Kendaraan Pribadi Masih Jadi Favorit Pilihan Pemudik

Mayoritas pemudik masih memilih bepergian menggunakan pribadi pada momen libur Lebaran 2026 ini. Adapun untuk arus balik, moda favorit pemudik adalah dengan pesawat.

Kendaraan Pribadi Masih Jadi Favorit Pilihan Pemudik
Foto udara antrean kendaraan yang memasuki Gerbang Tol Banyumanik menuju arah Jakarta di Semarang, Jawa Tengah, Rabu (25/3/2026). Foto: Antara/Aprillio Akbar.
Daftar Isi

Mayoritas pemudik masih memilih bepergian menggunakan pribadi pada momen libur Lebaran 2026 ini. Adapun untuk arus balik, moda favorit pemudik adalah dengan pesawat.

Berdasarkan Survei Angkutan Lebaran 2026 yang dilakukan Kementerian Perhubungan bersama Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), dan Lembaga Afiliasi Penelitian dan Industri Institut Teknologi Bandung (LAPI ITB), menyebutkan beragam jenis moda transportasi pilihan pemudik.

Secara komposisi, mayoritas perjalanan masih didominasi kendaraan pribadi sebesar 69,72% atau sekitar 100,32 juta orang. Rinciannya, mobil pribadi mencapai 52,98% dan sepeda motor 16,74 persen.

Sementara penggunaan transportasi umum relatif lebih rendah, dengan bus sebesar 16,22% (23,34 juta), kapal penyeberangan 4,45% (6,40 juta), pesawat 3,46% (5,98 juta), kereta api antarkota 3,33% (4,79 juta), KA perkotaan 1,51% (2,17 juta), kapal laut 0,64% (926,12 ribu), dan kereta cepat 0,47% (682,90 ribu).

Adapun secara keseluruhan diperkirakan sebanyak 143,9 juta orang melakukan perjalanan selama periode mudik.

Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno mengatakan, menilai tingginya penggunaan kendaraan pribadi tidak terlepas dari keterbatasan layanan transportasi umum, khususnya di daerah tujuan. Kondisi ini membuat masyarakat tetap mengandalkan kendaraan pribadi untuk mobilitas lanjutan atau last mile.

“Kalau saya naik angkutan umum sampai ke daerah tujuan itu enggak sampai. Itu hanya terminal di kota saja. Saya ingin sampai ke desa saya,” ujar Djoko saat dihubungi, Rabu (25/3/2026).

Ia menambahkan, tekanan ekonomi mendorong masyarakat memilih moda transportasi yang lebih murah, termasuk sepeda motor, meskipun tidak ideal untuk perjalanan jarak jauh.

Di sisi lain, penumpukan di simpul transportasi seperti bandara, stasiun, dan pelabuhan dinilai sulit dihindari saat puncak arus balik karena waktu libur yang serentak, terutama bagi pekerja sektor formal dan industri.

“Kalau seperti itu enggak bisa dihindari. Karena orang bersamaan mau mudik,” cetusnya.

Pemudik memasuki lambung kapal di Pelabuhan Ciwandan, Kota Cilegon, Banten, Rabu (18/3/2026). Pada puncak arus mudik Lebaran 2026, antrean pemudik di penyeberangan pulau Jawa-Sumatera tersebut terus meningkat dengan volume mencapai ribuan kendaraan sepeda motor yang terjadi pada tengah malam hingga dini hari. Foto: Antara/Muhammad Bagus Khoirunas/foc.

Djoko menekankan bahwa fokus utama bukan menghilangkan kepadatan, melainkan memastikan pelayanan tetap optimal saat puncak mobilitas. Infrastruktur transportasi, kata dia, tidak dirancang untuk menghadapi lonjakan ekstrem yang bersifat temporer seperti Lebaran.

“Yang penting bagaimana pada saat puncak itu bisa terlayani dengan baik. Dan lagi infrastruktur yang ada itu bukan digunakan untuk kondisi anomali seperti sekarang,” jelas Djoko.

Arus balik mengejar hari kerja

Ia menambahkan, padatnya arus balik dipicu peningkatan mobilitas terjadi karena pekerja formal kembali ke aktivitas kerja dalam waktu bersamaan, sementara secara keseluruhan tren pergerakan mudik justru menurun dalam beberapa tahun terakhir.

“Kalau hari ini kerja, ya wajar kok tadi malam atau kemarin malam atau tadi pagi melonjak. Itu hal yang wajarlah,” ujar Djoko.

Meski demikian, ia mengakui kondisi arus mudik saat ini jauh lebih baik dibandingkan sebelumnya, terutama sejak tersambungnya Tol Trans Jawa. Kemacetan ekstrem hingga membuat pemudik menginap di jalan, menurutnya, sudah tidak terjadi lagi.

“Sekarang sebenarnya lebih lancar. Sudah enggak ada lagi orang mudik di Jawa Tengah menginap di jalan,” ungkap Djoko.

Rekayasa lalu lintas seperti sistem satu arah (one way) dan contraflow dinilai efektif dalam menjaga kelancaran arus kendaraan. Namun, ia mengingatkan risiko baru berupa kelelahan pengemudi yang berkontribusi terhadap kecelakaan di jalan tol.

Ia mengimbau pengemudi untuk tidak bergantung pada rest area di tol yang kerap penuh, melainkan merencanakan titik istirahat di luar gerbang tol. Kampanye keselamatan, menurutnya, perlu difokuskan pada manajemen kelelahan pengemudi.

Lebih jauh, Djoko menilai keberhasilan mudik ke depan harus diukur dari kemampuan pemerintah menekan penggunaan sepeda motor dan meningkatkan penggunaan transportasi umum, seiring masih terbatasnya layanan angkutan di daerah tujuan.

Ia menambahkan, tanpa perbaikan konektivitas transportasi di daerah, masyarakat akan tetap bergantung pada kendaraan pribadi. Program mudik gratis yang mulai digencarkan pemerintah daerah dinilai positif, namun perlu diikuti dengan penyediaan angkutan lanjutan yang memadai.

Djoko menegaskan, penguatan transportasi umum menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi sekaligus meningkatkan keselamatan selama periode mudik Lebaran.

Maskapai siapkan extra flight hingga tembus 80%

Sementara itu, realisasi angkutan udara pada arus mudik Lebaran 2026 mencatat peningkatan di tengah kelancaran operasional di 37 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura Indonesia. Dalam periode 13–21 Maret 2026 (H-7 hingga H1), jumlah penumpang pesawat mencapai 4,41 juta orang atau tumbuh 3,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 4,25 juta penumpang. Kenaikan juga tercermin pada frekuensi penerbangan yang mencapai 33.099 pergerakan atau meningkat 6% dari 31.240 penerbangan.

Lonjakan tertinggi terjadi pada puncak arus mudik 18 Maret 2026 (H-2), dengan total 568.964 penumpang. Sementara itu, pada Hari Raya Idulfitri, 21 Maret 2026, jumlah penumpang tercatat sebanyak 397.670 orang. Data ini menunjukkan distribusi pergerakan yang tetap terjaga hingga hari pelaksanaan Lebaran.

Baca juga:

Tiket Pesawat Hampir Ludes Jelang Puncak Mudik
Adapun untuk rute mudik favorit, Lion Air Group mencatat sejumlah destinasi masih menjadi primadona penumpang, di antaranya Bali, Makassar, dan Padang.

Direktur Utama InJourney Airports, Mohammad R. Pahlevi, menyatakan peningkatan trafik tersebut dapat diantisipasi melalui kesiapan operasional yang telah dirancang sebelumnya.

“Arus mudik berjalan baik. Kami bersyukur aspek operasional dan pelayanan pada periode arus mudik secara umum dapat terjaga, berkat rencana operasi yang matang, dukungan seluruh pihak, serta kolaborasi di antara stakeholders bandara,” ujar Pahlevi dalam keterangannya.

Sejumlah pemudik berjalan keluar setibanya di Bandara Ahmad Yani, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (13/3/2026). Foto: Antara/Aprillio Akbar/foc.

Ia menambahkan, koordinasi antar pemangku kepentingan menjadi faktor kunci dalam menjaga kelancaran layanan, termasuk melalui optimalisasi slot time untuk keberangkatan dan kedatangan pesawat. Langkah ini dilakukan guna menampung lonjakan permintaan perjalanan udara selama periode puncak mudik.

Optimalisasi tersebut turut tercermin pada realisasi penerbangan tambahan (extra flight). Sepanjang periode 13–21 Maret 2026, operator bandara menerima sekitar 2.500 permintaan penerbangan tambahan dari maskapai. Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 penerbangan berhasil direalisasikan, atau setara dengan 80% dari total permintaan.

“Realisasi mencapai 2.000 extra flight atau sekitar 80% dari permintaan yang ada. Angka ini cukup tinggi, karena pada umumnya extra flight yang direalisasikan oleh maskapai berkisar 60% hingga 70% dari permintaan. Ini menunjukkan permintaan yang tumbuh pada angkutan lebaran, serta kolaborasi yang baik antara seluruh stakeholders bandara,” jelas dia.

Dari sisi distribusi trafik, sejumlah bandara mencatat volume penumpang tertinggi selama arus mudik. Bandara Bandara Soekarno-Hatta menjadi yang tersibuk dengan 1,51 juta penumpang, diikuti Bandara I Gusti Ngurah Rai sebanyak 523.944 penumpang, Bandara Juanda dengan 378.056 penumpang, Bandara Sultan Hasanuddin sebanyak 283.099 penumpang, serta Bandara Kualanamu dengan 207.661 penumpang.

Secara keseluruhan, realisasi pergerakan penumpang dan penerbangan selama periode mudik Lebaran tahun ini menunjukkan peningkatan permintaan transportasi udara yang dapat diimbangi dengan kapasitas dan pengelolaan operasional bandara.

Moda udara pimpin lonjakan arus balik

Di satu sisi, berdasarkan Data Kementerian Perhubungan menunjukkan, pada H+2 atau 23 Maret 2026, jumlah penumpang angkutan umum yang berangkat mencapai 1.448.306 orang, naik 12,37% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 1.288.869 orang. Kenaikan ini mencerminkan lonjakan pergerakan pasca-Lebaran yang mulai terkonsentrasi sejak awal pekan.

Dari seluruh moda transportasi, angkutan udara mencatat pertumbuhan paling tinggi secara tahunan. Jumlah penumpang pesawat mencapai 277.937 orang atau meningkat 17,93% dibandingkan tahun sebelumnya. Lonjakan ini menempatkan moda udara sebagai salah satu pilihan utama masyarakat dalam perjalanan arus balik, terutama untuk rute jarak menengah hingga jauh.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan bahwa tren peningkatan ini sudah terlihat sejak awal pekan dan terjadi merata di berbagai moda transportasi.

“Saya mengimbau seluruh masyarakat yang melakukan perjalanan arus balik agar mengutamakan keselamatan, mengatur waktu perjalanan dengan baik, serta mematuhi arahan petugas di lapangan. Jangan memaksakan diri apabila lelah, karena keselamatan harus menjadi prioritas utama,” kata Dudy dalam keterangannya, Selasa (24/3/2026).

Selain udara, moda penyeberangan dan angkutan darat juga mengalami pertumbuhan signifikan masing-masing sebesar 19,78% dan 19,29%. Moda penyeberangan melayani 315.277 penumpang, sementara angkutan darat mencatat 242.875 penumpang.

Adapun angkutan kereta api mengangkut 505.297 penumpang atau naik 6,07% secara tahunan. Sementara itu, angkutan laut menjadi satu-satunya moda yang mengalami penurunan tipis sebesar 2,79% menjadi 106.920 penumpang.

Kemenhub menilai tingginya pertumbuhan pada moda udara berkaitan dengan efisiensi waktu tempuh serta meningkatnya kebutuhan mobilitas cepat setelah libur Lebaran. Kondisi ini turut dipengaruhi oleh pergeseran preferensi masyarakat yang mengutamakan kecepatan perjalanan untuk kembali ke kota asal pekerjaan.

Mengantisipasi lonjakan tersebut, pemerintah terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga kelancaran layanan di berbagai simpul transportasi, mulai dari bandara, terminal, stasiun, hingga pelabuhan. Pengaturan arus lalu lintas di jalan tol dan jalan nasional juga dilakukan secara intensif untuk menghindari kepadatan berlebih selama periode puncak arus balik.

Dudy juga mengingatkan pentingnya perencanaan perjalanan yang matang oleh masyarakat guna mengurangi potensi penumpukan.

“Tingginya pergerakan masyarakat pada masa arus balik harus disikapi dengan kesiapan yang baik. Saya mengajak para pemudik untuk memilih waktu perjalanan dengan bijak, memastikan kondisi tubuh dan kendaraan dalam keadaan prima, keselamatan jauh lebih penting daripada kecepatan sampai tujuan,” kata Dudy.

Author

Uswatun Hasanah
Uswatun Hasanah

Wartawan Pasar Modal

Baca selengkapnya