Lima gejala utama membayangi arah ekonomi global sepanjang 2026, yaitu moderasi pertumbuhan di tengah ketidakpastian, reorientasi ekonomi dari berbasis ekspor ke pasar domestik, berhentinya pelonggaran kebijakan moneter, ketidakteraturan peta geopolitik, hingga teknonasionalisme dan bubble asset dalam investasi AI.
Guna mempersiapkan diri menghadapi kelimanya, Indonesia membutuhkan antisipasi strategis yang tidak hanya merebut kembali kredibilitas dan kepercayaan pasar dan investasi, tetapi juga menemukan pijakan erat untuk menavigasi langkah selanjutnya.
CEO Standard Chartered Indonesia Donny Donosepoetro menyatakan, segala sesuatu yang dahulu sulit untuk dibayangkan kini mungkin bisa terjadi. Tembusnya batas-batas ketidakmungkinan ini menuntut pelaku usaha untuk bersaing menemukan playbook baru dalam manajemen risiko, khususnya ketika pertumbuhan ekonomi melambat.
"Tahun lalu kalau kita berpikir bahwa volatilitas itu disruptif, ternyata tidak juga. Malah pertumbuhan tahun lalu terbantu front loading ekspor pascapenetapan tarif Amerika Serikat. Sayangnya, efek front loading untuk mencegah perlambatan tidak akan ada lagi untuk tahun 2026," ucapnya dalam webinar "OJK Economy Outlook 2026", Kamis (19/2/2026).

Konsekuensi langsung dari pertumbuhan yang melambat dan berakhirnya efek front loading adalah pencarian terhadap driver baru dalam ekonomi. Perubahan struktur rantai pasok kini menuntut ekonomi global fokus pada ketahanan domestik masing-masing, mengurangi ketergantungan, dan memajukan kebijakan industrial di level nasional.
"Untuk menciptakan demand dari level domestik itu, pelonggaran kebijakan moneter digantikan stimulus fiskal. Kebijakan negara-negara Barat dalam mengurangi pajak adalah bagian dari strategi pertumbuhan baru berbasis dukungan fiskal, sehingga AS dan negara-negara Eropa akan mengatur ruang fiskal lebih besar untuk mendorong pertumbuhan," jelas Donny.
Ketidakteraturan peta geopolitik menjadi gejala keempat yang menurut Donny akan membayangi tahun 2026. Transisi dari tatanan dunia lama ke tatanan dunia baru tengah berlangsung, simultan dengan upaya menemukan ekuilibrium baru. Negara-negara kuat akan menggunakan pengaruh mereka menjadi aktor dominan di kawasan, serta pendalaman kerja sama dilakukan secara lebih intensif.
Langkah-langkah regionalisasi kekuatan global dan penguatan ekonomi domestik bermuara pada gejala kelima: kebangkitan teknonasionalisme dalam upaya penciptaan ekuilibrium. Donny menilai, persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok dalam pengembangan AI merupakan penentu geoekonomi baru yang setara dengan arms race pada masa Perang Dingin.
"Tiongkok lebih siap karena new economy mereka berasal dari dorongan AI-related dan riset teknologi berpaten. Investasi masuk ke Tiongkok masih lebih lunak, tetapi secara struktural, mereka sedang switch mesin pertumbuhan juga. Ekspor mereka ke AS turun, tetapi ekspor ke Afrika, Asia Tenggara, Latin Amerika, dan Eropa justru menguat," ungkap Donny.
Di tengah situasi tersebut, prospek Indonesia yang tetap cerah didukung daya tarik luar biasa, mulai dari keragaman komoditas yang diprioritaskan untuk hilirisasi serta stabilitas yang dinamis di kawasan dengan pertumbuhan tercepat di tengah perlambatan global.
"Konsistensi kebijakan akan jadi tolok ukur karena perusahaan global yang berinvestasi di emerging market juga tidak ingin menambah risiko. Mereka tahu emerging market tidak sempurna, mereka lebih siap jika risiko terdeteksi lebih awal. Iklim investasi yang kondusif akan membantu confidence investor global untuk masuk," tegasnya.
Donny menekankan, berbeda dengan persepsi umum, investor global tidak sepenuhnya transaksional dalam mencari tempat baru untuk menanamkan portofolio mereka. Referensi dari pengalaman perusahaan multinasional lain akan dirujuk untuk membuktikan klaim reputasi dan kredibilitas Indonesia yang digadang-gadang menjadi mesin pertumbuhan ASEAN setelah Vietnam dan Filipina.
"Menemukan potensi kita dan menjadikannya new source of growth menjadi penting ketika seluruh dunia bergerak menuju tatanan dunia baru. Tantangan akan selalu ada, seperti juga opportunity selalu ada. Ingat bahwa Indonesia berada di lingkungan yang sangat aman dan mendukung, sehingga tidak ada alasan kita tidak bisa mengapitalisasi kesempatan itu," pungkas Donny.
Tiga antisipasi strategis
Berbagi pandangan dengan Donny, ekonom senior dan Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional Mari Elka Pangestu menegaskan Indonesia memerlukan pertumbuhan rata-rata 6-7% hingga tahun 2030 untuk menjadi negara berpendapatan tinggi sebelum 2045 dan mencapai cita-cita Indonesia Emas.
"Pertumbuhan ekonomi 5-10 tahun ke depan akan menjadi kunci karena pada bonus demografi Indonesia berakhir pada 2041. Selain tumbuh tinggi, pertumbuhan tersebut harus menciptakan lapangan kerja formal karena pekerjaan informal di bawah upah minimum adalah sumber ketegangan sosial," cetus Mari.
Menteri Perdagangan 2004-2011 tersebut menekankan, salah satu bentuk antisipasi strategis Indonesia untuk mengejar pertumbuhan dan bersiap menghadapi lima gejala global dalam waktu dekat adalah reformasi struktural demi memulihkan kepercayaan dan kredibilitas, terutama setelah peristiwa MSCI dan penurunan outlook oleh Moody's Rating.
"Apa yang menyebabkan mereka berpendapat seperti itu adalah risiko fiskal, ketidakpastian kebijakan, dan meningkatnya ketidakpuasan publik. Karena itu, cara kita merespons adalah melakukan reformasi pasar secara menyeluruh dengan menempatkan sosok berintegritas sebagai leader," ujarnya.
Baca juga:
Mari membandingkan pengalaman India yang sempat mengalami peristiwa serupa, dan menuntut Perdana Menteri Narendra Modi untuk turun tangan menyelesaikannya. Dengan reformasi yang benar, India berhasil menarik aliran masuk modal asing hingga 9 kali lipat. Hal serupa juga dapat dialami Indonesia jika reformasi struktural dilaksanakan secara konsekuen.
Selain reformasi struktural, optimasi government technologies dengan menggunakan teknologi digital untuk memperbaiki pelayanan pemerintah dan integrasi data secara holistik akan memastikan stimulus fiskal yang telah digelontorkan dapat tersalurkan secara tepat. Di samping itu, deregulasi yang menarik investasi dan relokasi rantai pasok akan membuka jalan masuk bagi Indonesia dalam rantai pasok global baru nantinya.
"Ketika stimulus fiskal tepat waktu diberikan bersamaan ketika kepercayaan konsumen membaik, maka momentum pertumbuhan akan benar-benar terpacu. Ketidakpastian geopolitik membuat kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Resilient yes, tetapi juga harus transformatif. Kita harus diversifikasi risiko dari segi pasar, investasi, kerja sama, kemitraan seluas mungkin," tegasnya.
Mempertegas penjelasan Mari, Pejabat Sementara Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyatakan, OJK telah mempersiapkan tiga arah kebijakan prioritas di tahun 2026 demi memulihkan kepercayaan pasar, yaitu penguatan ketahanan sektor jasa keuangan, pengembangan ekosistem jasa keuangan yang kontributif, serta pendalaman pasar keuangan berkelanjutan.
"Percepatan reformasi integritas pasar modal Indonesia akan dilaksanakan bersamaan dengan penguatan integritas dan pemberantasan scam serta aktivitas keuangan ilegal untuk mendiversifikasi sistem keuangan dan membangun kembali kepercayaan masyarakat, yang menjadi keniscayaan bagi penguatan kredibilitas pasar ke depannya," cetus Friderica.