Kepala Badan Usaha Pembangunan dan Pengelola (BUPP) Kawasan Ekonomi Khusus Edukasi, Teknologi, dan Kesehatan Internasional (KEK ETKI) Banten, Lindawaty Chandra punya cara tersendiri menghabiskan waktu luang di sela kesibukannya.
Membaca buku, bagi wanita berusia 41 tahun ini merupakan pelarian yang menenangkan di tengah kesibukannya memimpin perusahaan. Ia mengaku, setiap akhir pekan, ia selalu berusaha menyempatkan waktu dengan membaca buku.
“Sebenarnya hobi saya itu membaca, lebih untuk membuka wawasan, mendapatkan perspektif baru yang bisa saya aplikasikan ke kehidupan profesional,” kata Linda kepada Tim SUAR.
Ia mengatakan menggemari buku bertema leadership, untuk menunjang profesinya. Bagi dia, membaca kisah para pemimpin besar hingga strategi kepemimpinan bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan perjalanan dirinya untuk mengingat kembali dan memahami cara mengambil keputusan hingga menjadikannya sebagai pemimpin yang berintegritas.
Setiap kali ia menyisihkan waktu untuk membaca, ada rasa antusias yang tumbuh perlahan di dalam dirinya. Baginya, membaca buku adalah tentang menemukan kembali pengetahuan yang mungkin sempat terlupa sekaligus menyerap informasi baru yang relevan di bidang yang ia geluti.
Dari halaman ke halaman, Linda terus menemukan sudut pandang yang berbeda, gagasan segar, hingga solusi tak terduga atas persoalan yang ia hadapi setiap harinya.
“Di balik membaca itu banyak hal yang menarik. Apa yang saya baca sebenarnya biasanya apa yang sudah saya tahu, cuman lebih mempertegas atau untuk me-remind untuk bisa diaplikasikan,” ungkapnya.
Buku bagi Linda bukan hanya sekadar tumpukan kertas berisi tulisan, melainkan jendela yang membuka pandangannya ke dunia yang lebih luas. Setiap halaman pun terus menumbuhkan rasa keingintahuannya.
“Untuk saya membaca itu membuat saya memiliki growth mindset, jadi tahu di sekeliling itu lagi ada perkembangan apa, ilmu apa, karena kalau cuman terlibat dengan kegiatan pekerjaan sehari-hari ya saya cuman tahu itu-itu aja, tapi dengan membaca bisa membuka dunia,” ucapnya.
Traveling
Linda tak hanya menemukan petualangan melalui halaman-halaman di buku yang ia baca. Lewat langkah kakinya yang gemar menjelajah berbagai kota, traveling juga menjadi hobi yang tak terpisahkan dari hidupnya.
Toko buku di bandara lantas menjadi tempat pemberhentian wajib baginya. Hal itu membentuk kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap kali berada di bandara yakni membeli setidaknya satu buku baru.
Di sela pengumuman keberangkatan dan lalu lalang penumpang, Linda duduk tenang di ruang tunggu, membuka lembar pertama, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam bacaan.

Menariknya, Linda bukan tipe pembaca yang tergesa-gesa. Ia menikmati proses membaca dengan ritme yang konsisten. Biasanya, satu buku ia selesaikan dalam waktu sekitar dua minggu.
“Saya biasanya kalau baca itu pas weekend, Sabtu atau Minggu. Atau pas lagi traveling, saya punya hobi kayak traveling nah setiap saya ke airport itu saya selalu beli satu buku, terus nanti dibaca ketika di bandara atau lagi traveling,’ ujarnya.
Kebiasaannya membaca ini membuatnya lebih percaya diri dalam bekerja. Linda mampu mengolah informasi menjadi strategi, menyaring ide menjadi langkah konkret, serta menerapkannya secara nyata dalam rutinitas profesionalnya.
Di tengah kesibukannya yang padat, buku-buku itu seolah menjadi ruang refleksi pribadi bagi Linda, sebuah tempat di mana ia belajar, bertumbuh, dan memperkaya diri tanpa henti.
“Kebanyakan bacaan yang saya baca ujungnya men-develop dari sisi leadership, bagaimana kita as a leader mengimplementasikan nilai-nilai yang bisa menumbuhkan nilai profesionalitas diri sendiri dan juga anak buah kita,” jelasnya.
Tenis
Di balik kecintaannya dalam membaca, tersimpan tekad baru yang tak kalah kuat. Sejak beberapa waktu terakhir, ia mulai menekuni olahraga tenis. Di lapangan, Linda dihadapkan dengan teknik bermain yang rumit mulai dari cara memegang raket, mengatur posisi kaki, hingga menjaga konsistensi pukulan.
Berkali-kali bola meleset dari jangkauannya. Namun bukannya menganggap itu sebagai sebuah kesalahan, Linda justru melihat itu sebagai “bab” baru dalam proses belajarnya. Dengan disiplin yang sama seperti dirinya membaca dan menamatkan buku, ia terus berlatih, membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa ketekunan dapat menaklukkan tantangan apa pun.
“Saya lagi mencoba menekuni olahraga tenis, kalau padel kan sekarang lebih ke social exercise lah ya untuk sosialisasi, cuman kalau tenis lebih membuktikan ke diri sendiri, walaupun tekniknya susah, saya bisa,” kata Linda.
Linda juga memiliki alasan yang jauh lebih personal, lebih dari sekadar pembuktian diri. Lapangan tenis ke depannya diharapkan menjadi ruang kebersamaan baru bagi Linda dan sang buah hati untuk menciptakan kenangan manis.
“Lagi mencoba disiplin seminggu dua kali latihan tenis sama coach, at least nanti ke depan anak saya kalau sudah lebih gede lagi kita bisa sparing main tenis, quality time juga sama anak,” sambungnya.
Olahraga tenis juga menjadi sarana pelepas penat untuk seorang Linda. Setiap ayunan raket dan langkah cepat mengejar bola seolah membantunya mengurangi stres dari pekerjaan setelah hari-harinya yang padat. Keringat yang mengalir dan napas yang terengah pun kini bukan lagi beban.
“Sebenarnya dua-duanya bisa, bisa untuk supaya sehat, semakin tua semakin butuh olahraga. Kalau stress relief itu kan tenis mukul-mukul ya, lumayan ya buat mengurangi stres,” ucapnya.
Kombinasi antara kebiasaan membaca dan berolahraga tersebut membuat Linda tetap energik, berpikiran jernih, serta mampu mengambil keputusan strategis dengan lebih percaya diri.

Dari halaman-halaman buku yang ia tekuni, Linda sering menemukan perspektif baru, strategi yang inovatif, hingga inspirasi yang kemudian ia terapkan dalam mengelola tim dan mengambil keputusan penting. Kebiasaan tersebut terbukti membantunya melahirkan ide-ide segar yang mendorong perusahaan terus berkembang dan beradaptasi di tengah persaingan industri yang semakin ketat.
“Kalau baca mungkin iya, karena banyak yang bisa saya aplikasikan ke pekerjaan kantor, kalau tenis mungkin lebih ke disiplin, saya merasa kalau kita disiplin melakukan sesuatu pasti ada hasilnya, nah itu saya aplikasikan ke dunia kerja,” jelas Linda.
Di tengah ritme kerja yang semakin cepat dan tuntutan yang tinggi, menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi pun menjadi hal yang sangat penting bagi Linda.
“Jadi work-life balance bukan hanya yang rigid yang harus memisahkan pekerjaan dengan kehidupan sehari-hari, tetapi kita juga bisa menjaga energi kita,” ujarnya.
Ia menyadari betul bahwa dengan membagi waktu secara proporsional antara pekerjaan, istirahat, dan aktivitas pribadi, stamina dan kejernihan pikiran dapat terus terjaga dalam menjalani hari. Keseimbangan ini tak lagi hanya sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan, yang mana pada akhirnya dapat membantu meningkatkan kinerja.
“Kalau kita isinya cuman kerjaan doang, energinya drain. Tapi dengan adanya work-life balance hopefully energi bisa terjaga. Kita juga bisa lebih produktif dan ujungnya tentunya memberikan hasil positif ke diri sendiri dan ke pekerjaan,” tutupnya.