Harga Emas Terkoreksi Perang AS-Israel Lawan Iran

Di awal setelah pecah perang antara Amerika Serikat - Israel dengan Iran akhir Februari 2026, harga emas sempat meningkat di atas Rp 3.100.000 per gram. Namun, perlahan harga turun terkoreksi hingga 9% dibandingkan harga tertinggi dalam kurun tiga minggu.

Harga Emas Terkoreksi Perang AS-Israel Lawan Iran

Pecahnya konflik terbuka antara AS-Israel dan Iran pada akhir Februari 2026 mengejutkan pasar keuangan global, menempatkan emas kembali sebagai instrumen penyelamat (safe haven). Ketegangan bermula pada 28 Februari 2026 saat konflik pecah, yang seketika memicu lonjakan harga emas di pasar logam mulia Indonesia menjadi Rp 3.085.000 per gram. 

Peristiwa ini menandai fase awal di mana ketakutan akan perang skala besar mendorong investor untuk segera memindahkan aset mereka dari instrumen berisiko ke logam mulia. Langkah tersebut mencatatkan pertumbuhan harian sebesar 1,31% di tanggal 28 Februari dan mengalami peningkatan kembali di tanggal 2 Maret hingga 1,62% dibandingkan hari sebelumnya. Pada 2 Maret 2026, harga emas menyentuh titik tertinggi (bullish peak) di level Rp 3.135.000 per gram. Secara global, harga emas bahkan menembus angka 5.322,7 dollar AS per troy ons. 

Lonjakan harga yang terjadi pada 2 Maret 2026 tersebut mencatatkan rekor tertinggi ke-2 sepanjang 2026. Namun, selang tiga minggu kemudian (23 Maret 2026) harga anjlok dan tercatat sebagai titik terendah ke-2 sepanjang 2026. Titik terendah pertama terjadi saat pembukaan awal tahun 2026. 

Penurunan harga emas dipengaruhi dinamika pasar yang mulai bergeser seiring dengan intervensi kebijakan moneter. Meskipun konflik masih membara, kekhawatiran inflasi justru memicu spekulasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu lama. 

Pada 17 Maret, daya tarik emas mulai menurun dan tergeserkan oleh penguatan dollar AS dan kenaikan yield obligasi. Hal ini menyebabkan harga turun ke level Rp 2.988.000. Fenomena ini turut menggambarkan sentimen ketakutan perang dengan realitas ekonomi makro, di mana investor mulai melakukan aksi jual guna menutupi margin call pada aset lain akibat krisis likuiditas.

Memasuki periode 19 Maret-23 Maret, harga emas mengalami tekanan koreksi yang cukup dalam seiring dengan munculnya harapan de-eskalasi. Penundaan serangan ke Iran oleh AS serta tawaran mediasi damai dari Pakistan mengubah sentimen pasar secara drastis. 

Investor yang sebelumnya menempatkan aset sebagai safe haven mulai mengalihkannya seiring meredanya sentimen perang. Sehingga, pada 23 Maret 2026, harga emas merosot ke titik terendah sepanjang tahun di level Rp 2.843.000 per gram, turun tajam sebesar -1,73% dalam satu hari saja.

Pergerakan harga emas hingga 26 Maret 2026 mulai stabil, namun tetap sensitif terhadap perkembangan terbaru. Harga sempat naik ke angka Rp 2.850.000. Lini masa sebulan terakhir membuktikan bahwa harga emas bukan hanya digerakkan oleh hukum permintaan dan penawaran semata, tetapi juga cermin dari tensi keamanan di Timur Tengah.

Baca selengkapnya