Ketika Minyak Membara, IHSG dan Rupiah Tak Berdaya

Harga minyak mentah yang telah tembus USD100 per barel memicu depresiasi rupiah dan koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (9/3/2026). Bagaimana ke depannya?

Daftar Isi

Lonjakan tajam harga minyak mentah dunia yang menembus level psikologis US$100 per barel mengguncang pasar keuangan global dan menekan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan Senin (9/3/2026).

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat melonjak 18,98% atau naik US$17,25 menjadi US$108,15 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent juga menguat signifikan sebesar 16,19% atau bertambah US$15,01 ke level US$107,70 per barel.

Kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah mendorong aksi jual di berbagai bursa saham, termasuk Indonesia, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap dampak inflasi dan gangguan pasokan energi global.

Tekanan pada pasar saham terjadi bersamaan dengan reli harga minyak mentah global yang melonjak tajam setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran memicu gangguan pasokan energi di kawasan Timur Tengah. Harga minyak dunia bahkan kembali menembus level US$100 per barel, yang terakhir kali terjadi setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, merosot 248 poins atau 3,27% menjadi pada level 7.337. Lonjakan harga energi juga memicu tekanan pada pasar saham global. Bursa saham Amerika Serikat mengalami penurunan signifikan dengan indeks Dow Jones merosot 851,6 poin atau sekitar 2%. Indeks S&P 500 dan Nasdaq juga terkoreksi masing-masing sebesar 1,73% dan 1,65%.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan menjelaskan, pergerakan harga komoditas global di tengah kecamuk perang AS-Israel Vs Iran juga akan menjadi perhatian karena berpotensi menjadi penopang bagi saham-saham berbasis energi dan sumber daya alam.

Berbicara tentang perdagangan pasar modal dalam sepekan ke depan 9-13 Maret 2026 dengan proyeksi IHSG di support 7.400 dan resistance 7.900, David mengimbau para trader dan investor untuk mencermati sentimen Rating Risk dan tensi geopolitik.

"Fokus utama pelaku pasar pada pekan depan kemungkinan masih tertuju pada stabilitas sentimen investor terhadap ekonomi domestik, terutama setelah revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch Ratings yang memicu kehati-hatian di pasar," tegasnya.

 Ia menambahkan investor akan mencermati apakah tekanan jual asing mulai mereda, pergerakan nilai tukar Rupiah tetap stabil dan bagaimana respon kebijakan dari Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar.

Depresiasi rupiah

Tak hanya IHSG, tekanan eksternal dan domestik memicu pelemahan tajam nilai tukar rupiah. Pantauan Suar.id di sejumlah kurs perbankan, nilai tukar rupiah sudah menembus Rp17.000 per dollar AS. Kendati demikian, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada perdagangan Senin (9/3/2026) ditutup pada level Rp16.974.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan pasar keuangan domestik terjadi sejak pembukaan perdagangan, seiring meningkatnya ketidakpastian global dan sejumlah dinamika kebijakan di dalam negeri.

“Pada saat pembukaan pasar tadi jam 6, indeks dolar itu terjadi gap up yang cukup tajam. Kemudian harga-harga semua mengalami pelemahan termasuk rupiah ke Rp17.000. Kemudian indeks harga saham gabungan ini pun juga melemah, tadinya hampir 5 persen walaupun saat ini sedikit pelemahannya sedikit berkurang di 3,57 saat ini di level 7.315,” kata Ibrahim dalam keterangannya.

Menurut Ibrahim, tekanan utama berasal dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah setelah pergantian kepemimpinan di Iran. Pemimpin baru Iran, Muqtaba Khomeini, dinilai memiliki garis politik yang kuat sehingga meningkatkan kekhawatiran eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Ia menjelaskan ketegangan semakin meningkat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengancam akan mengganti rezim di Iran. Situasi ini memicu risiko penutupan Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi global.

Untuk diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur utama ekspor minyak dari sejumlah negara produsen seperti Uni Emirat Arab, Irak, dan Arab Saudi. Ketegangan yang meningkat membuat beberapa negara produsen mengurangi produksi, sehingga mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia.

“Nah mengurangi produksi inilah yang membuat harga minyak mentah dunia, baik yang crude oil maupun Brent crude oil, melonjak tinggi. Bahkan saat ini di 117 antara crude oil dan Brent crude oil,” jelasnya.

Baca juga:

Genderang Perang Timur Tengah Bayangi Rantai Pasok Energi Indonesia
Gangguan di Selat Hormuz berpotensi memicu lonjakan harga minyak dunia akibat terganggunya pasokan. Kenaikan harga minyak berisiko mendorong harga Bahan Bakar Minyak (BBM) domestik naik dan memicu tekanan inflasi di dalam negeri.

Ibrahim pun menyebut harga minyak mentah dunia berpotensi mencapai 200 dolar AS per barel jika krisis Timur Tengah tidak menemukan penyelesaian dalam satu bulan ke depan.

Lonjakan harga energi global tersebut dikhawatirkan berdampak luas terhadap perekonomian, termasuk meningkatkan risiko krisis ekonomi global seperti yang pernah terjadi pada 2008.

Selain faktor eksternal, tekanan terhadap rupiah dan pasar saham juga dipengaruhi dinamika kebijakan domestik. Pemerintah sebelumnya menyatakan harga bahan bakar minyak (BBM) masih dapat dijaga stabil dalam sekitar 20 hari ke depan selama harga minyak berada pada kisaran normal.

Namun kondisi pasar energi global saat ini menunjukkan harga minyak telah melampaui ambang yang dianggap aman. Menurut Ibrahim, harga minyak normal yang masih dapat diantisipasi pemerintah berada di sekitar 92 dolar AS per barel.

“Kalau seandainya harga di atas 92, itu adalah harga yang paling normal. Pemerintah masih bisa melakukan antisipasi. Tetapi kita melihat bahwa hari ini harga crude oil dan Brent crude oil itu di atas 100–117,” ujarnya.

Ia menilai situasi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Defisit anggaran diperkirakan dapat melebar hingga sekitar 3,6 persen jika harga energi terus meningkat.

Tekanan fiskal itu juga berpotensi memicu penyesuaian belanja pemerintah, termasuk kemungkinan pengurangan sejumlah pos anggaran.

Di sisi lain, dinamika politik dalam negeri turut memengaruhi sentimen pasar. Ibrahim menyinggung pertemuan antara Presiden dan sejumlah ulama yang membahas kemungkinan sikap Indonesia terhadap sejumlah forum internasional, termasuk opsi keluar dari Board of Peace (BoP).

Potensi krisis energi dari Selat Hormuz

Gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah, termasuk penutupan jalur strategis Selat Hormuz dan kerusakan sejumlah fasilitas kilang minyak di kawasan tersebut, dinilai menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga energi global serta menekan sentimen pasar.

Peneliti Center of Industry, Trade and Investment Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus, menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak terjadi karena terganggunya sisi pasokan global. Konflik di Timur Tengah membuat sejumlah fasilitas produksi dan kilang minyak terdampak, sehingga distribusi minyak mentah ke berbagai kawasan, termasuk Asia, mengalami hambatan.

Menurut Heri, situasi semakin diperparah oleh penutupan Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur utama distribusi minyak mentah dunia. Jalur tersebut selama ini menjadi rute penting pengiriman energi dari Timur Tengah menuju pasar Asia, termasuk Indonesia.

“Ditambah lagi dengan penutupan Selat Hormuz di mana selat itu merupakan salah satu jalur utama yang mendistribusikan minyak mentah ke wilayah Asia. Apalagi kebutuhan minyak mentah Indonesia itu sebesar 25% harus lewat Selat Hormuz,” kata dia.

Baca juga:

Bersiap Hadapi Turbulensi Ketidakpastian Global
Kurasi peristiwa terpenting yang perlu diketahui semesta dunia usaha untuk mengawali hari.

Gangguan pasokan tersebut membuat harga minyak melonjak dan memicu ketidakpastian di pasar keuangan global. Kondisi ini juga tercermin dari pelemahan IHSG karena investor cenderung menahan keputusan investasi saat situasi ekonomi global tidak menentu.

“IHSG itu indikator yang mencerminkan keyakinan pasar. Kalau investor kurang yakin dalam kondisi ini maka mereka akan menunda keputusannya untuk melakukan investasi atau membeli saham,” jelasnya.

Dalam situasi ketidakpastian seperti saat ini, investor biasanya mengalihkan dana ke instrumen yang dinilai lebih aman, seperti komoditas emas.

“Nah alternatif dari investor itu kalau mau investasi dalam situasi kayak gini biasanya membeli komoditas yang pastilah, kayak emas. Itu dianggap lebih aman,” tuturnya.

Lonjakan harga minyak juga berpotensi menimbulkan tekanan terhadap fiskal negara. Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia masih menanggung subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang dapat membengkak ketika harga energi global meningkat. Saat harga naik maka subsidinya bisa membengkak. Ruang fiskal kita makin terbatas atau bahkan terjadi pelebaran defisit.

Menurut dia, pemerintah menghadapi pilihan sulit antara menambah beban subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau melakukan penyesuaian harga BBM bersubsidi. 

Kenaikan biaya energi tersebut juga berpotensi memicu inflasi karena hampir seluruh sektor industri menggunakan energi sebagai input produksi. Industri manufaktur, logistik, hingga sektor pangan dapat terdampak oleh kenaikan biaya operasional. Kenaikan biaya produksi itu akan memicu kenaikan harga jual, saat itulah inflasi terjadi.

Selain itu, kenaikan harga energi juga dapat memengaruhi sektor pertanian. Distribusi gas impor yang digunakan sebagai bahan baku pupuk turut melewati jalur perdagangan di kawasan Timur Tengah, sehingga gangguan logistik berpotensi menaikkan harga pupuk dan berdampak pada harga pangan.

“Kalau harga gas naik maka harga pupuk juga naik. Implikasinya harga pangan juga bisa naik,” katanya.

Untuk meredam dampak lonjakan harga minyak global, pemerintah dinilai perlu menyiapkan strategi alternatif, terutama dalam menjaga pasokan energi dan memperkuat kerja sama dengan negara yang relatif bebas konflik.

“Pada jangka pendek kita harus mencari strategi alternatif, misalnya memperkuat kerja sama dengan negara-negara Asia atau negara yang bebas konflik,” imbuhnya.

Ia juga menyebut Indonesia dapat mempertimbangkan diversifikasi sumber impor energi, termasuk memperluas kerja sama dengan negara lain seperti Amerika Serikat atau negara di kawasan Asia Pasifik. Selain itu, stabilitas ekonomi domestik perlu dijaga agar daya beli masyarakat tidak tertekan di tengah kenaikan harga energi global.

Baca selengkapnya