Pengusaha Muda Bagikan Kiat Bisnis Melaju 'In This Economy'
Para pengusaha muda turut pasang kuda-kuda. Setelah keuangan perusahaan beres, tertib mengelola utang valas dan dokumen hukum menjadi kunci selamat in this economy
Para pengusaha muda turut pasang kuda-kuda. Setelah keuangan perusahaan beres, tertib mengelola utang valas dan dokumen hukum menjadi kunci selamat in this economy
Menavigasi bisnis di tengah ketidakpastian ibarat sudah merupakan asam garam bagi para pengusaha senior. Walakin, para pengusaha muda tak mau ketinggalan. Dari siasat mengamankan cash flow hingga mengelola utang dalam valuta asing, kiat menjaga bisnis jauh dari pailit in this economy mengubah teori manajemen risiko menjadi seni menemukan titik terang di balik tebalnya kabut masa depan.
Founder and Principal Kaji Kapital Karaeng Raja Adjie mengungkapkan, para pengusaha muda yang masih dalam fase membesarkan usaha rintisan mereka kian merasakan transmisi dampak fragmentasi geoekonomi terhadap daya tahan ekonomi domestik. Pengetatan likuiditas dan pelemahan daya beli telah membentuk ekspektasi serta pola konsumsi yang bergeser secara fundamental.
"Pertumbuhan ekonomi memang mencapai 5%, tetapi distribusinya tidak merata karena kelas menengah tertekan. Tren makan tabungan juga mengubah ekspektasi terhadap ekonomi ke depan. Budget rumah tangga semakin terjepit, customer berkurang karena disposable income untuk belanja semakin sedikit," ujar Karaeng dalam diskusi publik "Jatuh Bangun Bisnis In This Economy" di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Dari sisi akuntansi, Ketua BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Jakarta (HIPMI Jaya) bidang Pasar Modal itu mencontohkan sebuah perusahaan yang menjual fesyen lokal dengan segmen kelas menengah bisa saja mencatatkan angka penurunan sales tidak terlalu besar, berkisar di angka 5% dan kurang dari 10%.
Namun, di saat yang sama, kenaikan cost of goods sold (COGS) di saat penjualan menurun menyebabkan profit tertekan drastis. Karena itu, salah satu strategi awal yang disarankan untuk menekan kerugian produk jual adalah mengalokasikan cost secara proporsional untuk pembelian unperishable goods dalam jumlah besar sebelum harga mulai berubah akibat pelemahan nilai tukar di masa depan.
Rekonfigurasi segmen konsumen juga menjadi krusial. Saat ini perilaku pasar secara bertahap membentuk kurva 'K' (K-shaped curve) atau ketimpangan dimana satu pihak semakin kaya, pihak lain semakin tidak sejahtera. Ini analogi bentuk simpang dua dari huruf K
Maka untuk itu, diperlukan strategi menggaet minat konsumen kelas menengah ke atas dengan disposable income lebih besar perlu dimulai. Perusahaan dengan pola penjualan business-to-business (B2B), menurut Karaeng, dapat memaksimalkan momentum ini untuk menopang profit ke depan.
Kita tidak tahu ketidakpastian ini selesainya kapan, tetapi selama kita bisa mengambil pasar konsumen menengah ke atas, dalam skenario survival mode pun kita tetap bisa menang banyak.
Karaeng Raja Adjie
Menurut Karaeng, salah satu clue yang sejauh ini mulai dibaca pelaku pasar keuangan adalah keterbatasan Amerika Serikat untuk terus menaikkan suku bunga, karena kenaikan imbal surat utang dapat menekan kapasitas fiskal U.S. Treasury dan memicu hiperinflasi di dalam negeri.
Namun, sebelum sampai pada keadaan ekstrem, Karaeng merekomendasikan lima tindakan bagi para pengusaha muda agar jangan jatuh dalam beban berkepanjangan.
"Yang harus berdansa dan harus menjadi juara di kantor adalah tim finance dengan siasat manajemen cash flow, cost, serta pembayaran angsuran. Ibarat tim sepak bola, keeper perusahaan harus diperkuat untuk menghindari kebobolan di tengah crisis of confidence yang masih akan berkelanjutan," tutur Karaeng.
CEO DuaSisi Money Changer Ilyasa Dahlan menambahkan, pengusaha muda yang paling terdampak terhadap situasi pelemahan nilai tukar rupiah adalah importir yang menekuni empat sektor, yakni ritel consumer goods, game, gadget, dan peralatan olahraga. Risiko berasal dari penundaan belanja hiburan, peralihan pola konsumsi, dan porsi belanja hobi yang berkurang secara perlahan.
Apabila dibaca secara cermat dan ditarik dalam satu benang merah, Ilyasa menekankan, clue dari peristiwa makroekonomi akan menajamkan kemampuan preventif seorang pengusaha mengantisipasi bisnis saat daya beli turun. Dalam hal ini, manajemen valuta asing menjadi salah satu playbook yang mutlak dikuasai.
"Ketika nilai tukar tidak pasti, beli valas secara bertahap untuk mendapatkan cost of money yang lebih ideal. Alternatif selain membeli valas adalah mencari supplier lokal, tetapi jika harus sekali membeli dalam valas, pastikan kembali jual dalam valas supaya tidak mengalami kerugian akibat pelemahan kurs," jelasnya.
Dengan motif melakukan hedging, menurut Ilyasa, banyak pengusaha muda yang tergiur melakukan pinjaman dalam valuta asing tanpa memikirkan kemampuan membayar kembali dalam mata uang yang sama.
Karenanya, disiplin keuangan bagi importir pertama-tama ialah menetapkan batas internal utang valas terhadap pendapatan valas. Terhadap mata uang yang akan dipinjam, skenario stress test depresiasi kurs dapat dilakukan beberapa kali sebelum menandatangani pinjaman.
Dalam menarik utang luar negeri, Wakil Sekretaris Umum II BPD HIPMI Jaya itu mengingatkan agar tenor dan jadwal cicilan dengan arus kas valas, serta cermati covenant pilihan bunga tetap atau mengambang. Prinsipnya, arus kas valas harus sama dengan perkembangan usaha, karena pembayaran pinjaman valas harus menghitung imbas kurs terhadap bunga utang
"Lindungi margin dengan kebijakan harga, waktu stok, dan pembelian valas yang terencana. Utang valas layak hanya bila didukung pendapatan dalam mata uang yang sama, sementara sisanya perlu dilindungi nilai. Pinjam dalam mata uang pendapatan, dan uji risikonya sebelum menandatangani pinjaman," tegas Ilyasa.
Di samping disiplin mengelola keuangan dan perencanaan bisnis, CEO Titik Temu Cafe Diatce Gunungtua Harahap mengingatkan bahwa sisi lain dari setiap economic downturn adalah peluang yang tumbuh, bahkan sebelum dapat dibaca oleh kompetitor.
Berkaca dari pengalaman mengelola Titik Temu selama 12 tahun terakhir, Diatce menilai disiplin keuangan akan menjaga perusahaan tetap mengapung, tetapi pembacaan tepat atas perilaku konsumen akan menentukan sejauh mana dan seberapa cepat perusahaan dapat berlari, bahkan ketika pelaku usaha lain cenderung menahan diri.
"Produk yang dijual Titik Temu selain food and beverage adalah lifestyle and experience. Selain itu, di industri saya, pelajaran pentingnya adalah kalau banyak yang tutup, justru biaya sewa tenant di mall atau sewa lokasi akan lebih murah. Kemampuan melihat sisi positif ini yang saya kira membedakan pengusaha dari yang lain," tutur Diatce.

Daya ekspansi perusahaan di tengah situasi sulit, ia menambahkan, pada akhirnya juga ditentukan sejauh mana perusahaan memperoleh trust dan laporan yang akuntabel. Narasi sangat penting untuk meyakinkan, tetapi milestone sebuah perusahaan hanya ditentukan dari kedisiplinan yang terbaca dalam keputusan, bukan sekadar keinginan tumbuh besar.
"Pitching point is all about numbers, trajectory, what you want to do, tetapi yang membuat investor tetap ingin masuk adalah reputasi yang dijaga dan integritas yang membuat kita dipercaya. Cerita bisa banyak, tetapi jika proyeksinya tidak menarik dan orangnya tidak bisa dipercaya, maka yang terjadi adalah easier to do, but harder to maintain," ujar Diatce
Membenarkan aspek pentingnya integritas, Advokat Infinitum Law Office Roberth Aritonang menilai banyak pengusaha muda yang memiliki semangat maju untuk berkarya, tetapi tidak cukup tekun untuk membereskan "barisan belakang" perusahaan berupa tertib administrasi, tertib hukum, dan mampu memilih rekan kerja yang dapat dipercaya.
"Biasanya menjalankan proyek karena teman, maka kita menggampangkan sesuatu yang paling basic. Perbaiki itu semua, karena itu akan berguna. Dalam setiap perjanjian, ingat dan tekankan jaminan, jadwal, hak menangguhkan, serta domisili dalam penyelesaian konflik dan arbitrase," tutur Roberth.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menekankan bahwa tren membuka bisnis yang tumbuh subur pascapandemi Covid-19 memicu konsekuensi tantangan memperoleh demand yang belum sepenuhnya pulih, di samping hambatan-hambatan struktural seperti masalah pembiayaan, bahan baku, tenaga kerja, dan perizinan.
"Pemerintah perlu memastikan daya beli naik dan mengamankan akses bagi pengusaha muda untuk bisa mendapatkan pasar. Pendampingan itu bukan hanya pada pembiayaan, tetapi dari kemudahan perizinan sampai teknis manajemen sampai dia mendapatkan pasarnya. Memang kompleks, tetapi itu yang sudah dilakukan Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong," ujar Faisal saat dihubungi.
Faisal mengingatkan bahwa masalah mentalitas dan skill berusaha dapat dimaksimalkan lewat pendampingan dan training seperti yang sudah dilakukan saat ini. Namun, kapasitas pemerintah pun memungkinkan bantuan untuk pengusaha muda diberikan dengan mengamankan akses pasar domestik maupun pasar mancanegara.
"Entrepreneurship memang tidak bisa dipaksakan ke semua orang. Tidak semua orang berbakat menjadi pebisnis dan ada yang memiliki mental pekerja. Namun, apabila pemerintah serius berupaya mendorong entrepreneurship orang muda, maka dorongan itu harus menyeluruh dari hulu ke hilir," tegasnya.