Investor mancanegara meyakini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)/Jakarta Composite Index (JCI) bakal pulih. Keyakinan ini bersumber dari fundamental IHSG yang ditopang oleh upaya Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menindaklanjuti masukan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Implementasi kebijakan tegas dan terukur terhadap emiten yang tidak patuh akan membuat IHSG tak hanya kembali bangkit, tetapi juga membantu investor ritel lebih siap menghadapi turbulensi.
Senior Partner Wealth management SGMC Capital Mohit Mirpuri menjelaskan, dibandingkan dengan pasar modal di negara lain, IHSG sejatinya telah bertumbuh dengan rata-rata 13,9% selama 20 tahun terakhir, mengalahkan S&P 500 maupun Nasdaq dalam kurun yang sama. Karena itu, fundamental pasar modal Indonesia tidak perlu diragukan.
"Sekalipun fundamental kuat, investor mancanegara sulit diyakinkan karena short term noise, termasuk ketika pengumuman MSCI kemarin. Padahal, volatilitas dan sentimen negatif jangka pendek tidak serta-merta memengaruhi fundamental jangka panjang," jelas Mirpuri saat membuka Bloomberg Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (12/02/2026).
Mirpuri mengungkap ada tiga mispersepsi investor mancanegara terhadap pasar modal Indonesia selama ini. Pertama, Indonesia adalah negara commodities-driven, bukan capital-driven, sehingga struktur pasar modal tidak memudahkan akses investor terhadap return. Kedua, permintaan domestik relatif lemah. Ketiga, portofolio tidak menunjukkan kredibilitas. Ketiga mispersepsi ini diperkuat pembekuan MSCI beberapa waktu lalu.
"Jika sentimen negatif ini diabaikan dan fokus pada jangka panjang, maka Indonesia cenderung menjanjikan durability dan ketahanan bursa dalam menghadapi krisis. Indonesia perlu mengomunikasikan ini. Ya, pasar modal kami tidak sempurna dan masih undervalued, tetapi kami terbukti tangguh menghadapi krisis dan ini lebih penting daripada valuasi tinggi," tegasnya.
Mirpuri menekankan investor mancanegara hanya dapat diyakinkan oleh kredibilitas kebijakan yang terbukti lewat disiplin fiskal, transmisi penurunan suku bunga acuan terhadap permintaan kredit, serta pergerakan pasar yang lebih dinamis. Pembuktian-pembuktian itu akan mengirim sinyal telah membaiknya siklus konsumsi dan struktur pasar telah siap menyerap aliran modal dalam jumlah besar.
"Pasar modal Indonesia tidak perlu menjadi sempurna, selama komitmen untuk tetap tangguh dan bertahan dibuktikan dengan respons terukur terhadap peringatan konstruktif seperti yang disampaikan MSCI. Bagi kami, bingkai besar ketangguhan pasar modal Indonesia sudah tampak, tetapi ruang pengembangan portofolio masih perlu digarap lebih jauh," tutur Mirpuri.
Baca juga:
Prospektif
Menanggapi ekspektasi tersebut, Plt. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa mekanisme internal sehari-hari dilaksanakan simultan dengan perubahan struktur organisasi pasar modal dan pembenahan secara berkesinambungan. Setelah tiga kali pertemuan dengan MSCI pada tanggal 2, 5, dan 11 Februari 2026, BEI telah merumuskan rencana kerja strategis sesuai keputusan pertemuan.
"Ibarat turbulensi, kami hanya punya satu pilihan. Terbang lebih rendah bukan pilihan tepat saat ini, sehingga kami hanya bisa terbang lebih tinggi. Ini adalah momen yang sangat tepat, sangat berharga, untuk membenahi pasar kita secara signifikan, dan itu yang sedang kami kerjakan secara berkesinambungan," cetus Jeffrey.
Dukungan dari emiten, analis, pemerintah, dan investor telah memantapkan langkah bursa untuk mempersiapkan disclosure pemegang saham di atas 1%, penetapan 28 subtipe investor, khususnya kategori korporat dan lain-lain, penetapan ketentuan minimum free float menjadi 15%, penerbitan shareholders concentration list yang dapat diketahui publik, serta penambahan syarat minimum IPO agar semakin berkualitas.
Baca juga:

Membenarkan diagnosis Mirpuri, Jeffrey mengakui bahwa pasar modal Indonesia bukan sekali mengalami crash sepanjang sejarah perdagangan. Trust issue dari berbagai pihak timbul dan tenggelam berkali-kali. Namun, Jeffrey menegaskan pasar modal Indonesia tidak hanya berhasil melewati crash dan krisis dengan baik, tetapi mampu menjadi lebih besar dan kuat.
"Tugas kami di bursa adalah menyelenggarakan pasar untuk memastikan perdagangan yang teratur, wajar, dan efisien. Di sisi supply, kami fokus berkomunikasi dengan 49 emiten yang mewakili 90% market cap untuk diatur dengan baik. Dari sisi demand, investor ritel kita sudah mencapai 21,3 juta SID dengan aset di atas Rp100 triliun. Ini potensi demand yang luar biasa, sehingga pasar kita tetap berimbang ke depannya," jelasnya.
Sepandangan dengan Jeffrey, Ketua Umum Asosiasi Analis Efek Indonesia David Sutyanto mengatakan tidak adanya isu besar dalam ekonomi Indonesia memungkinkan pertumbuhan pasar modal dapat lebih cepat, terutama ketika harga komoditas bergerak masif dan IHSG dapat mengikutinya dengan baik. Dengan rekalibrasi pasca-MSCI, analis dapat menyusun prospek lebih jitu, termasuk mengantisipasi turbulensi dari luar.
"Rasio market cap kita masih 0,7 kali PDB. Kalau ditingkatkan 1-2 kali masih bisa bertambah Rp2 triliun. Untuk mencapai ini, harus ada penambahan emiten jumbo dan berkualitas bagus. Dari sisi demand, pemerintah sudah membuka ruang relaksasi, sehingga tugas kita menjaga investor domestik semakin banyak dan semakin besar asetnya agar resiliensi kita makin bagus," jelas David.
Selain tindakan proaktif untuk memperbaiki transparansi dan integritas dari sisi supply sebagaimana telah dilakukan pemerintah, CEO Sucor Sekuritas Bernardus Setya Ananda Wijaya mengungkapkan pemulihan kepercayaan investor telah terbukti dengan kenaikan IHSG selama beberapa hari terakhir.
"Kembalinya harga saham dengan support area yang kuat menunjukkan trust pada OJK dan BEI yang sangat serius menanggapi MSCI. Kami mengharapkan keterbukaan ini berlangsung terus sehingga investor bisa lebih tenang, percaya diri, dan dapat menanamkan modal pada aset yang tepat," cetusnya.
Pesatnya pertumbuhan investor ritel, menurut Bernardus, menjadi bukti bahwa investor usia muda mulai teredukasi dan berani berinvestasi di pasar saham. SID yang telah mencapai 21,3 juta, dengan 8 juta di antaranya adalah investor aktif, menunjukkan bahwa keterbukaan informasi dan transparansi akan membantu pengambilan keputusan lebih bijak.
"Price in yang terjadi cukup menarik untuk konsolidasi. Ini peluang emas, menurut saya. Edukasi yang tepat perlu terus dilakukan agar investor ritel bisa belajar melihat fundamental saham, analisis makro, dan pengetahuan dasar tentang capital inflow dan outflow sehingga mereka tumbuh sebagai investor jangka panjang, bukan sekadar fear of missing out (FOMO)," tegas Bernardus.
Menambahkan penjelasan Bernardus, David menilai tren takut tertinggal di kalangan investor muda menunjukkan pentingnya komunikasi terbuka otoritas bursa dan pemerintah mengenai progress reformasi pasar modal dan dampaknya bagi investor ritel. Komunikasi terbuka tersebut sekaligus akan mengubah pola pikir investor muda untuk melihat fundamental jangka panjang, bukan asal membeli "serok".
"Investor muda pasti terpacu mencari keuntungan, tetapi dengan komunikasi dan edukasi, kita bantu mereka belajar mencari prospek. Semisal saat saham naik tidak wajar, bursa perlu mengeluarkannya dari margin. Kalau sahamnya masih wajar, investor perlu tahu cara melihat sejauh mana performanya. Selama tidak ada manipulasi, ruang growth pasar modal kita masih sangat menarik dan terbuka lebar," pungkasnya.