Secara umum, jumlah uang beredar cenderung meningkat satu bulan sebelum Lebaran dan baru mulai melandai setelah perayaan usai, menciptakan kurva musiman yang konsisten dari tahun ke tahun. Tren ini mengikuti aktivitas konsumsi masyarakat, mulai dari belanja kebutuhan pokok hingga persiapan mudik.
Analisis data tren bulanan menunjukkan pertumbuhan uang beredar secara tahunan yang cukup variatif. Pada tahun 2022, misalnya, saat Lebaran jatuh di awal Mei, uang beredar tumbuh di kisaran 12,1%. Sementara pada tahun 2024 dan 2025, pertumbuhannya di level moderat antara 6% hingga 10%.
Pada Januari 2026, uang beredar tercatat sebesar Rp 10.117,80 triliun dengan pertumbuhan 10,0%, memberikan sinyal bahwa daya beli masyarakat menyongsong Lebaran tahun ini masih positif.
Dilihat dari pergerakan uang kartal (uang kertas dan logam) yang menjadi indikator utama saat Lebaran, jumlah uang kartal di tangan masyarakat melonjak tajam setiap bulan menjelang hari raya. Pada momen Lebaran April 2024, uang kartal mencapai Rp 943,29 triliun, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya.
Tren ini berulang padamomen Lebaran Maret 2025 dengan angka yang mencapai Rp 1.088,91 triliun. Peningkatan ini didorong antara lain oleh kebutuhan uang tunai untuk tradisi "salam tempel" (THR), pembayaran zakat secara langsung, serta transaksi di sektor informal dan daerah yang akses non-tunainya masih terbatas.
Di sisi lain, uang giral (saldo rekening koran, giro, dan alat pembayaran elektronik) menunjukkan dominasi yang semakin kuat dalam struktur uang beredar sempit (M1). Sepanjang tahun 2025, uang giral konsisten berada di atas level Rp 1.700 triliun hingga Rp 2.000 triliun.
Hal ini mengindikasikan pergeseran gaya hidup masyarakat yang semakin akrab dengan sistem pembayaran non-tunai, seperti penggunaan QRIS dan mobile banking, bahkan untuk kebutuhan Lebaran sekalipun. Meskipun uang tunai (kartal) tetap dicari untuk mendukung tradisi rutin, uang giral menjadi tulang punggung transaksi besar dan belanja daring yang melonjak sebelum mudik.
Fenomena yang sama akan berulang pada Lebaran tahun ini. Namun, pemerintah perlu menjaga keseimbangan antara lonjakan uang beredar dengan ketersediaan barang di pasar agar tidak memicu inflasi yang berlebihan.
Dengan posisi uang giral yang sangat likuid di perbankan, Bank Indonesia perlu memastikan infrastruktur pembayaran digital tetap stabil menghadapi lonjakan transaksi. Di sisi lain, penyediaan uang kartal tetap perlu diprioritaskan untuk menjaga kelancaran ekonomi masyarakat luas. Hal ini untuk memastikan bahwa setiap lapisan masyarakat dapat merayakan hari raya dengan nyaman.