Kunjungan Presiden ke Rusia Perkuat Ketahanan Energi

Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Rusia pada April 2026 ditujukan antara lain untuk mengamankan suplai energi nasional di tengah krisis energi global. Ini adalah kunjungan yang ketiga Presiden Prabowo sejak menjadi presiden dan bertemu dengan Presiden Vladimir Putin.

Kunjungan Presiden ke Rusia Perkuat Ketahanan Energi

Nilai perdagangan antara RI - Rusia selama periode 2021-2025 menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi yang dinamis meskipun Indonesia terus mencatatkan defisit neraca perdagangan. Kunjungan Presiden Prabowo diharapkan tidak hanya sekadar mengamankan pasokan energi, tetapi juga menjadi momentum untuk menyeimbangkan posisi tawar Indonesia di pasar Rusia melalui komoditas-komoditas unggulan yang dimiliki.

Melihat tren perdagangan, Indonesia sempat menikmati surplus sebesar 239,15 juta dolar AS pada tahun 2021. Namun, tahun-tahun berikutnya neraca perdagangan Indonesia jatuh ke zona negatif dan mencapai titik terendah pada tahun 2023 dengan defisit sebesar 1,29 miliar dolar AS. 

Meski demikian, angka ekspor Indonesia pada tahun 2024 dan 2025 menunjukkan tren pemulihan yang kuat, meningkat dari 1,74 miliar dolar AS menjadi 1,87 miliar dolar AS. Kenaikan ekspor ini mengindikasikan produk Indonesia mulai kembali kompetitif di pasar Rusia. Akan tetapi, impor dari Rusia tumbuh lebih pesat, menyentuh angka 2,96 miliar dolar AS pada akhir 2025.

Struktur impor Indonesia dari Rusia pada tahun 2025 didominasi oleh komoditas bahan bakar mineral (Kode 27) dengan nilai mencapai 1,76 miliar dolar AS. Hal ini selaras dengan tujuan kunjungan Presiden Prabowo untuk memperkuat kerja sama energi, mengingat ketergantungan industri dalam negeri pada pasokan bahan bakar yang stabil. 

Selain energi, Rusia juga merupakan pemasok utama pupuk (senilai 697,96 juta dolar AS) yang krusial bagi ketahanan pangan nasional, serta logam mulia dan aluminium. Dominasi produk energi dan bahan baku ini menegaskan bahwa Rusia adalah mitra strategis bagi stabilitas infrastruktur dan agrikultur di tanah air.

Di sisi lain, Indonesia memiliki senjata ekonomi yang juga kuat melalui komoditas ekspor unggulannya. Lemak dan minyak hewani/nabati (Kode 15) menjadi primadona dengan nilai ekspor mencapai 972,84 juta dolar AS pada tahun 2025, hampir separuh dari total nilai ekspor ke Rusia. Kekuatan ini didukung oleh bahan kimia anorganik, kakao, serta kopi dan rempah-rempah yang memiliki pangsa pasar loyal di Rusia. 

Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Rusia kali ini bisa dijadikan momentum untuk menyiasati ketergantungan Indonesia pada impor energi Rusia yang sangat besar. Produk-produk hilirisasi perkebunan Indonesia memiliki potensi besar untuk menekan defisit perdagangan jika volume ekspor komoditas bernilai tambah ini terus ditingkatkan.

Pemerintah berpeluang menegosiasikan skema barter atau kerja sama investasi yang lebih seimbang. Langkah seperti mengoptimalkan ekspor minyak nabati dan rempah-rempah sambil mengamankan kuota bahan bakar mineral akan menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memperbaiki neraca perdagangan Indonesia-Rusia di masa depan.

Baca selengkapnya

Ω