Bertahannya optimisme konsumen dan prakiraan peningkatan penjualan eceran menyiratkan harapan bagi pelaku usaha tentang prospek ekonomi ke depan. Meski demikian, durasi peningkatan penjualan dan optimisme konsumen tetap ditentukan ketahanan daya beli masyarakat. Tanpa itu, optimisme peningkatan penjualan berpotensi hanya bersifat sewaktu-waktu dan tidak berkelanjutan.
Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) bulan Februari 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen yang tetap berada di level optimis sebesar 125,2, meski lebih rendah dari indeks keyakinan konsumen Januari 2026 sebesar 127,0. Bersama dengan itu, Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini membaik dari 115,1 ke 115,9, sementara Indeks Ekspektasi Konsumen sedikit menurun dari 138,8 menjadi 134,4.
Dalam kurun yang sama, Indeks Penjualan Riil secara tahunan bulan Februari diprakirakan tumbuh 6,9% Year on Year (YoY), didukung meningkatnya penjualan mayoritas kelompok suku cadang dan aksesori serta perlengkapan rumah tangga lainnya. Dorongan permintaan masyarakat saat Ramadan dan persiapan Idulfitri 1447 Hijriah turut menopang peningkatan ini.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso menyatakan, keyakinan konsumen terhadap situasi ekonomi saat ini turut menunjang ekspektasi terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan. Indikator paling mencolok terlihat dari optimisme ketersediaan lapangan pekerjaan serta indeks pembelian barang tahan lama (durable goods) yang meningkat di semua kelompok pengeluaran.
"Tetap kuatnya ekspektasi konsumen bersumber dari optimisme ekspektasi penghasilan, ekspektasi ketersediaan lapangan kerja, dan ekspektasi kegiatan usaha. Secara spasial, beberapa kota mencatat peningkatan ekspektasi konsumen tertinggi seperti Surabaya, Banjarmasin, Palembang, dan Makassar," jelas Denny dalam keterangan tertulis, Senin (9/3/2026).
BI juga mencatat proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi tetap kuat pada level 71,6%, sedikit lebih rendah daripada proporsi bulan sebelumnya sebesar 72,3%. Sebaliknya, proporsi pendapatan konsumen yang disisihkan untuk tabungan meningkat dari 16,5% pada bulan Januari menjadi 17,7% pada bulan Februari.
Meski proporsi pendapatan terhadap tabungan yang meningkat, Denny menilai prakiraan penjualan riil bulan Februari yang tumbuh lebih tinggi sejalan dengan permintaan bulan Ramadan dan persiapan Idulfitri akan menopang penjualan eceran yang tetap stabil dalam 3 bulan mendatang, dan akan meningkat pada periode 6 bulan yang akan datang.
"Hal ini tecermin dari Indeks Ekspektasi Penjualan bulan April 2026 yang relatif stabil pascanormalisasi kegiatan karena Idulfitri 1447 Hijriah. Sementara itu, Indeks Ekspektasi Penjualan Juli 2026 lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, dipengaruhi peningkatan permintaan saat peak season libur sekolah dan mid season sale," jelasnya.
Baca juga:

Stabilisasi penjualan pasca-Idulfitri berdampak pada tekanan inflasi bulan April 2026 yang diprakirakan turun, sebelum meningkat kembali pada bulan Juli 2026, didorong peningkatan harga saat memasuki tahun ajaran baru. Hal ini ditandai dengan Indeks Ekspektasi Harga Umum sebesar 153,9 pada bulan April, sebelum diprakirakan naik sebesar 157,1 pada bulan Juli mendatang.
Daya beli menentukan
Meski optimisme dan ekspektasi positif keyakinan konsumen serta penjualan riil tampak menjanjikan, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah mengingatkan penjualan eceran saat ini hanya akan tumbuh hingga mencapai puncak pada pekan libur Idulfitri pada bulan Maret mendatang.
"Karena momentumnya untuk konsumsi sektor riil adalah Nataru dan Lebaran, ditambah Imlek. Kita menghadapi masalah setelah April sampai September, itu yang harus dipikirkan untuk mengangkat daya beli. Stimulus dan kebijakan ekonomi seperti penciptaan lapangan kerja perlu dimaksimalkan pada bulan itu agar daya beli terjaga," ucap Budihardjo saat dihubungi, Senin (9/3/2026).
Selain berakhirnya faktor musiman, daya beli masyarakat juga sangat ditentukan stabilitas harga di tengah disrupsi rantai pasok yang saat ini sangat bergejolak, menyusul kemungkinan naiknya biaya-biaya logistik sejumlah komoditas impor.
Guna mencegah kemungkinan panic buying pada komoditas tersebut, Budihardjo menyatakan pelaku sektor ritel telah berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan stok opname produk impor telah aman sehingga volume penjualan tetap stabil dan perputaran uang ke depan tetap berada di Indonesia.
"Mulai tahun ini sampai lima tahun ke depan akan ada penumpukan hari besar keagamaan di awal tahun, dari Natal, Imlek, sampai Idulfitri. Harus ada antisipasi dengan menaikkan kuota stok barang impor. Kami sudah sampaikan ke Kemenperin, Kemendag, Kementan, dan KKP bahwa produk impor harus siap agar bisa dibelanjakan pada momentum. Jangan sampai terlambat, karena momentum tidak bisa diulang," jelasnya.
Senada dengan Budihardjo, Wakil Ketua Umum Bidang Pengembangan Otonomi Daerah Kadin Indonesia Sarman Simanjorang menilai pemerintah dapat mendorong pengusaha dan pengelola pusat perbelanjaan untuk membuat pesta diskon atau festival yang membuat daya tarik masyarakat berbelanja dan mendorong peningkatan transaksi dan konsumsi rumah tangga.
"Program-program pemerintah yang bersifat padat karya yang memberi kesempatan masyarakat desa terlibat dalam pembangunan desanya, entah pembangunan drainase atau jalan yang membuat mereka mendapat gaji harian, itu bisa mendorong konsumsi rumah tangga. Program seperti magang nasional juga sangat produktif untuk meningkatkan daya beli masyarakat kita," cetus Sarman kepada SUAR.
Waspada ilusi perbaikan konsumsi
Terlepas dari indikator penjualan riil menunjukkan perbaikan konsumsi menjelang Ramadan, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengingatkan bahwa sinyal tersebut tidak mencerminkan pemulihan yang sesungguhnya, mengingat kelas menengah yang menjadi penopang utama konsumsi domestik tetap tertekan.
"Sepanjang 2018-2025, jumlah kelas menengah terus menyusut dan mayoritas bergeser ke kelompok Calon Kelas Menengah (CKM). Dampaknya, kontribusi konsumsi kelas menengah turun menjadi 37%, sementara CKM menjadi penopang utama dengan porsi 44%. Perubahan ini tampak dari pola konsumsi yang kini terkonsentrasi pada kebutuhan pokok dan pangan," ujar Faisal saat dihubungi, Selasa (10/3/2026).
Faisal menekankan bahwa kelas menengah tidak sepenuhnya menikmati stimulus pemerintah yang dikucurkan menjelang Ramadan, sementara daya konsumsi mereka sebenarnya menjadi yang paling potensial. Tanpa ada instrumen khusus untuk kelas menengah, potensi tersebut tidak akan terpancar dalam daya beli yang kuat dan berkelanjutan untuk menjaga optimisme penjualan.
"Kekosongan ini dapat dikoreksi melalui instrumen spesifik untuk kelas menengah seperti insentif pajak penghasilan, voucher belanja nontunai, hingga insentif fiskal bagi perusahaan yang mempertahankan atau meningkatkan upah riil pekerjanya," usul Faisal.
Baca juga:
Tanpa intervensi, lanjutnya, penyusutan kelas menengah akan menekan dunia usaha dan berpotensi membuat industri memangkas jumlah tenaga kerja, menggerus daya beli, dan memperlemah konsumsi. Momentum Ramadan 2026 saat ini menjadi ujian atas ketahanan struktur ini, yang hasilnya akan tampak saat memasuki Kuartal II 2026.
"Setelah Ramadan, ketika momentum permintaan tidak lagi setinggi bulan-bulan sebelumnya, maka daya tahan konsumsi dapat diuji dalam kondisi yang lebih normal, dengan hasil yang mungkin akan sangat berbeda dengan hasil survei keyakinan maupun prakiraan peningkatan penjualan. Dunia usaha harus siap menghadapi ini," tandasnya.