Cerita Banting Setir dari Insinyur jadi Pebisnis Busana Muslim

Di tengah pesatnya pertumbuhan industri fesyen muslim di Indonesia, nama Zenitha mulai mencuri perhatian. Brand ini bukan lahir dari latar belakang desainer atau pebisnis, melainkan dari tangan seorang mantan engineer bernama Ryan Syafikri. 

Cerita Banting Setir dari Insinyur jadi Pebisnis Busana Muslim
Founder Zenitha Ryan Syafikri. Foto: Dokumen Pribadi.
Daftar Isi

Di tengah pesatnya pertumbuhan industri fesyen muslim di Indonesia, nama Zenitha mulai mencuri perhatian. Brand ini bukan lahir dari latar belakang desainer atau pebisnis, melainkan dari tangan seorang mantan engineer bernama Ryan Syafikri. 

Keputusan Ryan untuk beralih dari dunia teknik ke bisnis fesyen bukan tanpa alasan. Maklum, ia tumbuh di lingkungan keluarga yang telah lama berkecimpung dalam usaha pakaian, sehingga naluri bisnis itu sudah tertanam sejak lama.

Ryan mengisahkan bahwa ketertarikannya pada dunia fesyen muncul dari kebiasaan melihat orang tuanya mengelola usaha pakaian. Meski sempat menempuh karier sebagai engineer, ia merasa ada peluang besar yang belum tergarap maksimal di bisnis keluarga tersebut, terutama dengan perkembangan teknologi digital dan perubahan perilaku konsumen.

“Orang tua saya juga bisnis pakaian, di mana saya punya akses dan pengetahuan mengenai industri ini,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (17/3/2026).

Dokumentasi pribadi Ryan Syafikri.

Tahun 2018 menjadi titik awal perjalanan Ryan di bisnis fesyen muslim. Ia memulai dengan sistem reseller, menjual produk yang sebagian besar masih berasal dari stok orang tuanya. Dengan modal yang relatif minim, ia mencoba peruntungan di platform marketplace yang saat itu mulai naik daun, terutama Shopee.

Di masa awal, perjalanan bisnis Zenitha tidak selalu mulus. Ryan mengandalkan metode sederhana, seperti melakukan live streaming sendiri untuk memasarkan produk. Penjualan pun masih sangat terbatas bahkan dalam satu bulan, jumlah produk yang terjual bisa dihitung dengan jari. Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah.

Seiring berjalannya waktu, Ryan mulai mempelajari lebih dalam strategi pemasaran digital. Ia memahami bahwa marketplace bukan sekadar tempat berjualan, melainkan ekosistem yang membutuhkan pendekatan khusus. Ia mulai memanfaatkan berbagai fitur yang tersedia, seperti iklan berbayar dan program afiliasi.

Langkah tersebut perlahan membuahkan hasil. Dengan strategi yang lebih terarah, produk Zenitha mulai dikenal lebih luas. Trafik toko meningkat, dan penjualan pun ikut terdongkrak. 

Ryan menyadari bahwa konsistensi dalam belajar dan beradaptasi menjadi kunci utama dalam menghadapi persaingan di dunia digital.

“Intinya jangan pernah berhenti belajar dan mencari sesuatu yang baru untuk dipelajari,” ungkap dia.

Perubahan signifikan mulai terlihat ketika Zenitha mampu beralih dari penjualan skala kecil menjadi bisnis dengan volume besar. Dari yang sebelumnya hanya menjual beberapa potong pakaian per bulan, kini Zenitha mampu menjual belasan ribu pieces setiap bulannya. Pertumbuhan ini menjadi bukti nyata efektivitas strategi digital yang diterapkan.

Ryan juga menilai bahwa platform Shopee berperan besar dalam perjalanan bisnisnya. Baginya, marketplace tersebut seperti memberikan “kesempatan kedua” untuk bangkit dan berkembang. Dengan dukungan fitur yang terus diperbarui, pelaku usaha seperti dirinya memiliki peluang yang lebih besar untuk bersaing di pasar yang semakin kompetitif.

Tidak hanya berdampak pada dirinya, perkembangan Zenitha juga membawa manfaat bagi banyak orang. Saat ini, bisnis tersebut telah membuka lapangan pekerjaan bagi sekitar 30 orang tim yang terlibat dalam operasional sehari-hari, mulai dari produksi hingga pemasaran.

Ke depan, Ryan berharap Zenitha dapat terus berkembang dan menjadi salah satu brand fesyen muslim yang diperhitungkan di Indonesia. Ia juga ingin menginspirasi lebih banyak orang bahwa dengan ketekunan, kemauan belajar, dan pemanfaatan teknologi yang tepat, siapa pun bisa membangun bisnis dari nol hingga sukses.

Produk Zenitha yang laris meliputi fashion muslimah dan perlengkapan tidur. Busana muslim karyanya antara lain Gamis ZN 291, Gamis Safiyah, kulot, dan sarimbit keluarga.

Shopee Jagoan UMKM

Kini, Zenitha Fashion berhasil menempatkan diri sebagai salah satu “Shopee Jagoan UMKM” yang sukses naik kelas berkat konsistensi dalam berinovasi dan membaca kebutuhan pasar. Di tengah persaingan industri fashion yang semakin ketat, Zenitha mampu menghadirkan produk-produk muslim yang tidak hanya mengikuti tren, tetapi juga memiliki karakter kuat dan kualitas yang terjaga. 

Ryan menuturkan pendekatan ini membuat brand tersebut semakin dikenal luas dan dipercaya oleh konsumen di berbagai daerah.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari strategi kreatif yang terus dikembangkan, mulai dari pemanfaatan fitur live streaming, kampanye interaktif di marketplace, hingga optimalisasi pemasaran digital. 

“Zenitha juga aktif menghadirkan desain-desain baru yang relevan dengan preferensi konsumen, terutama generasi muda yang menginginkan busana muslim yang stylish namun tetap nyaman. Inovasi yang berkelanjutan ini menjadi kunci dalam menjaga daya saing sekaligus memperluas pangsa pasar,” ujar dia.

Selain itu, Zenitha menunjukkan bahwa UMKM lokal mampu berkembang pesat jika dikelola dengan adaptif dan visioner. Dengan memanfaatkan ekosistem digital secara maksimal, Zenitha tidak hanya meningkatkan penjualan, tetapi juga memperkuat branding sebagai produk lokal berkualitas. Pencapaian sebagai Shopee Jagoan UMKM menjadi bukti bahwa kreativitas dan keberanian untuk terus berinovasi dapat membawa pelaku usaha naik kelas dan bersaing di level yang lebih tinggi.

Shopee Perkuat Komitmen Perluas Akses Ekonomi Digital

Di sisi lain, Shopee Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam memperluas akses ekonomi digital melalui dukungan berkelanjutan terhadap Program ‘Emak-Emak Matic’ dan ‘Gen Matic’ yang merupakan inisiatif Kementerian Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.

Sepanjang 2025, kolaborasi strategis ini telah membekali lebih dari 2.500 ibu rumah tangga dan generasi muda di delapan kota termasuk Malang, Jakarta, Bogor, Solo, Balikpapan, Kediri, Bali, dan Tangerang dengan keterampilan digital untuk mengoptimalkan peluang sebagai penjual, merchant, dan afiliator di ekosistem Shopee. 

Usai pelatihan, para peserta mencatat rata-rata penjualan di Shopee meningkat hingga 3x, pesanan Merchant Shopee Food meningkat hingga 1,8x, dan komisi afiliator melonjak hingga 8x. 

Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang, mengatakan pelatihan Emak-Emak Matic dan Gen Matic diberikan oleh trainer Kampus UMKM Shopee yang sudah bersertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Pelatihan ini juga membekali peserta seputar pengetahuan praktis untuk memulai bisnis sebagai penjual di Shopee, bergabung sebagai merchant kuliner di Shopee Food, dan cara awal dalam menjadi kreator dalam Shopee Affiliate Program.

“Kami senang dapat berkolaborasi dengan Kemenkraf RI dalam menghadirkan rangkaian pelatihan Emak-Emak Matic dan Gen Matic yang disambut antusias di setiap kota sepanjang 2025 lalu,” ujar dia di Jakarta (9/3).

Baca selengkapnya