Merespon tren pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati level Rp17.000, Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) Januari 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 4,75%. Keputusan ini juga untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi. Untuk membantu stabilitas nilai tukar, BI akan mengandalkan kebijakan dan instrumen moneter lainnya seperti intervensi pasar.
Sepanjang tahun ini, sejak akhir Desember 2025 hingga 20 Januari, nilai tukar rupiah telah melemah 1,54% sehingga pada berada pada level Rp16.945.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, pelemahan tersebut merupakan efek resultan aliran keluar modal asing akibat meningkatnya ketidakpastian, diikuti naiknya permintaan valuta asing oleh perbankan dan korporasi domestik, termasuk BPI Danantara.
“Hingga 19 Januari 2026 sudah terjadi net outflow USD 1,6 miliar, di samping yield US Treasury dan Fed Fund Rate yang lebih kecil, di samping dampak kebijakan tarif dan kondisi geopolitik. Sementara itu, faktor domestik disebabkan persepsi pasar terhadap kondisi fiskal, di samping proses pencalonan deputi gubernur yang sedang berjalan,” jelasnya dalam konferensi pers RDG BI di Jakarta, Rabu (21/01/2026).
Perry menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar terhadap Dolar AS juga dialami di beberapa negara dan bersifat sementara. Sebagai bank sentral, BI tidak akan segan-segan melakukan intervensi dalam jumlah besar di pasar non-deliverable forward di pasar luar negeri maupun di pasar SPOT dalam negeri sebagai upaya menstabilkan nilai tukar.
"Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dengan didukung kondisi fundamental ekonomi yang baik, inflasi yang rendah, serta prospek ekonomi yang membaik. Cadangan devisa Indonesia sebesar USD 156,5 miliar sudah lebih dari cukup, dan akan kami gunakan dalam jumlah besar untuk melakukan stabilisasi agar rupiah semakin stabil dan menguat," ucap Perry
Melengkapi penjelasan Perry, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan salah satu tugas bank sentral dalam waktu dekat adalah memastikan agar pelemahan rupiah tidak berlanjut dan menjadi tren. Penguatan akan dilakukan dengan mengerahkan seluruh upaya dan fokus agar rupiah tidak semakin tertekan.
"Pelemahan nilai tukar rupiah terjadi lebih dalam karena persepsi. Maka itu kita perlu membalikkan persepsi tersebut lewat hasil RDG bulan ini yang menunjukkan ketahanan moneter kita relatif aman dengan cadangan devisa yang masih sangat kuat. Karena itu, selain intervensi, kami juga akan mengoptimalkan operasi moneter dengan segala instrumen yang ada," ucap Destry.
Salah satu upaya tersebut adalah memaksimalkan local currency transaction yang telah mencapai USD 25,66 miliar pada akhir 2025, meningkat pesat dibandingkan nilai akhir 2024 yang hanya USD 12,5 miliar. Penggunaan mata uang selain Dolar AS menjadi salah satu strategi untuk mengurangi ketergantungan stabilitas nilai tukar terhadap salah satu mata uang.
"Kami sudah membuka pasar LCT Yen dan LCT Renminbi, sehingga ke depan, mereka yang membutuhkan CNY akan kami dorong untuk meningkatkan transaksi. Dalam satu bulan terakhir, kami sudah aktif melakukan perdagangan di dua pasar tersebut, yang akan terus ditingkatkan," tukasnya.
Inisiatif gubernur
Ihwal pencalonan Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono sebagai pengganti Deputi Gubernur Juda Agung yang mengundurkan diri pada 13 Januari 2026, Perry secara tegas menyatakan bahwa inisiatif tersebut berasal dari permintaannya sendiri, segera sesudah surat pengunduran diri Juda diterima Presiden dengan tembusan kepada Ketua DPR-RI.
"Sesuai ketentuan Undang-Undang Bank Indonesia, termasuk dengan memperhatikan persyaratan, saya sebagai Gubernur BI pada 14 Januari 2026 menyampaikan rekomendasi usulan 3 calon deputi gubernur. Bapak Presiden telah menyampaikan usulan tersebut kepada DPR, dan kami serahkan sepenuhnya kepada DPR untuk memberikan persetujuan kepada salah satu dari 3 calon deputi tersebut," ungkapnya.
Dalam proses pergantian posisi tersebut, Perry memastikan bahwa pengisian jabatan deputi gubernur tidak akan memengaruhi pelaksanaan tugas dan kewenangan BI sebagai bank sentral, mengingat pengambilan keputusan BI selalu dilakukan oleh Dewan Gubernur secara kolektif kolegial, bukan perseorangan.
"Proses pengambilan kebijakan BI tetap kami pastikan dilakukan secara profesional dengan tata kelola yang kuat, tentu saja bersinergi erat dengan kebijakan pemerintah menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi," pungkas Perry.
Tepat
Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi Bisnis Univesitas Indonesia (FEB UI) Teuku Riefky mengatakan, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan tersebut sudah tepat.
Menurutnya, menjelang akhir 2025, inflasi menunjukkan tren kenaikan, mencapai level tertinggi tahun ini pada bulan Desember, terutama dipengaruhi oleh tekanan sisi penawaran pada komoditas pangan, namun tetap berada dalam kisaran target BI.
Secara bersamaan, kondisi eksternal menjadi kurang mendukung seiring dengan penyesuaian di pasar keuangan global terhadap penguatan dolar AS di tengah perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS dan ketidakpastian geopolitik yang meningkat.
"Dalam kondisi ini, stabilitas nilai tukar menjadi prioritas kebijakan utama. Mempertahankan BI Rate di level 4,75% akan membantu menjaga selisih suku bunga, mendukung kepercayaan pasar, dan mengendalikan volatilitas mata uang di tengah ketidakpastian global yang persisten," jelas Riefky dalam keterangan tertulis yang diterima SUAR, Rabu (21/01/2026).
Baca juga:

Berbagi pandangan dengan Riefky, Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menyatakan, selain faktor fundamental seperti tekanan eksternal, kombinasi sentimen pasar tentang kepastian pengelolaan fiskal dan independensi bank sentral juga memengaruhi stabilitas nilai tukar rupiah.
"Pasar mengkhawatirkan kemampuan pemerintahan yang memiliki banyak ambisi untuk mengelola dan membayar utang yang besar dan jatuh tempo tahun ini, serta kemampuan bank sentral untuk tetap independen dalam menjalankan tugas menjaga nilai tukar. Kombinasi antara faktor fundamental dan sentimen pasar tersebut antara lain mendorong aliran modal lari ke Dolar," ucap Deni saat dihubungi.
Dari pembacaan BI yang akurat terhadap kondisi ekonomi global dan ketidakpastian ekonomi dunia, bauran kebijakan bank sentral ke depan akan semakin diuji dan komitmen BI untuk berhati-hati dalam menurunkan atau mempertahankan suku bunga guna mendorong pertumbuhan akan semakin ditantang, terutama karena tanggung jawab utama bank sentral tetaplah menjaga stabilitas mata uang.
"Tantangan untuk menurunkan atau mempertahankan suku bunga, menurunkan giro wajib minimum, atau menambah stimulus akan menguji apakah benar-benar BI berhati-hati dalam menempuh kebijakan moneter dan benar-benar menjalankan kebijakan makroprudensial yang selama ini mereka jalankan," pungkas Deni.