Catatan dan Pelajaran Berharga dari Makroekonomi 2025

Simak sejumlah catatan penting peristiwa yang mempengaruhi ekonomi makro Indonesia di 2025.

Catatan dan Pelajaran Berharga dari Makroekonomi 2025
Foto: Afif Ramdhasuma / Unsplash
Daftar Isi

Rangkaian turbulensi ekonomi yang terjadi sepanjang 2025 terangkum dalam catatan dan pelajaran berharga tentang arti penting ketahanan fundamental di samping cita-cita mengejar pertumbuhan tinggi. Terlepas dari berbagai prediksi perlambatan, keberhasilan Indonesia melewati tahun yang menentukan menjadi modal peralihan fokus dari stabilitas menuju pertumbuhan optimal sesuai potensi.

Sepanjang tahun, kurasi Suar.id menemukan 14 peristiwa makroekonomi penting yang menentukan, di samping pergerakan inflasi dan nilai tukar rupiah yang berhasil terjaga sesuai ekspektasi.

Januari 2025

Presiden Prabowo Subianto menetapkan kebijakan efisiensi

Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD 2025. Kebijakan yang menargetkan efisiensi total sekitar Rp 306,7 triliun ini memerintahkan peninjauan ulang komponen belanja sesuai tugas dan fungsi kementerian/lembaga, serta mengurangi belanja tanpa output terukur seperti seminar dan perjalanan dinas.

Dunia usaha memberikan sambutan positif terhadap langkah disiplin fiskal di awal tahun ini. Bagi investor, Inpres ini memperkuat persepsi upaya pemerintah menjaga kredibilitas APBN dalam ruang fiskal yang terbatas. Meski demikian, pelaku industri yang bergantung pada pengeluaran belanja pemerintah, seperti event organizer, perhotelan, dan percetakan mulai menyuarakan kekhawatiran terkait potensi penurunan permintaan sejak awal tahun.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 0,76% YoY
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.200 - Rp 16.260 per USD

Februari 2025

Pertumbuhan ekonomi 2024 capai 5,03%

Badan Pusat Statistik menerbitkan Berita Resmi Statistik yang mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2024 mencapai 5,02% year on year, sehingga pertumbuhan ekonomi tahunan 2024 mencapai 5,03% calendar to calendar (c-to-c).

Capaian pertumbuhan yang tetap di atas 5% memperlihatkan ketahanan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global, sekaligus mengatur baseline untuk asumsi pertumbuhan sepanjang tahun. Pasar keuangan menyambut pengumuman ini secara positif, meski tidak memicu euforia karena pertumbuhan tersebut sejalan dengan ekspektasi sebelumnya.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: -0,09%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.320 - Rp 16.520 per USD

Maret 2025

Ekspektasi Pertumbuhan Q1 2025 mulai terbentuk

Bertepatan dengan awal Ramadan 1446 Hijriah, kenaikan permintaan bahan pangan dan konsumsi rumah tangga memicu tekanan harga musiman, terutama pada kelompok makanan dan minuman. Namun, realisasi belanja pemerintah yang melambat pascaefisiensi telah menahan permintaan, dengan dorongan pertumbuhan lebih banyak datang dari konsumsi rumah tangga.

Pada akhir Maret 2025, ekspektasi pertumbuhan ekonomi Q1 2025 mulai memperkirakan akselerasi yang tertahan, tetapi cukup stabil untuk menjaga laju pertumbuhan. Tanpa terobosan signifikan, arah pertumbuhan ekonomi 2025 mulai terbaca dalam ritme yang stabil, tetapi tidak ekspansif.

Baca juga:

Hari Besar dan Libur Sekolah Dorong Lonjakan Wisata dan Belanja
Musim liburan di kuartal II-2025 ini bukan hanya momen untuk rehat, tetapi juga menjadi pemicu utama lonjakan aktivitas ekonomi nasional.

Trading halt Bursa Efek Indonesia

Bursa Efek Indonesia sempat menerapkan pembekuan sementara perdagangan (trading halt) setelah IHSG turun 5,02% pada 18 Maret 2025, pukul 11:19:31. Peristiwa ini menjadi penurunan intraday paling tajam dalam beberapa tahun terakhir akibat sentimen negatif dan kekhawatiran investor terhadap ketidakpastian makroekonomi dan risiko fiskal.

Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad mengunjungi gedung BEI hari itu untuk menenangkan pasar dan memberi sinyal dukungan terhadap stabilitas pasar modal. Dia juga menegaskan isu pengunduran diri Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sebagai hoaks dan memastikan kebijakan fiskal tetap konsisten dan dikelola secara bertanggung jawab.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 1,03%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.320 - Rp 16.590 per USD

April 2025

Kebijakan tarif Amerika Serikat diumumkan

Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump mengumumkan paket tarif impor yang dijuluki "Liberation Day Tariffs" yang mencakup tarif universal 10% atas hampir semua barang impor dan tarif resiprokal lebih tinggi untuk berbagai negara, dengan Indonesia mula-mula dikenakan tarif impor 32% berdasarkan kalkulasi ketidakseimbangan neraca dagang sepihak.

Pemerintah Indonesia menyatakan siap menghadapi dinamika tersebut dengan memperkuat dialog bilateral, kerjasama ekonomi regional dan FTA, di samping melakukan diversifikasi ekspor ke pasar potensial di luar Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan.

Eskalasi tarif sempat memicu volatilitas kurs mata uang Asia, termasuk rupiah karena kekhawatiran perlambatan perdagangan akibat disrupsi rantai pasok. Tekanan jangka pendek di bursa saham sempat terjadi, diikuti naiknya ekspektasi kenaikan biaya impor dari Amerika Serikat, sehingga pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor harus menimbang ulang struktur biaya dan rantai pasok imbas kebijakan ini.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 1,95%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.780 - Rp 16.800 per USD

Mei 2025

Perekonomian Q1 2025 melambat

Badan Pusat Statistik menerbitkan Berita Resmi Statistik yang mengumumkan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2025 melambat dengan pertumbuhan hanya mencapai 4,87% YoY, lebih rendah daripada Kuartal-I 2024 sekitar 5,11% YoY. Secara kuartalan, ekonomi Indonesia terkontraksi -0,98%, sekalipun pertanian serta manufaktur dan ritel mengalami pertumbuhan positif.

Pertumbuhan 4,87% merupakan level pertumbuhan tahunan terendah sejak beberapa tahun terakhir, yang menunjukkan penurunan signifikan kinerja triwulanan pada komponen belanja pemerintah telah memukul pertumbuhan ekonomi dan membentuk sentimen lesu dalam investasi, sekaligus menantang kapasitas pemulihan pascamusim libur lebaran.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 1,60%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.600 - Rp 16.275 per USD

Juni 2025

Bank Dunia nilai ketahanan ekonomi Indonesia tetap kuat

Bank Dunia merilis laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) yang menilai kemampuan ekonomi Indonesia tetap berdaya tahan, dengan pertumbuhan dapat mencapai 4,9% di tengah melemahnya permintaan global. Kekuatan permintaan domestik dan kontribusi sektor pertanian serta jasa yang cukup kuat, ditopang inflasi yang rendah dan program sosial pemerintah dapat menjadi efek pengganda yang berdampak positif bagi pertumbuhan jangka menengah.

Meski demikian, Bank Dunia menggarisbawahi ketidakpastian perdagangan internasional tetap menjadi risiko yang memengaruhi ekspor, investasi, dan aliran modal asing. Kualitas lapangan kerja yang heterogen, produktivitas yang berpusat pada sektor bernilai tambah rendah, serta efisiensi yang menahan investasi pemerintah dalam jangka pendek menjadi senarai risiko yang harus dimitigasi Indonesia untuk mencegah efek terusan yang menghambat pertumbuhan ekonominya.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 1,87%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.250 - Rp 16.270 per USD

Juli 2025

Negara-negara BRICS rapatkan barisan hadapi Trump

Menyusul penetapan kebijakan tarif unilateral Amerika Serikat, Brasil menjadi tuan rumah 17th BRICS Leaders Summit yang membawa agenda penguatan kerja sama dagang dan investasi, pembangunan ekonomi berkelanjutan, reformasi tata kelola global, dan perluasan perdagangan.

Arah kerjasama baru dari Selatan Bumi ini berusaha menjawab disrupsi rantai pasok dengan menghadirkan arsitektur perdagangan alternatif di luar blok ekonomi Barat, termasuk potensi perluasan pasar ekspor non-AS, membuka peluang investasi dan pembiayaan infrastruktur, serta memperkuat multilateralisme di tengah kekhawatiran terhadap dampak ekonomi dari kebijakan tarif resiprokal AS.

Rencana "dedolarisasi" yang sempat mengemuka menyusul berakhirnya konferensi tingkat tinggi ini sempat memicu pernyataan kontroversial Presiden Trump yang akan mengenakan tarif resiprokal 100% bagi negara-negara anggota BRICS apabila rencana tersebut ditindaklanjuti.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 2,37%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah:?Rp 16.200 - Rp 16.315 per USD

Agustus 2025

Kejutan pertumbuhan ekonomi Q2 2025

Pada 5 Agustus 2025, Badan Pusat Statistik mengumumkan dalam Berita Rilis Statistik edisi Agustus 2025 bahwa pertumbuhan ekonomi Q2 2025 berhasil mencapai 5,12% YoY atau menguat 4,04% secara kuartalan.

Capaian ini relatif lebih tinggi dibandingkan perkiraan pasar dan ekonom yang memproyeksikan angka pertumbuhan hanya mencapai 4,8%-4,9%. Konsumsi rumah tangga yang tetap stabil, penguatan ekspor, dan pertumbuhan investasi yang stabil menjadi kontributor utama pertumbuhan di triwulan ini.

Pengumuman ini sempat memperkuat sentimen pasar keuangan domestik, mencerminkan persepsi positif terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang resilien, meski skeptisisme tetap muncul mengenai akurasi data yang BPS gunakan dalam mengukur pertumbuhan kuartal ini.

Pemerintah tetapkan haluan kebijakan fiskal ekspansif

Dalam pidato Nota Keuangan di hadapan Majelis Permusyawaratan Rakyat, Jumat (15/08/2025), Presiden Prabowo Subianto mengumumkan rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2026 dengan target penerimaan Rp 3.147,7 triliun, belanja Rp 3.786,5 triliun, dan defisit setara 2,48%.

Prioritas kebijakan fiskal 2026 akan diarahkan pada penguatan ketahanan pangan dan energi, perlindungan sosial yang tepat sasaran, serta dukungan terhadap sektor-sektor produktif demi penciptaan lapangan kerja.

Dengan asumsi inflasi terjaga +-2,5% dan penerimaan pajak naik 12,8%, RAPBN 2026 diharapkan mampu menjadi bantalan pengaman (shock absorber) yang memungkinkan Indonesia tetap mampu meraih pertumbuhan ekonomi tahunan 5,4% di tengah ketidakpastian dan perlambatan ekonomi global.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 2,31%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.300 - Rp 16.340

Baca juga:

Mata Dunia Menyoroti RAPBN 2026, Terutama Defisit Anggaran
Pengumuman postur Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 tak hanya jadi perhatian dunia usaha dalam negeri, tetapi juga perhatian pemangku kepentingan eksternal. Ada pandangan beragam dari mereka soal postur RAPBN 2026.
Efisien dan Antibocor di RAPBN 2026 (3)
Pemerintahan mematok target tinggi dalam rancangan anggaran dan pendapatan di tahun 2026. Pembiayaan belanja yang akan ditopang pajak perlu dirancang matang agar tidak membebani rakyat.

September 2025

Pergantian Menteri Keuangan pertama setelah 9 tahun

Melalui pergantian yang terjadi secara mendadak, Presiden Prabowo Subianto resmi mengangkat Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Purbaya Yudhi Sadewa sebagai Menteri Keuangan menggantikan Sri Mulyani Indrawati pada Senin, 8 September 2025.

Dalam sambutan pertamanya usai dilantik, Purbaya menegaskan perintah Presiden untuk membalik arah ekonomi dan menciptakan pertumbuhan. Purbaya berkomitmen membuat fiskal memiliki daya dorong optimal bagi perekonomian dan menghentikan perlambatan ekonomi selama dua kuartal terakhir.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa (kiri) bersama pejabat lama Sri Mulyani Indrawati bersalaman saat serah terima jabatan di Kemenkeu, Jakarta, Selasa (9/9/2025). Foto: Antara/Hafidz Mubarak A/nz.

Pergantian mendadak tersebut sempat memperoleh respons dingin dari pasar, dengan IHSG ditutup melemah 1,28% atau 100,49 poin di level 7.766,84 pada perdagangan hari Senin akibat penjualan saham di menit-menit terakhir jelang penutupan, yang terjadi bersamaan dengan pelantikan Purbaya di Istana Negara.

Perdagangan hari Selasa melanjutkan pelemahan lebih dalam dengan beberapa kali koreksi terjadi sepanjang periode perdagangan, dan ditutup melemah 1,78% di angka 7.628,60 pada Selasa (09/09/2025).

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 2,65%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.430 - Rp 16.750

Baca juga:

Berharap Kesinambungan dan Disiplin Fiskal pada Menteri Keuangan Baru
Presiden mengganti Sri Mulyani dengan Purbaya Yudhi Sadewa untuk mengisi posisi Menteri Keuangan. Ekonom dan pengusaha berharap kesinambungan dan disiplin fiskal bisa berlanjut.
Pergantian Menteri Keuangan dan “Roller Coaster” Respons Pasar
Dalam sejarah Indonesia, pergantian menteri keuangan direspon beragam oleh pelaku pasar keuangan. Ada kalanya pasar merespon positif pergantian sang jenderal fiskal negara. Namun, ada kalanya pasar merespon sebaliknya.

Oktober 2025

IMF-Bank Dunia: ketidakpastian adalah kenormalan baru

Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Washington D.C., Amerika Serikat, pada 13-18 Oktober 2025 menegaskan bahwa ketidakpastian global telah menjadi "kenormalan baru" dalam ekonomi politik internasional akibat kombinasi proteksionisme dan fragmentasi ekonomi global.

Dalam pertemuan tersebut, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan dunia stabil tetapi tidak akan kuat, dan secara khusus memperhatikan negara-negara emerging markets, termasuk Indonesia, menghadapi risiko perlambatan global dengan memperkuat kebijakan domestik sebagai penyangga pertumbuhan.

Dalam sesi-sesi pembahasan, empat topik yang cukup mengemuka terdiri dari perdebatan utang dan ketahanan fiskal, penciptaan ekosistem pasar ketenagakerjaan yang berkualitas dan produktif, serta risiko pasar akibat gelembung aset berbasis kecerdasan artifisial yang berdampak terhadap gelembung valuasi dan stabilitas global.

Pertemuan menyarankan negara-negara emerging markets menyusun kebijaksanaan fiskal dan stabilitas makroekonomi yang responsif terhadap tekanan eksternal, seraya mengejar reformasi struktural di tingkat domestik.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 2,86%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.610 - Rp 16.620 per USD

Baca juga:

Usah Gelisah Pertumbuhan Melambat, Pemerintah Jamin Ekonomi Terus Menggeliat
Kemenkeumerespon ramalan perlambatan ekonomi yang dirilis lembaga internasional selama dua pekan terakhir. Pemerintah menerima proyeksi tersebut, namun tetap memiliki siasat untuk dorong perekonomian.
Ekonomi Ditaksir Melambat Imbas Konflik Geoekonomi, Perlu Antisipasi
Riset World Economic Forum (WEF) memperkirakan perlambatan global satu tahun ke depan.

November 2025

Pertumbuhan Q3 termoderasi sesuai dugaan

Pada 5 November 2025, Badan Pusat Statistik mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal III mencapai 5,04% YoY, lebih rendah daripada pertumbuhan tahunan di kuartal sebelumnya sebesar 5,12% YoY.

Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar dengan distribusi Rp 3.220 triliun atau 53,14% terhadap PDB, tumbuh 4,89% YoY, diikuti kontribusi investasi yang menyumbang Rp 1.762,8 triliun atau 29,09% PDB. Capaian ini menegaskan keberhasilan fundamental ekonomi Indonesia yang tetap solid dalam menghadapi fluktuasi jangka pendek yang sempat terjadi di akhir Agustus dan awal September 2025.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 2,72%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.695 - Rp 16.625

Baca juga:

Tumbuh 5,04%, Ekonomi Indonesia Kuartal Tiga Termoderasi Sesuai Ekspektasi
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2025 mencapai 5,04% secara tahunan (Year on Year/YoY). Capaian ini lebih rendah ketimbang pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2025 yang sebesar 5,12% YoY.

Desember 2025

Realisasi APBN di bawah sasaran tahunan

Kementerian Keuangan mengumumkan realisasi penerimaan dan belanja negara hingga akhir November 2025 masing-masing mencapai 82,1% dan 82,5%. Meski berada di bawah target, defisit 2,35% masih berada dalam batas terkelola dan sesuai dengan desain awal.

Sejumlah peluang optimasi yang berhasil terlacak dapat dilihat pada pengumpulan pajak yang tumbuh 2,5% dibandingkan capaian akhir Oktober, serta percepatan realisasi belanja daerah yang baru mencapai 65,3% dari pagu anggaran.

Dengan strategi mempercepat belanja hingga akhir tahun dan meningkatkan konversi devisa hasil ekspor sumber daya alam hingga 50%, realisasi ini menjadi pelajaran berharga untuk memacu pertumbuhan berkualitas di tahun 2026.

  • Inflasi Indeks Harga Konsumen: 2,72%
  • Interval Nilai Tukar Rupiah: Rp 16.640 - Rp 16.750 per USD

Baca juga:

Realisasi APBN 2025, Pelajaran untuk Memacu Pertumbuhan Tahun Depan
Realisasi penerimaan dan belanja negara hingga akhir November 2025 masing-masing mencapai 82,1% dan 82,5% dari outlook APBN 2025.

Pelajaran tahun ini

Sepanjang 2025, perekonomian Indonesia bergerak dalam lanskap global yang sarat ketidakpastian, mulai dari pengetatan sentimen keuangan internasional, dinamika geopolitik, hingga perubahan arah kebijakan negara maju. Namun, data makroekonomi menunjukkan bahwa fondasi ekonomi nasional tetap terjaga: Inflasi berada dalam rentang sasaran, pertumbuhan ekonomi di atas 5%, dan sistem keuangan tetap stabil meski nilai tukar rupiah relatif tertekan.

Dari sisi kebijakan, 2025 menjadi tahun penyesuaian struktural yang tidak ringan. Pemerintah menerapkan efisiensi fiskal sejak awal tahun, menata ulang prioritas belanja, dan menghadapi transisi penting dengan pergantian Menteri Keuangan. Di sisi lain, Bank Indonesia berhati-hati menjaga stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan sebagai jangkar utama.

Tahun 2025 memberikan pelajaran bahwa ketahanan makroekonomi Indonesia diuji bukan oleh krisis domestik, melainkan oleh kemampuan merespons guncangan eksternal. Tantangan ke depan tetap besar, tetapi pengalaman 2025 memperlihatkan stabilitas makro bukan hasil kebijakan sesaat, melainkan buah konsistensi menghadapi ketidakpastian global yang menjadi “kenormalan baru”.

Penulis

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Energi, Lingkungan, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional

Baca selengkapnya