Sofyan Djalil masih ingat benar hari pertamanya masuk kerja sebagai Asisten Menteri Negara Pendayagunaan Badan Usaha Milik Negara Tanri Abeng, suatu hari di tahun 1998, hanya beberapa waktu setelah Presiden Soeharto mengundurkan diri.
Ketika itu, demonstrasi besar-besaran terjadi hampir setiap hari di Jakarta sebagai bagian dari euforia kebebasan berpendapat pasca-Orde Baru. Syahdan, kantor baru Sofyan yang ketika itu menempati Gedung Bursa Efek Jakarta pun tidak luput dari sasaran demonstrasi, sekali ini dari para pekerja PT. Krakatau Steel yang ketika itu menolak rencana privatisasi yang sedang dipersiapkan pemerintah.
Demonstran berdatangan saat Sofyan tengah menunggu kedatangan Tanri Abeng yang tengah menghadiri rapat kabinet di Istana Negara. Tanpa perintah siapapun, ia berinisiatif memanggil 10 orang wakil demonstran dan menerima aspirasi mereka dalam dialog terbuka dan akrab, disela kelakar. Sofyan mencatat dan berjanji menyampaikan harapan itu kepada menteri.
Setelah makan siang, seorang pegawai melapor kepada Tanri tentang peristiwa yang baru saja terjadi.
"Pak Menteri, tadi ada demonstrasi luar biasa. Mereka diterima orang baru itu. Tidak lama setelah orang itu bicara dengan perwakilan mereka, demonstran itu bubar semua!"
Tanri memanggil Sofyan dan bertanya, "Sofyan, kamu terima demonstran tadi, ya? Oh, sudah lolos kamu sebagai asisten saya...."
Maka jadilah Sofyan asisten menteri BUMN di bidang komunikasi dan pengembangan sumber daya manusia. Dari sana, Sofyan meniti karier di pemerintahan hingga 13,5 tahun lamanya, berkesempatan menduduki jabatan di lima kementerian di bawah dua presiden.
"Waktu itu orang bercanda saya ini 'Menteri Teh Botol'. Anda tahu 'kan iklan Teh Botol itu, 'Apapun makanannya, minumnya Teh Botol'. Kata mereka, 'Siapapun presidennya, menterinya Sofyan Djalil,' kecuali yang sekarang ya, ha...ha...ha...," kisah Sofyan saat membuka percakapan.
Ikuti garis tangan
Sofyan mengakui sejarah hidupnya adalah serangkaian kebetulan. Lulus dari sekolah agama di kampung halamannya, Aceh Timur, Sofyan sempat bekerja sebagai guru pendidikan agama Islam di sekolah dasar dan pabrik karet sebelum pergi ke Jakarta di usia 23 tahun pada 1976. Bukan untuk bekerja, melainkan menghadiri Muktamar Pelajar Islam Indonesia (PII).
"Selesai muktamar, karena tidak punya rumah dan tidak ada keluarga di Jakarta, saya tidur di masjid, di Markas Besar PII Jalan Menteng Raya. Sempat menganggur dan tidak punya uang, saya kemudian bekerja membantu tukang koran sebelum mendapat pekerjaan sebagai pengurus masjid di Kejaksaan Agung," cetusnya.
Menyisihkan sebagian penghasilan sebagai pembina rohani korps adhyaksa, Sofyan memutuskan mendaftar kuliah malam di Fakultas Hukum Universitas Indonesia di usia 25 tahun, pada 1978, dan berhasil meraih gelar sarjana hukum pada 1984, atau dua tahun setelah meminang belahan jiwanya, Ratna Megawangi.
Peneliti adalah pekerjaan pertama Sofyan usai lulus kuliah. Ketika itu, sebuah lembaga penelitian baru bernama Center for Policy and Implementation Studies (CPIS) baru saja dirintis oleh tokoh-tokoh ekonom dan teknokrat Orde Baru, antara lain Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, J.B. Sumarlin, dan Saleh Afiff.
Dua tahun menjadi peneliti, ia berkesempatan meneruskan jenjang pendidikan ke Universitas Tufts di Medford, Massachusetts, Amerika Serikat, pada 1987. Sofyan ingat, ia pergi belajar ke negeri Paman Sam dengan nilai TOEFL yang tidak lebih dari 550. Beruntung, seorang temannya, Wayne White, bersedia membantu Sofyan mengoreksi tata bahasa untuk makalah dan tugas-tugas kuliahnya.
"Suatu kali, Wayne pindah apartemen. Karena sering membantu saya, saya ingin balas budi dan membantu dia membersihkan apartemen sebelum pindah. Ketika saya datang, bukan hanya apartemen yang sudah bersih, tetapi dia sedang mengecat ulang kamar, memperbaiki keran, dan mengganti bohlam lampu dengan biaya sendiri."
Saya bertanya kepada Wayne, "Mengapa kamu melakukan ini semua?" Jawabannya mengubah cara saya memandang dunia. Ia bilang, "Sofyan, saya ingin di manapun saya berada, saya harus menciptakan nilai tambah. Apartemen ini harus lebih baik saat saya keluar dibandingkan waktu saya masuk...."
Pelajaran hidup itulah yang Sofyan pegang saat garis tangan menuntunnya keluar-masuk berbagai kabinet, mulai dari Menteri Komunikasi dan Informatika (2004-2007), Menteri BUMN (2007-2009), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (2014-2015), Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas (2015-2016), hingga Menteri Agraria dan Tata Ruang (2016-2022).
Tegak di atas prinsip meritokrasi, ialah yang menunjuk Ignasius Jonan membenahi PT. Kereta Api Indonesia dan Richard Joost Lino merombak PT. Pelabuhan Indonesia II. Pilihannya terbukti. Kedua BUMN itu sukses mengalami transformasi besar-besaran di tangan orang-orang pilihan Sofyan.
Kini, kredibilitas dan profesionalitas membuat Sofyan masih dipercaya menduduki jabatan komisaris, penasihat, konsultan, hingga CEO think-tank. Reputasi terpercaya yang ia miliki dan buktikan sepanjang kariernya berbuah manis, sekaligus membuat Sofyan tak sempat memikirkan pensiun atau berpangku tangan menikmati hari tua.
"Sekarang, umur saya menjelang 73, tetapi saya tidak merasa seperti orang umur 73. Saya masih sering naik MRT dan LRT, masih kuat jalan kaki pulang ke rumah dari stasiun. Ketika orang bertanya berapa usia sekarang, saya jawab, 'Yaaa, 40 lebih... ha...ha...ha...'
Sehat jiwa-raga
Tidak ada rahasia khusus yang Sofyan miliki untuk tetap tajam dan produktif di usia lewat tujuh puluh. "Kalaupun ada," katanya, "maka yang pertama adalah positive attitude, dan yang kedua adalah menjaga kesehatan batin." Keduanya, menurut Sofyan, harus dilaksanakan secara berimbang dan disiplin.
Dalam kiat pertama, sesuai prinsipnya, Sofyan berusaha memberikan nilai tambah bagi lingkungan sekitar rumahnya. Ketika baru membeli rumah sepulang dari Amerika Serikat, ia berinisiatif berbelanja bibit dan menanam pohon di perumahan yang ketika itu masih gersang. Kini, setelah pohon-pohon itu tumbuh besar dan rindang, orang-orang masih mengenali tumbuhan itu sebagai "pohon Pak Sofyan".
Gerak badan menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar dalam irama hidup seorang Sofyan Djalil. Tak harus olahraga khusus, Sofyan menemukan aktivitas gerak badan saat membersihkan selokan!
"Dari ujung ke ujung (saya suka bersihkan selokan), dan ini sekalian olahraga, 'kan? Sehat, kena matahari, dapat vitamin D. Setelah bersih, nanti tukang sampah tinggal ambil dan buang. Olahraga tercapai, got tidak mampet, dan bisa berbagi rezeki," kisahnya.
Selain membersihkan selokan, Sofyan memiliki waktu untuk menggarap sepetak tanah milik tetangga di depan rumahnya sebagai kebun ramban. Di sana, ia menanam cabai, kacang panjang, ubi Jepang, terong, hingga pisang kate. Saat panen, siapapun dapat mengambil secara cuma-cuma.

Sofyan mengimbangi gerak badan itu dengan menjaga kesehatan batin. "Saya usahakan target saya jalan sehari itu paling sedikit 6.500 langkah. Paling sedikit. Kadang-kadang dapat 10.000, kadang 12.000. Kadang ke kantor naik MRT, pulang jalan kaki dapat 12.000 langkah. Sambil jalan itu, saya sambil berzikir, istighfar, menyebut nama Tuhan. Itu menenangkan hati," kisah Sofyan.
Candaan dan lelucon segar yang mengalir sepanjang percakapan kami membuktikan ringannya beban di pikiran Sofyan. Menghindari stress, jokes selalu terselip saat bercakap-cakap dengan siapapun. "Saya tidak pernah stress. Kalaupun iya, saya yang bikin orang lain stress ha...ha...ha..."
Kunci lain untuk menjaga kesehatan batin adalah menghindari dua sikap buruk, yaitu dendam dan penyesalan. Sepanjang pengalaman menjadi menteri, tak terhitung pegawai kementerian yang telah Sofyan pecat karena melakukan pelanggaran disiplin atau tidak mampu memenuhi kapasitas profesional dalam melaksanakan pekerjaan.
Namun, Sofyan tetap berusaha menjaga relasi yang baik dan tidak membawa tindakan itu ke ranah personal. Salah seorang direktur yang pernah diberhentikan saat menjabat menteri BUMN bahkan pernah mengundang Sofyan menjadi saksi pernikahan anak kandungnya, beberapa tahun setelah peristiwa itu berlalu.
Saya percaya pada kata-kata Master Oogway dalam film Kung Fu Panda. "Yesterday is history. Tomorrow is a mystery. But today is a gift. That's why it's called present." No regret. Apapun yang sudah terjadi, itulah yang terbaik.

Menjadi 'investor'
Menyelesaikan jabatan di pemerintahan dengan rekam jejak bersih dan cemerlang, Sofyan percaya yang terpenting dari sebuah jabatan adalah legacy yang dapat ditinggalkan. Tak berhenti pada transformasi BUMN, Sofyan menanamkan legacy dengan mengelola Indonesia Heritage Foundation, sebuah yayasan yang fokus menyediakan pendidikan berbasis karakter bersama sang istri.
"Saya suka bercanda ini adalah proyek PMA, Penanaman Modal Akhirat, karena kami tidak punya kepentingan di sini. Sekarang, sudah lebih dari 200.000 guru yang dilatih yayasan ini, karena saya percaya kunci kemajuan sebuah negara adalah membuat warganya memiliki karakter yang baik," tegasnya.
Di sela pekerjaannya yang tetap padat, Sofyan juga menyempatkan diri menyusun sebuah memoar yang rencananya akan diluncurkan pada momentum 50 tahun pernikahannya, sekitar 6 tahun dari sekarang. Keputusan itu disengaja, menurut Sofyan, agar isi memoar tersebut tidak hanya membanggakan diri sendiri, tetapi juga menjadi refleksi perjalanan hidup.
Sampai kapan Sofyan akan terus bekerja?
"Saya akan tetap produktif sepanjang saya bisa bekerja. Doa saya cuma satu: 'Ya Allah, jika saya tidak bermanfaat lagi dalam pandangan-Mu, biarkan kematian saya nanti tidak merepotkan orang lain.'