InJourney Siapkan 16.000 Personel Layani 9 Juta Penumpang Pesawat Saat Mudik

Selama periode posko Lebaran, bandara yang dikelola Injourney akan buka 24 jam dengan 3000 personel tambahan

InJourney Siapkan 16.000 Personel Layani 9 Juta Penumpang Pesawat Saat Mudik
Suasana sepi terlihat di konter lapor diri akibat adanya pembatalan penerbangan ke Timur Tengah di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Minggu (1/3/2026). Foto: Antara/Muhammad Iqbal/bar.
Daftar Isi

PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney mengerahkan 16.000 personel dalam mengantisipasi lonjakan penumpang pesawat di 37 bandara yang diprediksi mencapai 9 juta orang selama periode mudik Lebaran 2026.

Angka tersebut mencerminkan kenaikan sebesar 2% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu, di tengah dinamika geopolitik global yang membayangi operasional penerbangan nasional.‎

Direktur Utama InJourney, Maya Watono mengatakan total personel yang disiagakan di bandara dan layanan pendukung aviasi mencapai hampir 16.000 orang. Selain itu terdapat tambahan sekitar 3.000 personel yang disiapkan khusus untuk mendukung operasional selama periode mudik.

‎“Selama periode posko Lebaran, bandara kami buka 24 jam. Total personel ada hampir 16.000 untuk airport dan InJourney Aviation Service, ada penambahan sekitar 3.000 personel yang siap siaga 24 jam di seluruh bandara kita,” ujarnya dalam press conference di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Ia mengatakan peningkatan trafik penumpang menjadi indikator meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode mudik Lebaran tahun ini.

‎“Untuk bandara sendiri memang bandara ini kita tahu pastinya, tapi periode Lebaran ini kita ada 9 juta traffic. Kita satu tahun ada 167 juta traffic seluruh Indonesia di 37 bandara. Saat periode Lebaran ini kita ekspektasinya adalah 9 juta traffic, peningkatan 2% dibandingkan tahun lalu,” kata Maya dalam konferensi pers yang digelar di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Rabu (11/3/2026).

‎Menurut dia, peningkatan trafik tersebut terjadi di tengah dinamika geopolitik global yang dalam beberapa waktu terakhir memengaruhi operasional penerbangan, termasuk potensi keterlambatan dan pembatalan penerbangan. 

‎Dalam menghadapi lonjakan penumpang selama musim mudik, InJourney juga mengoperasikan posko angkutan Lebaran dengan dukungan tambahan personel di berbagai bandara. Bandara-bandara di bawah pengelolaan perusahaan juga akan beroperasi selama 24 jam untuk memastikan kelancaran arus penumpang.

‎Selain kesiapan operasional, perusahaan juga melakukan transformasi layanan di bandara melalui pendekatan yang disebut 3P, yakni People, Process, dan Premises. Transformasi tersebut mencakup peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyederhanaan proses layanan penumpang melalui teknologi, serta perbaikan fasilitas bandara.

‎Lebih lanjut, transformasi tersebut antara lain terlihat pada pengembangan fasilitas di terminal bandara, khususnya di Terminal 3 dan Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta. Pengelola bandara juga mulai menerapkan teknologi untuk membuat proses perjalanan penumpang menjadi lebih lancar dan efisien.

‎Menurut Maya, sektor aviasi dan pariwisata memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi Indonesia. Ia menyebut setiap tambahan satu juta penumpang internasional yang masuk ke Indonesia dapat menghasilkan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) hingga Rp40 triliun.

‎“Setiap satu juta penumpang internasional inbound Indonesia itu menghasilkan 40 triliun GDP. Bisa dibayangkan kalau penambahannya 10 juta itu berarti 400 triliun GDP,” kata Maya.

‎Karena itu, menurut dia, peningkatan mobilitas penerbangan selama periode mudik tidak hanya berkaitan dengan pergerakan masyarakat, tetapi juga berkontribusi terhadap aktivitas ekonomi dan sektor pariwisata di berbagai daerah.

Direktur Utama InJourney, Maya Watono dalam gelaran konferensi pers di Terminal 3 Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, Jakarta, Rabu 11 Maret 2026. (Foto: Uswatun Hasanah /SUAR)

‎Siap layani mudik

Wakil Direktur Utama InJourney, Achmad Syahrir menjelaskan bahwa 37 bandara yang dikelola PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports siap melayani lonjakan penerbangan selama periode mudik Lebaran 2026 dengan melibatkan hampir 16.000 personel operasional. 

‎Syahrir mengatakan posko angkutan Lebaran akan beroperasi mulai 13 Maret hingga 30 Maret 2026. Selama periode tersebut, operator bandara memproyeksikan peningkatan pergerakan penumpang dan pesawat di berbagai bandara utama di Indonesia.

‎“Jadi 37 bandara ini pasti jam-jam operasionalnya berbeda-beda rekan-rekan media, tetapi khusus untuk periode angkutan Lebaran, kalau ada kebutuhan di luar jam operasional, InJourney Airports sudah berkomitmen untuk membuka sehingga tidak ada reason atau alasan kita tidak melayani karena jam operasionalnya sudah tidak melampaui,” ujarnya.

‎InJourney Airports saat ini mengelola 37 bandara dari total 257 bandara di Indonesia. Meski jumlahnya tidak dominan, bandara-bandara tersebut menangani sekitar 90 persen pergerakan transportasi udara nasional. 

‎Dari total bandara yang dikelola, sebanyak 30 bandara berstatus internasional sesuai ketentuan terbaru Kementerian Perhubungan yang mulai berlaku pada 18 Agustus 2025.

‎Syahrir juga memaparkan tren pergerakan penumpang di jaringan bandara tersebut. 

Pada 2025, jumlah penumpang yang dilayani mencapai sekitar 157 juta orang. Angka ini sedikit menurun sekitar 1,45 persen dibandingkan 2024 dan masih berada di bawah tingkat pergerakan pada 2019 yang menjadi puncak transportasi udara sebelum pandemi.

‎Sementara itu, pergerakan pesawat pada 2025 tercatat sekitar 1.190.000 penerbangan. Angka tersebut masih lebih rendah sekitar 0,25 persen dibandingkan 2019. 

‎Di sisi lain, pergerakan kargo mencatat pertumbuhan sebesar 0,80 persen dengan volume mencapai sekitar 1.535.000.

‎Untuk tahun 2026, operator bandara memproyeksikan pergerakan penumpang mencapai sekitar 160 juta orang atau meningkat sekitar 2,7 persen dibandingkan 2025. Namun, pertumbuhan pergerakan pesawat diperkirakan masih terbatas karena industri penerbangan masih menghadapi keterbatasan armada.

‎“Nah, di antara 37 bandara kita, ada lima yang top-nya, yaitu CGK (Soekarno-Hatta Jakarta), Denpasar, kemudian Surabaya, Ujung Pandang, dan Medan Kualanamu,” kata Syahrir.

‎Dalam periode angkutan Lebaran, pergerakan penumpang diperkirakan mulai meningkat sejak 13 Maret dengan estimasi sekitar 498.000 penumpang dan 3.357 pergerakan pesawat. Puncak arus mudik diperkirakan terjadi sekitar 15 Maret, sementara puncak arus balik diprediksi berlangsung pada 28 Maret.

‎Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, jumlah penumpang pada periode puncak diperkirakan mencapai sekitar 179.000 orang pada 14 Maret dan meningkat hingga sekitar 198.000 orang pada arus balik 28 Maret. 

‎Sementara itu, di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai jumlah penumpang diproyeksikan mencapai sekitar 67.000 orang pada 14 Maret dan sekitar 73.000 orang pada arus balik.

‎Selain kesiapan operasional, InJourney Airports juga mendukung kebijakan pemerintah dalam menekan harga tiket pesawat melalui potongan tarif Pelayanan Jasa Penumpang Pesawat Udara (PJP2U) sebesar 50 persen. Kebijakan tersebut berlaku untuk penerbitan tiket pada periode 10 Februari hingga 29 Maret 2026 dengan kontribusi perusahaan sekitar Rp121 miliar.

‎Di tengah persiapan mudik, operator bandara juga mencatat adanya dampak terhadap sejumlah rute penerbangan akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah. Di Soekarno-Hatta terdapat enam rute yang terdampak dengan total sekitar 26.000 penumpang dan 194 penerbangan, sedangkan di Bali terdapat tiga rute dengan sekitar 20.000 penumpang dan 93 penerbangan.

‎Untuk menjaga kenyamanan penumpang selama Ramadan dan musim mudik, pengelola bandara juga menyiapkan berbagai layanan tambahan, termasuk posko terpadu, layanan informasi bergerak, serta program pelayanan pelanggan di area terminal.

Wakil Direktur Utama InJourney, Achmad Syahrir di terminal 3 Bandara Internasional Soekarno Hatta. Foto: Uswatun/Suar.id

Mudik dibayangi inflasi

Menurut Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Abdul Manap Pulungan, lebaran kali ini akan berbeda. Pasalnya, gejolak ekonomi global yang dipicu konflik geopolitik diperkirakan memberi tekanan pada aktivitas transportasi dan mobilitas masyarakat selama periode mudik Lebaran 2026.

Tekanan tersebut, kata dia, berpotensi meningkatkan biaya perjalanan pemudik di tengah inflasi energi, pelemahan nilai tukar rupiah, serta sejumlah kendala infrastruktur domestik.

Ucok, sapaannya, mengatakan momen Lebaran yang biasanya mendorong mobilitas masyarakat dan konsumsi rumah tangga kini menghadapi tantangan tambahan akibat kondisi global yang tidak stabil.

“Bagi pemudik, ini juga ada tantangan infrastruktur. Infrastruktur dalam artian BBM, jalan, macet, yang pada akhirnya akan menambah biaya tambahan bagi mereka yang bisa saja dana ini justru diambil dari THR,” ujar Ucok kepada SUAR.

Menurut dia, Ramadan dan Idul Fitri setiap tahun memang menjadi periode penting bagi perekonomian nasional karena meningkatnya konsumsi masyarakat. Kenaikan konsumsi biasanya didorong oleh pembayaran tunjangan hari raya (THR) dan aktivitas mudik yang meningkatkan permintaan terhadap berbagai sektor, termasuk transportasi, ritel, dan pariwisata.

Namun pada 2026, peningkatan mobilitas tersebut terjadi bersamaan dengan tekanan inflasi dari berbagai sisi. Ia mencontohkan inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price) pada Februari telah mencapai sekitar 12%, yang sebagian besar dipengaruhi oleh kenaikan harga energi.

Ucok menjelaskan bahwa konflik geopolitik global juga berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia. Kondisi tersebut dinilai tidak menguntungkan bagi Indonesia yang saat ini menjadi negara pengimpor minyak.

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah turut meningkatkan tekanan terhadap harga barang impor, termasuk bahan baku industri. Berdasarkan data yang diolah dari Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi harga impor pada kuartal pertama 2025 sempat mencapai 7,82%, lebih tinggi dibanding inflasi domestik pada periode yang sama.

Alhasil, kondisi tersebut berpotensi berdampak pada harga barang dan jasa di dalam negeri, termasuk biaya transportasi yang digunakan masyarakat selama mudik.

Dia juga menyoroti kemungkinan tambahan biaya perjalanan akibat faktor non-ekonomi, seperti kemacetan, banjir, serta gangguan distribusi logistik di sejumlah wilayah. Situasi tersebut dapat mengurangi alokasi dana THR yang semestinya digunakan untuk konsumsi selama Lebaran.

“Dana ini bisa saja diambil dari THR yang kita harapkan bisa berkontribusi maksimal terhadap konsumsi, tetapi akhirnya digunakan untuk biaya tambahan atau biaya tidak terduga,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia menilai aktivitas mudik memang berpotensi mendorong perputaran ekonomi di daerah. Mobilitas masyarakat biasanya meningkatkan permintaan terhadap sektor transportasi, pangan, ritel, hingga pariwisata di daerah tujuan.

Namun dampak terhadap ekonomi regional dinilai tidak selalu signifikan jika daya beli masyarakat sedang melemah.

Penulis

Baca selengkapnya