Cerita Viking Mengilhami Antoni Lewa Dirikan MainStory

Bagi Antoni, keberanian suku Viking menjadi pelajaran berharga yang diketahuinya dari buku-buku sejarah itu.

Lembar demi lembar dibukanya. Dari satu buku ke buku lainnya selama beberapa jam, terus-menerus dalam sehari menjadi aktivitas rutin Antoni Lewa. Siapa sangka, seorang CEO MainStory ini ternyata senang menghabiskan waktu luangnya dengan membaca buku.

Kepada SUAR, ia mengaku paling senang membaca buku sejarah. Utamanya terkait peradaban dunia dan suku Viking.

Menurut Antoni, suku Viking telah memberikan dampak luar biasa terhadap dunia modern. Mereka dikenal suka menjelajah, mencoba hal baru dan piawai berdagang.

gray wooden house near sea under white skies
Photo by Gigi / Unsplash

Viking sendiri merupakan sekelompok pelaut, pejuang, pedagang, dan penjelajah dari Skandinavia (Norwedia, Swedia, dan Denmark). Dengan kapal longship mereka menjelajahi berbagai Samudera di Eropa, Islandia, Greenland, sampai ke ujung Amerika Utara di abad ke-8 hingga ke -11. 

“Saya sangat tertarik membaca dan mengenal suku Viking lebih jauh karena banyak hal yang bisa dipelajari dari mereka dan diaplikasikan di dunia modern saat ini,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (30/1).

Bagi Antoni, keberanian suku Viking menjadi pelajaran berharga yang diketahuinya dari buku-buku sejarah itu. Menurut Antoni, mereka berani mencoba hal baru, gemar bertualang, dan cepat beradaptasi dengan lingkungan. Dari tanah beku Greenland hingga lahan subur Eropa, Viking mampu bertahan dan berkembang. Tak heran jika pengaruh mereka terasa hingga kini, bahkan di Asia, Viking dipandang sebagai bangsa inovator.

“Viking memberi inspirasi besar bagi saya, terutama soal keberanian untuk mencoba dan mengeksplorasi hal-hal baru,” tambahnya.

Antoni sendiri hanya tertarik membaca buku sejarah. Baginya, sejarah membuka wawasan tentang perkembangan dunia dan memberi banyak pelajaran. Ia biasanya membaca di sela waktu istirahat kantor atau saat perjalanan, dengan durasi maksimal dua jam.

Salah satu hal yang paling ia sukai adalah simbol helm bertanduk Viking, yang menurutnya melambangkan kekuatan dan kesiapan menghadapi situasi apa pun.

"Suku Viking gampang beradaptasi di berbagai negara dari mulai tanah beku di Greenland hingga daerah subur di Eropa," ujar pria yang menjadikan The Viking Warrior sebagai buku favoritnya.

The Viking Warrior karya Judson Roberts adalah novel sejarah yang membuka pintu ke dunia Viking melalui sudut pandang seorang pemuda bernama Halfdan Hroriksson. Lahir sebagai budak, Halfdan sebenarnya adalah anak seorang kepala suku dan putra bangsawan.

Kisah ini mengikuti perjalanannya keluar dari belenggu perbudakan menuju kehidupan sebagai prajurit Viking. Roberts menggambarkan detail kehidupan sehari-hari bangsa Viking—mulai dari pelatihan perang, budaya, hingga politik—dengan narasi yang hidup, sehingga pembaca seakan ikut merasakan kerasnya dunia Skandinavia abad pertengahan.

CEO dan Founder MainStory, Antoni Lewa ditemui SUAR di kantornya, Kamis (29/1/2026). Foto: SUAR/Ridho Syukra.

Dari Viking Bangun MainStory

Nilai keberanian Viking Antoni terapkan dalam hidupnya. Pada 2022, ia mendirikan MainStory, sebuah layanan pengasuhan anak berbasis teknologi (tech-enabled childcare).

MainStory menawarkan daycare dan homecare dengan sistem pemantauan digital real-time. Sejak berdiri, ribuan orang tua di berbagai kota Indonesia telah terbantu oleh jaringan daycare profesional MainStory.

Ini adalah hal baru yang ia jalani. Sebelum itu, Antoni berkarier puluhan tahun di sektor logistik. Namun ia memilih terjun ke bidang baru karena melihat peluang besar—sama seperti semangat Viking yang selalu menjelajah.

Selama ini, pengasuhan anak kerap dianggap sebagai urusan pribadi keluarga semata. Padahal di balik itu, tersimpan dampak domino yang jauh lebih luas, mulai dari produktivitas tenaga kerja, keberlanjutan karier perempuan, hingga fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. 

MainStory menegaskan bahwa pengasuhan anak (childcare) bukan sekadar layanan, melainkan bagian dari infrastruktur sosial yang berperan penting dalam membentuk kualitas generasi masa depan dan partisipasi tenaga kerja hari ini.

“Ketika seorang ibu bisa tetap bekerja karena anaknya mendapat pengasuhan aman dan berkualitas, dampaknya bukan hanya ke keluarga itu. Dampaknya menjalar ke produktivitas perusahaan dan ekonomi nasional,” jelas Antoni.

Menurut dia, pengasuhan anak layak diposisikan sebagai infrastruktur sosial karena dampaknya lintas generasi, mulai dari stimulasi tumbuh kembang anak, keberlanjutan karier orang tua, khususnya perempuan, hingga produktivitas ekonomi jangka panjang. 

Riset menunjukkan, investasi pada pengasuhan anak berkualitas bisa memberi imbal hasil hingga 7–10 kali lipat. Selain itu, investasi ini membantu menyetarakan peluang ekonomi anak dari berbagai latar sosial.

Aktivitas bermain di MainStory. Foto: Instagram MainStory.

Di Indonesia, akses childcare yang terjangkau dan berkualitas bahkan berpotensi meningkatkan partisipasi kerja perempuan dari 53% menjadi 58%. Dampaknya, PDB bisa bertambah hingga USD 62 miliar per tahun, demikian menurut riset yang dikutip Antoni.

Sejak berdiri, MainStory telah mengoperasikan lebih dari 30 unit daycare dan homecare di lima kota. Hingga Januari 2026, layanan ini sudah mendampingi lebih dari 7.000 keluarga, dengan 4.500 di antaranya adalah ibu bekerja. Total, tercatat lebih dari 150.000 hari pengasuhan anak. Tingkat retensi keluarga mencapai 89%, dengan net promoter score 71%—angka yang mencerminkan kepercayaan tinggi dari para orang tua.

“Ini bukan sekadar pertumbuhan bisnis. Ini mencerminkan kebutuhan nyata keluarga bekerja dan kepercayaan yang mereka titipkan kepada kami,” ujar Antoni.

Baca selengkapnya