adalah apa yang kita lakukan berulang-ulang. Jadi, keunggulan bukanlah suatu tindakan, melainkan kebiasaan." (Aristotle - Filsuf Yunani)

Selamat beraktivitas, Chief.

Tim SUAR

Baca selengkapnya