Lonjakan Kebutuhan Investasi Emas Sepanjang 2025

Pergerakan harga dan permintaan emas periode 2020-2025 mencerminkan peran penting logam mulia ini sebagai pelindung nilai utama. Memasuki kuartal ke-IV 2025, terjadi lonjakan permintaan dan harga emas.

Lonjakan Kebutuhan Investasi Emas Sepanjang 2025

Berdasarkan data World Gold Council, pola kebutuhan emas dalam enam tahun terakhir cukup menarik. Sejak awal periode pandemi 2020, terjadi lonjakan pertama kebutuhan emas sebagai instrumen investasi. Pada periode 2022-2023 emas bergerak stabil, namun cenderung menguat seiring pemulihan pasca-pandemi dan pecahnya konflik di Eropa Timur. 

Memasuki tahun 2024 hingga puncaknya di 2025, harga emas dunia mengalami anomali pertumbuhan yang luar biasa. Harga sempat melonjak hingga lebih dari 55% dalam setahun hingga menembus rekor psikologis di atas 4.000 dolar AS per ons pada akhir 2025. Kenaikan ini didorong oleh kombinasi antara inflasi global, pelemahan dolar Amerika Serikat, dan ekspektasi pemotongan suku bunga bank sentral AS di tengah kondisi geopolitik yang terus memanas.

Pergeseran tren permintaan emas menjadi sangat mencolok ketika membandingkan sektor investasi dengan emas perhiasan. Dalam kondisi ekonomi stabil, perhiasan biasanya mendominasi volume permintaan, namun krisis geopolitik dan ketidakpastian ekonomi telah membalikkan keadaan. 

Di tahun 2025, permintaan emas untuk kebutuhan investasi (batangan, koin, dan ETF) melonjak drastis hingga melampaui angka 500 ton per kuartal secara global, sementara sektor perhiasan justru tertekan di kisaran 300-400 ton akibat harganya yang semakin tidak terjangkau. 

Di Indonesia sendiri, pola ini terlihat jelas dengan lonjakan permintaan emas batangan sebesar 29% di saat volume perhiasan merosot 27%. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lebih memprioritaskan keamanan aset daripada estetika.

Tahun 2025 juga mencatatkan lonjakan signifikan dari berbagai bank sentral dunia dalam memperkuat cadangan devisa mereka dalam bentuk emas. Polandia muncul sebagai negara paling agresif dalam menambah cadangan emasnya hingga mencapai sekitar 700 ton, sebuah langkah strategis untuk memitigasi risiko geopolitik di perbatasan Eropa. 

Selain Polandia, negara-negara seperti Brasil, Uzbekistan, dan Kazakhstan juga konsisten menambah kepemilikan emas mereka. Fenomena dedolarisasi ini menunjukkan bahwa emas kembali menjadi fondasi kepercayaan moneter internasional ketika mata uang konvensional dianggap rentan terhadap sanksi dan instabilitas politik.

Sebaliknya, beberapa negara menunjukkan pola pengurangan atau perlambatan dalam penambahan emas karena dinamika ekonomi domestik. Di tengah rekor harga yang tinggi, beberapa otoritas moneter memilih untuk melakukan aksi mengambil keuntungan atau menunda pembelian baru untuk menjaga likuiditas mata uang mereka. 

Meskipun demikian, secara agregat global jumlah pengurangan emas oleh negara-negara tertentu jauh lebih kecil dibandingkan volume pembelian masif oleh negara-negara berkembang yang sedang membangun keamanan finansial negaranya. Langkah pengurangan ini lebih bersifat taktis jangka pendek untuk menstabilkan neraca pembayaran di tengah tingginya harga komoditas global. 

Baca selengkapnya