" } }

Eksportir Siapkan Antisipasi Kenaikan Logistik ke Amerika Imbas AS vs Venezuela

Eksportir mengkhawatirkan membengkaknya biaya kenaikan logistik ke benua Amerika pasca serangan Amerika Serikat ke Venezuela pada akhir pekan lalu, meningkatkan eskalasi di kawasan yang disinyalir turut mempengaruhi harga komoditas global seperti emas dan minyak mentah.

Eksportir Siapkan Antisipasi Kenaikan Logistik ke Amerika Imbas AS vs Venezuela
Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (5/1/2026). Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nz
Daftar Isi

Eksportir mengkhawatirkan membengkaknya biaya kenaikan logistik ke benua Amerika pasca serangan Amerika Serikat ke Venezuela pada akhir pekan lalu, meningkatkan eskalasi di kawasan yang disinyalir turut mempengaruhi harga komoditas global seperti emas dan minyak mentah.

CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi mengatakan eksportir Indonesia perlu mitigasi risiko proaktif untuk mengamankan kepentingan perluasan pasar yang telah diinisiasi, antara lain, lewat Indonesia-Peru CEPA dan rencana Indonesia-Brazil CEPA.

Menurut dia, eskalasi geopolitik akibat serangan AS ke Venezuela berpotensi menimbulkan dampak tidak langsung terhadap rantai pasok global, khususnya melalui volatilitas harga energi dan biaya logistik internasional.

"Dampak tersebut dapat memengaruhi ongkos angkut dan reliabilitas jadwal pengiriman ke kawasan Amerika Selatan, meskipun tidak mengganggu secara langsung arus perdagangan Indonesia ke negara-negara tujuan di kawasan tersebut," ujar Setijadi saat dihubungi SUAR, Selasa (06/01/2026).

Dalam konteks upaya Indonesia memperluas pasar ke Amerika Selatan melalui kerja sama perdagangan seperti Indonesia-Peru CEPA dan rencana Indonesia-Brasil CEPA, Setijadi menilai potensi pasar tetap terbuka dan prospektif. Namun, ekspor Indonesia tetap perlu mengantisipasi peningkatan risiko logistik yang mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Secara rinci, terdapat sekurang-kurangnya tiga risiko logistik yang akan terjadi dalam perdagangan luar negeri ke kawasan tersebut, utamanya akibat peningkatan biaya pengiriman melalui laut. Pertama, kemungkinan kenaikan biaya freight yang memengaruhi total biaya logistik. Kedua, perubahan rute pelayaran untuk menghindari wilayah rawan. Ketiga, kehati-hatian buyer di Peru dan Brasil yang dapat menunda pengiriman dan melakukan purchase rescheduling.

Menghadapi ketiga risiko tersebut, Setijadi menganjurkan eksportir Indonesia untuk memperkuat manajemen risiko rantai pasok, tidak hanya melalui diversifikasi rute dan mitra logistik di negara-negara rawan krisis politik, melainkan juga melalui penyesuaian klausul kontrak ekspor serta menjalin komunikasi intensif dengan buyer, terutama untuk mencegah penundaan lebih lama dan pembengkakan biaya pengiriman.

"Ketahanan dan fleksibilitas rantai pasok menjadi faktor kunci agar Indonesia tidak hanya mampu menjaga keberlanjutan ekspor ke Amerika Selatan, tetapi juga memperkuat daya saingnya di tengah meningkatnya ketidakpastian global," pungkas Setijadi.

Berbagi pandangan dengan Setijadi, Pengajar Fakultas Ekonomi Fachru Nofrian Bakarudin menilai, dimensi kepentingan politik domestik AS lebih besar dibandingkan kepentingan geoekonomis yang dihasilkan dari serangan tersebut. Karenanya, sekalipun cadangan minyak Venezuela dipertaruhkan, produksi minyak mentah dunia relatif berjalan tanpa gangguan, seperti ditegaskan dalam pernyataan resmi OPEC+ beberapa hari lalu.

"AS menganggap serangan ini bagian dari upaya menyelamatkan ekonominya yang sedang decline, sementara Tiongkok justru memimpin upaya dedolarisasi negara-negara Selatan Bumi. Karenanya, dengan makroekonomi relatif tertekan akibat perubahan ini, sektor bisnis tetap perlu merespons secara hati-hati sehingga tidak terpengaruh secara langsung," jelas Fachru di Jakarta, Senin (05/01/2026).

Daya tawar

Selain mengantisipasi risiko logistik dalam waktu dekat, Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Mahendra Rianto mengatakan, pengusaha ekspor-impor dapat menemukan blessing in disguise pascaserangan AS ke Venezuela, terutama merengkuh ketidakpastian sebagai kepastian baru sejak Donald J. Trump kembali berkuasa.

"Dalam ketidakpastian karena geopolitik kami sudah wanti-wanti buyer ekspor bahwa kami tidak bisa lagi membuat contract rate jangka panjang, maksimal 2 minggu sampai satu bulan, supaya ketika berjanji ke customer, kami tidak terjebak satu harga yang fluktuatif," ujar Mahendra saat dihubungi, Selasa (06/01/2026).

Tidak hanya memperpendek jangka waktu contract rate, pelaku ekspor dan logistik perlu memanfaatkan disrupsi rantai pasok untuk menaikkan daya tawar (bargaining position). Misalnya, saat mengimpor bahan baku untuk produksi domestik, pelaku usaha dapat mengubah trade terms dari Cost, Insurance, and Freight (CIF) menjadi Free On Board, sehingga hak dan risiko ditanggung pembeli.

"Dengan perubahan terms itu, pemerintah dapat menunjuk perusahaan logistik lokal untuk menangani impor bahan baku tersebut. Ketika pemerintah mendatangkan alat-alat medis atau bahan untuk EV, kita punya hak untuk membeli dan menentukan jasa logistik yang harus dipakai. Sudah banyak perusahaan yang sanggup," tegasnya.

Menurut Mahendra, memanfaatkan momentum disrupsi rantai pasok untuk menggerakkan perusahaan logistik lokal memiliki sejumlah keuntungan, mulai dari memudahkan penyelarasan dengan regulasi Indonesia hingga memaksimalkan potensi biaya logistik yang selama ini dikeluhkan bagi peningkatan (upscaling) perusahaan logistik lokal.

"Jika Bappenas mengatakan biaya rantai pasok Indonesia 14,29% PDB, artinya hampir Rp3.000 triliun. Dari jumlah itu, 40% di antaranya untuk biaya transportasi. Jumlah ini bisa membantu perusahaan logistik berinvestasi, punya cabang di luar negeri, sehingga kita bisa ambil ilmunya," ucap Mahendra.

Mengambil pelajaran di tengah disrupsi global yang berlangsung akan meningkatkan daya tahan perusahaan logistik lokal, belajar bertahan dengan bersikap proaktif dan mengambil inisiatif. Mahendra menegaskan, dengan cara inilah, perusahaan ekspor dapat bertahan hidup dan tetap sintas di tengah disrupsi global.

Pengunjuk rasa dari berbagai aliansi membakar bendera AS dan poster bergambar presiden AS Donald Trump saat menggelar aksi solidaritas untuk Venezuela di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Selasa (6/1/2026). (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso/YU)

Dalam pantauan

Secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Koordinator Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan, kondisi Venezuela saat ini belum berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia, mengingat Venezuela tidak memiliki transmisi langsung yang signifikan ke sektor riil Indonesia, sehingga produksi, konsumsi, maupun neraca perdagangan domestik relatif tidak terdampak akibat serangan AS hari Sabtu lalu.

"Hubungan Indonesia dan Venezuela pada sektor perdagangan, investasi, serta ketergantungan energi masih sangat terbatas, sehingga tidak menimbulkan dampak signifikan yang secara langsung berpengaruh terhadap fundamental ekonomi Indonesia," ucap Haryo kepada SUAR, Selasa (06/01/2026).

Meski demikian, pemerintah sampai saat ini tetap memantau setiap kemungkinan dampak yang ditimbulkan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik global pascaserangan ke Venezuela, khususnya terkait harga dan rantai pasok minyak mentah yang tidak hanya memengaruhi keamanan energi Indonesia, melainkan juga seluruh dunia.

"Pemerintah Indonesia konsisten pada posisinya menyerukan kepada seluruh pihak untuk mengedepankan penyelesaian damai melalui langkah-langkah deeskalasi dan dialog, serta terus membuka kerja sama dagang dan ekonomi dengan berbagai negara sebagai antisipasi kondisi global saat ini," tutupnya.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya