Delapan Proyek Baru untuk Meningkatkan Lifting Migas Nasional

Tren realisasi lifting atau minyak dan gas bumi siap jual Indonesia selama satu dekade terakhir cenderung menurun. Namun, pemulihan mulai terlihat pada tahun 2025 dan diharapkan berlanjut dengan proyek-proyek baru yang akan dijalankan tahun ini.

Delapan Proyek Baru untuk Meningkatkan Lifting Migas Nasional

Berdasarkan data Statistik Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), lifting minyak nasional mengalami tren penurunan dari 829 MBOPD pada tahun 2016 menjadi ke titik terendah sebesar 579 MBOPD pada tahun 2024. Namun, sinyal pemulihan terjadi pada tahun 2025 dengan lifting mencapai 652 MBOPD. 

Pola serupa juga terjadi pada lifting gas bumi yang sempat menyentuh angka 1.188 MBOPD di tahun 2016, kemudian bergerak turun hingga di level 964 MBOPD pada tahun 2025. Penurunan ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera mengimplementasikan strategi baru guna menahan laju penurunan produksi alami.

Memasuki tahun 2026, optimisme baru muncul seiring dengan target pengoperasian delapan proyek hulu migas strategis yang diharapkan menjadi titik balik bagi produktivitas energi nasional. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan proyek-proyek ini mulai beroperasi (onstream) untuk mendongkrak volume produksi secara signifikan guna memenuhi target lifting pemerintah. 

Dengan total investasi mencapai 478 juta dolar AS, langkah ini merupakan komitmen serius untuk mengoptimalkan potensi sumber daya yang ada sekaligus menarik minat investor di sektor hulu migas. Keberhasilan proyek-proyek ini sangat krusial agar tren kenaikan yang mulai terlihat di tahun 2025 dapat berkelanjutan.

Delapan proyek yang dijadwalkan beroperasi pada tahun 2026 mencakup berbagai wilayah kerja strategis di Indonesia dengan kapasitas yang bervariasi. Proyek tersebut meliputi Sisi Nubi AOI 1, 3, 5 Tahap II (180 MMSCFD), proyek OO-OX (2.996 BOPD dan 21,3 MMSCFD), serta Senoro Selatan Tahap II (110 MMSCFD dan 2.800 BOPD) yang ditargetkan beroperasi pada kuartal pertama. 

Pada kuartal berikutnya, menyusul proyek Polymer Minas Area D (1.212 BOPD), NSD Plant (90 BOPD dan 20 MMSCFD), serta Suban Compressor Clustering (118 MMSCFD). Menjelang akhir tahun, proyek Fasprod Sidingin North-1 (325 BOPD) dan Upgrading Puspa Asri (1.034 BOPD) juga direncanakan akan mulai memberikan kontribusi pada produksi nasional.

Integrasi kedelapan proyek baru ini diproyeksikan memberikan tambahan produksi hulu migas yang cukup signifikan bagi Indonesia. Desain kapasitas gabungan dari seluruh proyek ini mencapai 8.457 barel minyak per hari (BOPD) dan 389 juta standar kaki kubik gas per hari (MMSCFD). 

Secara detail, tambahan produksi bersih yang diharapkan di tahun 2026 adalah sebesar 8.199 BOPD untuk minyak dan 214 MMSCFD untuk gas bumi. Jika dikonversi secara total, maka kontribusi tambahan dari delapan proyek strategis tersebut akan mencapai 46.413 barel setara minyak per hari (BOEPD).

Dengan adanya penambahan kapasitas dari lapangan-lapangan baru dan optimalisasi dari lapangan yang ada, tren pertumbuhan lifting yang mulai tampak di tahun 2025 diharapkan dapat terakselerasi. Sinergi antara pemerintah, SKK Migas, dan para Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) menjadi kunci dalam memastikan seluruh proyek ini onstream tepat waktu demi mendukung cita-cita kedaulatan energi nasional.

Baca selengkapnya