Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menilai Indonesia masih masih memegang kartu kuat untuk mempertahankan posisinya sebagai pemain utama dalam industri tekstil dan produk tekstil (TPT) global.
Direktur Eksekutif API, Danang Girindrawardana, mengungkapkan bahwa potensi ekspor industri tekstil Indonesia masih terbuka lebar. Selain pasar tradisional seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa, pasar non-tradisional kini mulai menunjukkan pertumbuhan yang menjanjikan.
Danang menyoroti adanya tren global di mana banyak perusahaan mulai mencari alternatif basis produksi baru.
“Tren diversifikasi rantai pasok global menjadi momentum emas bagi Indonesia untuk menarik investasi. Ini terjadi seiring upaya banyak negara mengurangi ketergantungan pada satu sumber produksi saja,” ujar Danang kepada SUAR di Jakarta, Kamis (16/4).
Menurut dia, struktur industri yang terintegrasi dari hulu hingga hilir menjadi modal utama nasional di tengah ketatnya persaingan pasar internasional.
Berbeda dengan banyak negara kompetitor, Indonesia memiliki ekosistem produksi yang lengkap, mulai dari pengolahan serat, pemintalan (spinning), penenunan (weaving), hingga manufaktur pakaian jadi (garment).
"Selain aspek teknis, keunggulan komparatif Indonesia juga terletak pada basis tenaga kerja yang besar dan berpengalaman. Sebagai salah satu sektor padat karya terbesar di manufaktur, industri TPT terus memacu produktivitas lewat pelatihan dan adopsi teknologi guna mengimbangi efisiensi kompetitor mancanegara," kata dia.
Kerja Sama dengan India
Di sisi lain, Danang menuturkan API siap berkolaborasi dengan industri tekstil India untuk meningkatkan kinerja industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional.
Langkah ini diwujudkan dalam pertemuan API dengan India ITME Society di Bandung pada 13 April 2026.Pertemuan ini sebagai upaya mengatasi kendala peningkatan produktivitas tekstil garmen.
Pasalnya, India saat ini cukup maju dalam industri permesinan tekstil dan garmen, sehingga tercermin dalam produktivitas industri.
“Kami menyambut baik kehadiran para pengusaha mesin tekstil India dan semoga banyak anggota API bisa memanfaatkan kunjungan kerja sama ini untuk saling belajar dan berkolaborasi,” ujar dia.
Menurut Jemmy, seluruh industri tekstil dan produk tekstil Indonesia akan melakukan berbagai aksi korporasi demi efisiensi energi dan peningkatan produktivitas.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak membahas mengenai cara transformasi teknologi dan otomatisasi bisa diaplikasikan tanpa mengorbankan tenaga kerja padat karya yang saat ini masih sangat dibutuhkan, baik di India maupun Indonesia.

Indo Intertex 2026
API juga menyelenggarakan pameran tekstil dan garmen Indo Intertex 2026 yang digelar di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran pada 15–18 April 2026.
Danang menjelaskan bahwa Indo Intertex 2026 menghadirkan lebih dari 800 peserta pameran dari 29 negara dengan lebih dari 1.500 merek global. Pameran tersebut menargetkan 35.000 pengunjung profesional selama 4 hari pelaksanaan. Selain menampilkan rantai industri secara menyeluruh, ajang tahunan itu juga menghadirkan inisiatif “Build Your Brand” untuk mendukung pelaku usaha, khususnya segmen UMKM, dalam mengembangkan merek dan memperluas jaringan bisnis.
“Pameran ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga sarana membangun koneksi dan kolaborasi antar pelaku industri,” ujar dia.
Jemmy berharap Indo Intertex 2026 juga dapat memperkuat optimisme kolektif terhadap masa depan industri tekstil nasional. Apalagi, industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional menghadapi tekanan berlapis dari dinamika global yang kian kompleks, mulai dari ketegangan geopolitik hingga disrupsi rantai pasok. Di tengah situasi tersebut, pelaku industri dituntut mempercepat efisiensi dan transformasi agar tetap kompetitif.

Staff Operasional Mesdan Richard Juliens mengatakan Mesdan merupakan perusahaan asal Italia, tepatnya dikenal sebagai Mesdan S.p.A., yang bergerak di bidang teknologi mesin dan solusi teknis untuk industri tekstil.
Perusahaan ini menjadi bagian dari grup teknologi tekstil global Vandewiele Group dan memiliki spesialisasi pada sistem penyambungan benang (splicing) serta komponen pendukung proses pemintalan dan penenunan. Produk-produk Mesdan banyak digunakan oleh pabrik tekstil modern untuk meningkatkan kualitas sambungan benang, efisiensi produksi, serta meminimalkan cacat dalam proses manufaktur.
Produk utama Mesdan meliputi berbagai jenis splicer (alat penyambung benang), komponen mesin spinning dan winding, serta solusi teknis untuk optimalisasi performa mesin tekstil.
“Teknologi ini menjadi krusial dalam menjaga kualitas benang dan kain, terutama bagi industri yang menargetkan standar ekspor,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (16/4/2026).
Dalam ajang Indo Intertex 2026, Mesdan turut berpartisipasi dengan menampilkan inovasi terbarunya bersama unit bisnis Vandewiele di Jakarta International Expo pada 15–18 April 2026. Keikutsertaan ini dimanfaatkan untuk memperluas jaringan pasar di Asia Tenggara, memperkenalkan teknologi splicing terkini, serta membidik kerja sama dengan produsen tekstil Indonesia di tengah ajang yang mempertemukan ratusan exhibitor global dan ribuan pelaku industri.

Pegawai Sinrylion Nurmala mengatakan Sinrylion merupakan perusahaan yang bergerak di industri tekstil, khususnya sebagai penyedia bahan dan solusi pendukung produksi tekstil. Perusahaan ini berasal dari Tiongkok (China) dan dikenal sebagai bagian dari ekosistem manufaktur tekstil yang memasok berbagai kebutuhan industri, mulai dari material hingga komponen yang digunakan dalam proses produksi kain dan garmen. Fokus Sinrylion umumnya berada pada pengembangan produk yang mendukung efisiensi produksi serta peningkatan kualitas hasil akhir tekstil.
Produk yang ditawarkan Sinrylion mencakup bahan tekstil dan material pendukung industri, termasuk serat sintetis, bahan kimia tekstil, atau komponen yang digunakan dalam proses finishing dan produksi kain. Dalam ajang Indo Intertex 2026 yang digelar pada 15–18 April di Jakarta International Expo, perusahaan ini turut berpartisipasi sebagai exhibitor untuk memperkenalkan portofolio produknya kepada pasar Asia Tenggara. Pameran ini sendiri merupakan ajang tekstil terbesar di kawasan yang mempertemukan ratusan perusahaan global dan ribuan pelaku industri untuk menjalin kerja sama bisnis dan menampilkan inovasi terbaru .
“Melalui keikutsertaannya, Sinrylion menargetkan perluasan jaringan mitra di Indonesia, peningkatan penetrasi pasar regional, serta membuka peluang kerja sama jangka panjang dengan produsen tekstil lokal,’ ujar dia kepada SUAR di Jakarta (16/4/2026).
Industri Tekstil Masih Sektor Strategis
Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa industri tekstil dan garmen masih menjadi salah satu sektor strategis yang harus dijaga daya saingnya di tengah tekanan global dan derasnya impor. Ia menekankan pentingnya kebijakan yang melindungi pasar domestik sekaligus mendorong ekspor, termasuk melalui pengawasan impor ilegal seperti pakaian bekas yang dinilai merugikan industri dalam negeri.
“Pemerintah terus berupaya menciptakan keseimbangan antara kebutuhan bahan baku industri dan perlindungan terhadap produsen lokal agar tetap kompetitif,” ujar dia ketika ditemui dalam Pameran Indo Intertex di Jakarta International Expo,di Jakarta (16/4).
Dalam konteks penguatan industri, Budi juga mendorong pelaku usaha tekstil untuk memanfaatkan peluang pasar global yang masih terbuka, termasuk dari perubahan kebijakan di negara mitra dagang. Ia menilai momentum ini harus dimanfaatkan untuk meningkatkan ekspor sekaligus memperbaiki struktur industri dalam negeri, mulai dari efisiensi produksi hingga peningkatan kualitas produk agar mampu bersaing di pasar internasional.
Sementara itu, penyelenggaraan Indo Intertex 2026 dinilai menjadi salah satu platform penting dalam memperkuat ekosistem industri tekstil nasional. Pameran ini menghadirkan pelaku industri dari berbagai negara untuk saling terhubung, bertukar teknologi, serta membuka peluang kerjasama bisnis. Ajang ini juga menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan inovasi dan memperluas akses pasar bagi produk tekstil Indonesia di tingkat global
Dihubungi terpisah, Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti mengatakan Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) memiliki peran penting dalam struktur perekonomian Indonesia, terutama sebagai salah satu kontributor sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Industri ini tidak hanya menghasilkan nilai tambah dari proses produksi bahan baku hingga barang jadi, tetapi juga menjadi penggerak aktivitas ekonomi di berbagai daerah sentra industri.
“Kontribusinya terhadap PDB manufaktur cukup signifikan, mengingat rantai industrinya yang panjang serta keterkaitannya dengan sektor lain seperti pertanian (serat alam), kimia, hingga perdagangan,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (16/4/2026).
Selain kontribusi langsung terhadap PDB, industri tekstil juga memberikan dampak tidak langsung melalui penciptaan lapangan kerja dan peningkatan ekspor. Sebagai salah satu sektor padat karya, industri ini menyerap jutaan tenaga kerja.