Inovasi Produk Dongkrak Nilai Tambah Keuangan Syariah

Beberapa produk yang lebih mudah diakses dikembangkan Bank Syariah Indonesia seperti QRIS BSI, memperbanyak EDC BSI, sampai tabungan emas digital.

Inovasi Produk Dongkrak Nilai Tambah Keuangan Syariah
Pegawai Bank Aceh Syariah (BAS) Cabang Meulaboh melayani penukaran uang untuk kebutuhan Idulfitri di Kantor Bank Aceh Cabang Meulaboh, Aceh Barat, Aceh, Selasa (3/3/2026). Foto: ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/tom.
Daftar Isi

Industri keuangan syariah nasional (IKSN) menjadi salah satu pilar yang berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sektor ini membutuhkan inovasi produk baru yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.

Hal ini dinilai menjadi solusi keuangan syaruah untuk bersaing secara kompetitif dengan industri keuangan konvensional.

Direktur Pengaturan dan Pengembangan Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nyimas Rohmah mengungkapkan bahwa perkembangan IKSN selama 5 tahun terakhir menunjukkan perkembangan positif.

Di luar kapitalisasi saham syariah, total aset IKSN menembus Rp3.131,02 triliun, tumbuh 8,56% Year on Year (YoY), dan memiliki persentase setara 11,36% total aset keuangan nasional. Sektor pasar modal dan perbankan menjadi dua mesin utama pertumbuhan tersebut.

"Sejalan dengan perkembangan itu, perbankan syariah telah menyalurkan Rp705,22 triliun pembiayaan dan menghimpun DPK hingga Rp829,99 triliun. Ini setara 7,69% dari market share perbankan nasional, berasal dari kontribusi 14 bank umum syariah, 18 unit usaha syariah, dan 174 BPR syariah," jelas Rohmah dalam webinar "Optimalisasi Investasi Keuangan Syariah untuk Mendorong Perekonomian Nasional", Kamis (12/3/2026).

Meski demikian, Rohmah menjelaskan terdapat 3 tantangan teridentifikasi yang saat ini dihadapi IKSN untuk dapat berkembang.

  1. Struktur industri relatif kecil. Dari 14 bank umum syariah dan 18 unit usaha syariah, 9 bank dan 15 unit usaha memiliki aset kurang dari Rp25 triliun. Dari sisi permodalan, 11 dari 14 bank umum syariah memiliki modal inti di bawah Rp6 triliun, sehingga terkategori KBMI I dalam klasifikasi OJK, sehingga sulit bersaing dengan bank konvensional;
  2. Asimetri literasi dan inklusi keuangan syariah. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, hasil menunjukkan bahwa pengetahuan responden tentang keuangan syariah lebih tinggi dibandingkan partisipasi mereka sebagai nasabah. Rohmah menengarai ini terjadi karena keterbatasan akses dan pendalaman produk keuangan syariah yang dapat memenuhi permintaan;
  3. Rendahnya tingkat diferensiasi produk bisnis. Kecilnya market share IKSN bila dibandingkan dengan industri keuangan konvensional tidak dapat dilepaskan dari dominasi produk akad musyarakah dan akad murabahah sebagai produk keuangan, padahal banyak variasi akad lain seperti akad mudharabah, akad salam, dan akad qardh

"Untuk menghadapi tantangan tersebut, OJK menetapkan tiga arah kebijakan. Pertama, penguatan kapasitas aset dan permodalan melalui merger dan konsolidasi modal inti. Kedua, penguatan inklusi melalui platform digital agar memudahkan akses informasi dan keuangan syariah. Ketiga, menerbitkan pedoman implementasi produk unik, termasuk cash waqf link deposit (CWLD)," jelas Rohmah.

Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi studi kasus keberhasilan strategi kebijakan tersebut. Sebelum merger, tiga bank pendahulu BSI tidak ada yang memasuki peringkat 10 teratas bank besar di Indonesia. Setelah merger, BSI berhasil menempati peringkat 6 dalam daftar tersebut, dengan peningkatan rasio profitabilitas mencapai 2,18% pada 2025.

"OJK terus mendorong penambahan jaringan kantor, ATM bank syariah, serta agen laku pandai syariah dengan menggandeng BUMDes untuk memperluas layanan keuangan. Selain itu, sinergi bank induk dan bank umum syariah memungkinkan jaringan kantor bank induk dapat menawarkan produk syariah kepada masyarakat, sehingga jangkauan dapat dilakukan lebih luas tanpa menambah biaya operasional," tegasnya.

Ekosistem closed loop

Wakil Ketua Badan Pengurus Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) Adiwarman A. Karim menekankan kunci ekosistem keuangan syariah adalah pemenuhan kebutuhan pemain-pemain kunci yang tersegmentasi. Tujuan akhir ekosistem tersebut bukanlah semata pelipatgandaan laba pelaku jasa keuangan syariah, tetapi terciptanya suatu siklus ekonomi closed loop dan terintegrasi.

Selama ini, Adiwarman menilai, perputaran dana dalam keuangan syariah cenderung bersifat satu arah. Nasabah menabung di bank syariah, tetapi kemudian menggunakan dana tabungan tersebut untuk berbelanja atau melakukan pembayaran di outlet atau merchant yang tidak memiliki rekening syariah. Akibatnya, terjadi "kebocoran" perputaran uang dari bank syariah ke bank konvensional, sehingga ekosistem tidak tercipta.

"Karena itu pelaku jasa keuangan syariah perlu memberikan pemahaman dan membuktikan bahwa pelayanan dan produknya lebih optimal atau tidak kalah dibandingkan bank konvensional. Strategi yang perlu dilakukan adalah menghadirkan solusi bisnis yang lebih baik tanpa berkompromi dengan aspek syariah. Bukan hanya menjual 'kehalalan', tetapi juga performa layanan dan karakter produk yang bersaing," tegasnya.

Adiwarman menganjurkan tiga langkah yang dapat dilakukan pelaku IKSN untuk mewujudkan ekosistem closed loop dan terintegrasi. Pertama, mengidentifikasi pemain dalam ekosistem dengan memahami pola dan kebutuhan transaksi. Kedua, masuk dalam sistem di mana uang tersebut berputar, sembari meyakinkan pemain-pemain kunci dalam sistem untuk menjadi nasabah syariah. Ketiga, memilih peran dalam ekosistem yang akan dikembangkan sehingga tidak ada dominasi.

"Ketika kita bisa memegang pemain kunci, segera tawarkan value proposition yang bermanfaat riil untuk mereka. Bagi pengguna, permudah akses berdasarkan net cash flow hingga 90% transaksi mereka dilakukan dalam ekosistem syariah. Bagi pelaku jasa, pengayaan platform digital perlu menjembatani dua sisi, yaitu penjual dan pembeli dengan atau tanpa partisipasi pihak ketiga," cetusnya.

Sebagai contoh, jika sebuah bank syariah bekerja sama dengan maskapai penerbangan, produk yang ditawarkan kepada nasabah dapat menyediakan fasilitas pemilihan jadwal penerbangan dan kursi pesawat, special lounge, bus khusus dari dan ke bandara. Jika bekerja sama dengan sekolah/madrasah/universitas, bank dapat menawarkan fasilitas beasiswa atau CSR hibah dana penelitian bagi akademisi nasabah bank tersebut.

"Benefit package yang dapat dirasakan nasabah akan meningkatkan daya tarik produk keuangan syariah secara organik bagi nasabah yang sudah bergabung. Kualitas produk yang kompetitif dengan bank konvensional ini menjadikan karakteristik jasa keuangan syariah unik, lebih aman dan tahan gejolak, serta dapat membantu terciptanya ekosistem closed loop," ucap Adiwarman.

Petugas menjelaskan produk BSI Tabungan Umrah kepada tamu undangan usai peluncuran BSI Tabungan Umrah di BSI Tower, Jakarta, Senin (23/2/2026). (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S./rwa)

Bukan mustahil

Kepala BSI Institute Bank Syariah Indonesia Luqyan Tamanni membenarkan observasi Adiwarman tersebut. Sejak layanan keuangan syariah mulai diperkenalkan di Indonesia pada 1992, pertumbuhan bank syariah relatif lambat dibandingkan bank konvensional, meski tidak stagnan. Salah satu penyebabnya, Luqyan menilai, adalah eksplorasi keunikan produk syariah yang kurang maksimal.

"Bank saat ini bermetamorfosis menjadi bank digital dan bersiap menjadi platform. Fase berikutnya setelah menjadi platform yang memungkinkan nasabah bertransaksi apapun, adalah mendorong conscious banking. Ke arah sinilah industri keuangan syariah perlu berorientasi, dengan tetap mengingat bahwa ekspektasi masyarakat terus berubah," jelas Luqyan.

Dalam pengalaman riset produk yang dilakukan BSI, salah satu pengembangan yang dilakukan adalah tabungan multicurrency Rupiah Indonesia dan Saudi Rial. Segmentasi produk ini diutamakan bagi calon jemaah haji dan umrah, yang memungkinkan tabungan tersimpan dalam mata uang rupiah maupun rial, sehingga transaksi dapat dilakukan secara fleksibel tanpa melalui money changer.

Pengembangan produk lain adalah pembuatan ekosistem dana pensiun, terutama untuk nasabah dengan demografi usia di atas 40 tahun. Menurut Luqyan, salah satu tantangan IKSN adalah memperluas agregat nasabah yang saat ini masih didominasi generasi baby boomer dan generasi X. Padahal, persiapan dana pensiun juga penting dilakukan karyawan muda di rentang usia 25-39 tahun.

"Kami berevolusi memperkenalkan channel yang lebih mudah diakses, seperti QRIS BSI, memperbanyak EDC BSI, sampai tabungan emas digital sebagai bagian dari pengembangan bulion banking untuk tabungan emas yang lebih likuid dan dapat menjadi instrumen investasi. Di titik ini, tipping point perbankan syariah mulai kami temukan sebagai usaha menciptakan nilai tambah layanan," cetus Luqyan.

Ke depan, BSI telah memiliki peta jalan untuk inovasi produk berbasis digital, layanan bulion, serta produk tabungan syariah yang relevan dan diharapkan menggaet nasabah usia muda. Kerja sama erat BSI yang saat ini memasuki tahun kelima beroperasi akan mendorong inovasi yang dilakukan berkontribusi bagi pengembangan ekosistem keuangan syariah di Indonesia.

"Jalan keuangan syariah ke depan adalah inovasi. Kami sedang menyusun semacam chronicle untuk ranah keuangan syariah, sebagai sumbang pikir dan bahan referensi untuk inovasi produk keuangan syariah lebih luas daripada perbankan. Nilai unik dan ekosistem yang menyeluruh itu adalah kunci untuk keuangan syariah yang semakin bersaing," pungkasnya.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya