Pegang Emas dan Dolar, Siasat Keuangan Aman saat Pasar Penuh Tekanan
Selama perilaku spekulasi ditahan, portofolio logam mulia fisik sebagai instrumen investasi jangka menengah dan panjang selalu andal dan layak diperhitungkan
Selama perilaku spekulasi ditahan, portofolio logam mulia fisik sebagai instrumen investasi jangka menengah dan panjang selalu andal dan layak diperhitungkan
Terbukanya peluang mendiversifikasi portofolio investasi menjadi sisi lain tekanan di pasar keuangan yang telah berjalan hampir sepanjang tahun. Di samping aset-aset likuid jangka pendek, logam mulia layak diperhitungkan untuk menjangkar nilai dalam jangka menengah hingga panjang. Selama perilaku spekulatif dapat ditahan, pilihan logam mulia yang tepat dapat mencegah tergerusnya nilai aset di tengah fluktuasi berjalan.
Direktur Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi menjelaskan, berlarutnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah hingga awal 2027 diproyeksikan menahan rata-rata harga minyak mentah ICP di kisaran USD 95-101 per barel. Dengan kurs rupiah sepanjang pekan terkunci di atas Rp18.000 per Dolar AS, nilai tersebut jauh melampaui asumsi makro yang melandasi perhitungan APBN 2026, termasuk defisit fiskal di dalamnya.
Lewat jalur pasar keuangan, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) untuk tenor 10 tahun telah bergerak naik menjadi 7,70% pada perdagangan Kamis (29/10/2026), tertinggi sejak 2022. Padahal, setiap kenaikan 0,1% imbal hasil SBN tenor 10 tahun akan merogoh kocek negara hingga Rp1,9 triliun. Akibatnya, beban bunga utang dipastikan akan semakin menekan ruang fiskal RI.
Di sisi lain, keputusan FOMC Meeting Federal Reserve untuk menahan suku bunga acuan Fed Funds Rate di rentang 3,75-4,00% di saat inflasi IHK AS terdorong ke 3,7% (yoy) diperkirakan tidak bertahan lama. Persiapan terdekat, Ibrahim menilai, adalah menghadapi kemungkinan terkerek naiknya yield SBN dan kenaikan suku bunga acuan BI Rate apabila The Fed menaikkan FFR di bulan November atau Desember mendatang.
Imbas tingginya tekanan terhadap kurs rupiah di pasar keuangan dan semakin jenuhnya yield obligasi Indonesia, Ibrahim menilai, menjadi dua faktor yang mendorong arus modal asing keluar. Peringatan Morgan Stanley Capital International (MSCI) beberapa pekan lalu, menurutnya, mengamplifikasi alarm untuk para investor dan manajer investasi untuk keluar lebih cepat, hingga memicu amblasnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
“Arus modal yang terus keluar Indonesia, legislatif dan pemerintah datang ke pasar modal. Seharusnya tidak perlu. Karena banyaknya intervensi dari pemerintah dan legislatif, pasar modal kita terus memerah Harusnya, pejabat mendukung MSCI agar transaksi di Indonesia benar-benar transparan,” tutur Ibrahim di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Seraya menanti hasil-hasil reformasi lebih struktural yang saat ini dikerjakan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai Juni 2027 mendatang, aset-aset logam mulia yang tengah mengalami penurunan harga imbas kenaikan harga minyak global dan menguatnya indeks Dolar DXY dapat dilirik sebagai alternatif. Di tengah fluktuasi, logam mulia dapat menjangkar nilai secara efektif untuk jangka menengah dan panjang.
Menurut Ibrahim, pergerakan harga emas yang stagnan cenderung turun selama beberapa bulan terakhir cenderung berasal dari faktor-faktor eksternal. Kuncinya, selama inflasi global masih tinggi, harga emas masih memiliki peluang untuk turun. Di sisi lain, momentum rendahnya selisih jual dan beli logam mulia saat ini justru berpotensi tidak terulang dua kali.
“Kondisi ini bagus karena jika eskalasi Timur Tengah naik, harga emas akan melambung. Seluruh dunia sedang menunggu apabila perang sampai pecah. Keputusan membeli saat ini cukup relevan, tetapi harga rendah bukan berarti wajib membeli. Dalam kondisi saat ini, emas paling cocok dialokasikan untuk portofolio jangka menengah dan panjang,” katanya.
Pekan lalu, dengan harga emas di pasar spot ditutup USD 3.995,63 per ons troy, Ibrahim menilai masih ada peluang harga emas kembali rebound di atas level USD 4.000 per ons troy. Meski tertekan dalam jangka pendek, bahkan berpotensi mencapai penurunan hingga USD 3.884 per ons troy, kenaikan lebih cepat diproyeksikan dapat terjadi menyusul hasil-hasil Pemilu sela Amerika Serikat yang memengaruhi konstelasi geopolitik ke depan.
Sementara volatilitas masih sangat tinggi, Ibrahim menilai langkah memindahkan dan membuka rekening valuta asing dalam jangka pendek sangatlah logis. Di tengah penguatan indeks DXY, Dolar AS menjanjikan perlindungan nilai dalam jangka pendek. Namun, mewaspadai kemungkinan inflasi di Amerika Serikat, pemindahan aset jangka menengah dan panjang ke tabungan emas dapat mulai dipertimbangkan.
“Emas fisik tidak bisa digunakan dengan sentimen fear of missiong out, seperti dibeli dengan pinjaman, kartu kredit. Gunakan uang yang menganggur, masukkan ke bullion bank. Secara komposisi, perbesar proporsi logam mulia untuk jangka panjang, 5-10 tahun, sementara sebagian kecil pindahkan ke Dolar untuk jangka pendek,” cetusnya.
Di Indonesia, skema seperti ini sejatinya telah dimungkinkan dengan dimulainya perdagangan ETF emas di Bursa Efek Indonesia pada bulan Agustus lalu. Dalam kondisi harga murah, strategi keuangan terbaik, terutama bagi pengusaha, adalah menyegerakan lindung nilai aset dalam portofolio tepat setelah memastikan arus kas tetap lancar.
Meski sarana telah tersedia, Ibrahim tidak menafikan bahwa tekanan mikroekonomi sangat mungkin memengaruhi keputusan investasi. Karenanya, sekalipun fasilitas bank bulion, emas digital, dan ETF emas terbuka dan saat ini harga sedang rendah, ia tidak heran jika minat pemindahan aset ke logam mulia relatif terbatas.
“Walau gejolak Timur Tengah masih panjang, investor tidak perlu panik jika memiliki instrumen investasi tepat dan dibeli dengan uang dingin. Pelemahan harga emas, adalah kesempatan yang bagus untuk masuk ke pasar. Investor yang memegang dollar akan diuntungkan dalam jangka pendek, tetapi emas dapat menjangkar nilai dalam jangka waktu lebih panjang,” tutur Ibrahim.
Sebelumnya, Vice President Bullion Marketing Strategy Bank Syariah Indonesia Kinanti Adelin mengingatkan bahwa bank emas saat ini masih dikenai PPh capital gain emas dengan besaran progresif 5%-35%.
Pembelian emas ritel memang tidak dikenakan pajak, tetapi pembelian oleh institusi masih dikenai PPh 0,25%. Jika peta jalan OJK ke depan mendorong investasi emas oleh institusi, PPh 0% akan mendongkrak nilai tambah produk ini.
Kinanti menegaskan, saat ini pihaknya berdasar roadmap perusahaan yang disusun, akan fokus membangun infrastruktur untuk ekspansi lebih banyak dan lebih jauh.
"Fokus saat ini di ritel, tetapi ke depan kami juga fokus institusi dan wholesale. Dari 23 juta nasabah, saat ini yang memiliki tabungan emas baru 1 juta. Strategi kami adalah meyakinkan nasabah internal sebelum ke luar. Literasi investasi emas akan terus kami perkuat," ujar Kinanti.
Salah satu langkah ekspansi nasabah itu adalah menyasar nasabah Generasi Z yang telah meningkat dari 24% menjadi 43% dari pangsa nasabah bank emas. "Paling utama adalah inklusi keuangan dan demokratisasi emas yang mudah dan dapat dimiliki semua kalangan, supaya 'emas yang di bawah bantal' masuk dalam sistem keuangan formal," cetusnya.
Senada, Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian Elen Setiadi mengungkapkan, layanan bank bulion masih terhalang minimnya literasi emas sebagai instrumen lindung nilai. Optimasi ekosistem investasi dan memperkuat sistem keuangan menjadi pekerjaan rumah selanjutnya.
Karenanya, selain menjajakan produk, Elen mengingatkan peran strategis bank emas sebagai instrumen keuangan adalah membantu percepatan hilirisasi logam mulia melalui integrasi rantai nilai, penguatan kapasitas produksi dan penguatan jasa bullion di hilir. Pasokan emas domestik yang terhubung dengan sistem keuangan, pada gilirannya membantu pasar emas nasional semakin tangguh.
"Melalui tata kelola emas yang optimal, ekosistem emas dapat mengurangi ketergantungan pasar keuangan terhadap guncangan likuiditas global, karena emas yang selama ini disimpan fisik dapat masuk ke sistem keuangan dan dimanfaatkan secara produktif," tegasnya.