Memasuki awal tahun 2026, kondisi ekonomi Indonesia menghadapi tantangan inflasi yang cukup signifikan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru, angka inflasi tahunan (year-on-year) menunjukkan kenaikan yang cukup tajam dari 3,55% di bulan Januari menjadi 4,76% di bulan Februari.
Namun, sejatinya tingkat inflasi tahunan Februari 2026 ini tampak tinggi lantaran ada basis perhitungan yang rendah (low base effect) karena pada Februari tahun lalu pemerintah memberikan subsidi diskon tarif listrik. Ini yang menyebabkan inflasi tahunan Februari 2026 tampak tinggi. Terlepas dari itu, tingkat inflasi yang tinggi tetap perlu jadi perhatian.
Kenaikan sebesar 1,21 poin persentase ini mencerminkan adanya tekanan harga yang meluas di pasar domestik, di mana hampir seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan, kecuali sektor informasi dan komunikasi yang justru masih mengalami deflasi tipis di awal tahun ini.
Dilihat dari inflasi berdasarkan kelompok komponen, terlihat bahwa komponen Harga yang Diatur Pemerintah (Administered Prices) dan Energi menjadi penggerak utama masih berlanjutnya inflasi awal tahun ini. Inflasi energi melonjak dari 14,94% di Januari menjadi 22,18% di Februari, yang kemudian diikuti inflasi komponen Harga Diatur Pemerintah sebesar 12,66%.
Lagi-lagi ini tak lain karena pada awal tahun lalu, pemerintah memberikan diskon tarif listrik, sementara tahun ini program itu tidak dilanjutkan. Maka tidak heran terjadi lonjakan inflasi administered prices dan komponen energi pada aspek inflasi Februari 2026.
Sementara itu, komponen Bahan Makanan yang bergejolak (volatile food) juga ikut merangkak naik ke level 4,01% di Februari, memberikan tekanan tambahan pada daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah.
Kedua komponen yang mendominasi naiknya inflasi masing masing memberikan andil yang besar hingga 2% di bulan Februari 2026. Andil tersebut meningkat dibandingkan sebelumnya yang masih berkisar di 1,46% untuk komponen Energi dan 1,77% untuk Harga Diatur Pemerintah.
Beralih ke inflasi berdasarkan kelompok pengeluaran, data BPS memperlihatkan sektor Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebagai kontributor terbesar dengan inflasi mencapai 16,19% pada Februari dan andil sebesar 2,26% terhadap total inflasi. Sektor ini disusul oleh kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang mencatatkan inflasi 16,66%.

Menariknya, sektor Transportasi justru mengalami penurunan andil inflasi yang signifikan (dari 0,07% ke 0,01%), yang mengindikasikan bahwa meski harga energi global atau hulu naik, tarif transportasi publik mungkin masih tertahan atau mengalami penyesuaian efisiensi.
Jika jika disorot kembali yang berkontribusi terhadap Inflasi Inti, kontribusi terbesar bagi inflasi inti ini datang dari kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya serta sektor Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga. Kelompok pengeluaran Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga memberikan andil yang meningkat hingga 2,26% di Februari ini, disusul oleh Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang turut meningkat 0,12% atau menjadi 1,12% di bulan Februari.
Kenaikan inflasi inti yang stabil namun pasti ini menunjukkan bahwa tekanan harga mulai ke barang dan jasa yang permintaannya lebih stabil, mencerminkan adanya ekspektasi inflasi yang mulai terbentuk di masyarakat.
Mengamati komponen peningkatan inflasi awal 2026 ini, terdapat kecenderungan disebabkan oleh Cost-Push Inflation (Inflasi Dorongan Biaya) daripada Demand-Pull. Hal ini dibuktikan dengan lonjakan masif pada sektor energi dan harga yang diatur pemerintah yang jauh melampaui kenaikan inflasi inti.
Kenaikan harga produksi ini masih merupakan rentetan dampak dari kebijakan subsidi listrik awal tahun 2025. Kebijakan penurunan harga yang mendorong daya beli masyarakat tersebut kini tercatat menyumbang andil paling besar dalam inflasi di awal tahun ini. Hal ini turut menjadi bentuk evaluasi pemerintah dalam menetapkan suatu kebijakan stimulus ekonomi kepada masyarakat.