" } }

Cara Yozua Makes Mengisi Daya Bersama Keluarga

"Energi saya itu berasal dari keluarga. Filosofi saya sederhana, keluarga adalah segalanya. Saya pasti meluangkan waktu untuk keluarga. Karena itu pusat energi saya, sumbernya dari sana."

Cara Yozua Makes Mengisi Daya Bersama Keluarga
CEO dan Pendiri Plataran Indonesia, Yozua Makes saat berbincang dengan Tim Suar di Jakarta 11 Desember 2025 di sebuah hotel di Jakarta Selatan. Foto: Tria Dianti/SUAR.
Daftar Isi

Sebagian besar orang berpendapat kehadiran keluarga di tengah kesuksesan menjalani bisnis menjadi kebanggaan tersendiri. Adalah Yozua Makes, CEO dan pendiri restoran Plataran, yang menjadikan keluarga sebagai alasan keberhasilannya mengelola bisnis restoran untuk para kaum elite tersebut. 

Sore itu, Tim SUAR berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan pemilik bisnis dan restoran yang sedang naik daun ini. Mengenakan kemeja putih dengan bordiran Plataran di saku kirinya, Yozua menjelaskan kalau waktu luangnya selalu dihabiskan bersama keluarga. 

"Energi saya itu berasal dari keluarga. Filosofi saya sederhana, keluarga adalah segalanya. Saya pasti meluangkan waktu untuk keluarga. Karena itu pusat energi saya, sumbernya dari sana," ujarnya ketika ditemui usai Roundtable Decision SUAR di Jakarta, Kamis (11/12/2025) lalu. 

Menurut dia, jalan keberhasilan dalam berbisnis justru datang dari ruang keluarga atau di plataran rumahnya. Di sana, ia belajar tentang disiplin, transparansi, dan cara memimpin dengan hati.

“Nilai kepemimpinan yang paling jujur berasal dari keluarga. Bagaimana mendisiplinkan orang juga memimpin karyawan itu kan dari keluarga juga,” ujar dia. 

Selain kepemimpinan, Yozua juga belajar bagaimana kebersamaan bisa melahirkan ide gemilang dalam suatu perusahaan. “Dengan kebersamaan mereka jadi lebih terbuka. Transparansi juga nilai dalam berbisnis kan? Bagaimana cara bisa mengajak, memberikan semangat, dan belajar selalu positif dalam keluarga. Saya rasa itu sama dengan di perusahaan,” ujar dia. 

Nilai-nilai itulah yang kemudian ia ‘suntikkan’ ke dalam nadi Plataran. Tak heran, semua hotel atau restoran di bawah benderanya terkesan berbeda dengan restoran pada umumnya. 

Selain kental dengan budaya tradisional, ada kehangatan yang tidak bisa dideskripsikan dengan kata, sesuai dengan ciri khas Plataran yang menawarkan sebuah pengalaman atau disebutnya sebagai hospitality yang manusiawi. 

Plataran Ubud Hotel and Spa di Bali. Foto: Plataran Indonesia.

Traveling 

Di saat banyak orang kelas atas memilih menghabiskan libur akhir tahun ke luar negeri, Yozua justru memilih tetap di Indonesia. Tahun ini pun sama. Ia berencana memboyong istri, anak, hingga cucu-cucunya mengunjungi destinasi domestik seperti Labuan Bajo, Bromo, atau Borobudur.

“Saya tentu kalau libur itu pasti bersama keluarga, karena saya sekarang sudah punya cucu. Jadi kadang bersama cucu, bersama istri atau anak pergi kemana saja,” ujar dia.

Beberapa destinasi wisata favoritnya antara lain Bali dan kota-kota besar di Pulau Jawa. Menurutnya, Indonesia sangat kaya akan budaya sehingga yang dibutuhkan hanyalah soal konektivitas. 

“Biasanya saya pergi ke destinasi yang ada Plataran. Sekarang orang sudah kemana-mana, malah sampai ke Toraja pun orang ke sana sekarang. Saya cinta Indonesia. Tourism is all about connectivity," kata dia.

Namun, ada alasan yang lebih dalam dari sekadar rasa nasionalisme yang tinggi. Liburan bagi seorang Yozua Makes adalah saatnya belajar ‘realitas’ dari orang sekitar.

Sambil mengontrol bisnis, Yozua gemar berbincang dengan masyarakat lokal. Dari sana, ia menyerap nilai-nilai budaya sekaligus mendengar langsung kesulitan yang dihadapi warga di akar rumput. Pengalaman humanis inilah yang kemudian ia bawa pulang untuk memperkaya perspektifnya dalam berbisnis

"Kita bisa merasakan kesulitan mereka, halangan mereka, bisa merasakan bagaimana berada di kaki mereka, melihat bagaimana perjuangan mereka. Itu nilai yang sangat berharga," tambahnya.

Plataran Bodobudur yang terletak di Magelang, Jawa Tengah. Foto: Plataran Indonesia.

Memulai bisnis Plataran Indonesia sejak 2009 lalu, pria yang tadinya merupakan seorang dosen di Universitas Indonesia dan Universitas Pelita Harapan ini tercatat menjadi salah satu pengusaha top di bidang hospitality.

Bersama istrinya, ia memulai usahanya dengan hanya 25 pegawai. Kini, 16 tahun berjalan, Plataran Indonesia memiliki lebih dari 1.400 karyawan yang tersebar di belasan restoran dan hotel Plataran Indonesia.

Ekspansi Plataran 

Tahun depan, ambisi Plataran tetap melesat. Yozua membocorkan rencana ekspansi ke beberapa titik strategis. Mulai dari pembangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN), perluasan di Makassar, hingga penambahan titik restoran dan hotel baru di Nusa Dua, Bali.

“Ekspansinya cukup besar dan luas,” ujar dia tanpa memberikan detail berapa nilai investasinya. 

Namun, Yozua tidak ingin Plataran hanya menjadi ‘tempat singgah’ di sebuah destinasi. Ia ingin propertinya menjadi sebuah destinasi itu sendiri bagi orang-orang. 

"The Plataran itself is its own destination. Contohnya ketika kita menjadi tempat wisata maka ke Borobudur. Tapi ke Plataran, dia memang sudah pengin ke Plataran sih atau ke Enam Langit karena memang itu tujuannya, jadi bagian dari destinasi besarnya," tuturnya.

Plataran Puncak yang dikelilingi pohon-pohon rindang serta suara burung yang bercuit. Foto: Plataran Instagram.

Strategi ini ia wujudkan melalui penciptaan pengalaman (experience). Bukan sekadar makan, tapi ada pertunjukan budaya. Bukan sekadar menginap, tapi merasakan alam yang kental. 

Ia menggambarkan, Plataran di Puncak dikelilingi dengan kaca sehingga tamu bisa bebas melihat burung-burung terbang bebas di sekitar mereka. “Strategi menawarkan pengalaman bagi pengunjung dan pengembangan industri pariwisata saling terkait. Kalau festival diperbanyak dan acara digelar, pengunjung pasti akan datang,” ujar dia.

Baca selengkapnya