BI Rate Diprediksi Turun 3 Kali Sepanjang 2026, Berakhir di Level 4,00%

HSBC memprediksi BI mampu menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga 3 kali pada 2026. Penurunan BI Rate akan secara bertahap sebesar 25 basis poins pada triwulan I, II, III. Pada akhir tahun, BI Rate diperkirakan akan berada pada level 4,00%.

BI Rate Diprediksi Turun 3 Kali Sepanjang 2026, Berakhir di Level 4,00%
Pekerja berjalan di kawasan Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (3/9/2025). Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa.
Daftar Isi

HSBC memprediksi Bank Indonesia (BI) memiliki kesempatan untuk menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) hingga 3 kali 25 basis poins (bps) sepanjang tahun 2026. Dengan pelonggaran yang masing-masing terjadi pada Kuartal I, II, dan III tahun 2026 tersebut, suku bunga acuan BI di akhir tahun diperkirakan akan menyentuh 4,00%.

Chief India and ASEAN Economist Group HSBC Global Investment Pranjul Bhandari menilai, penurunan BI Rate melanjutkan tren pelonggaraan moneter yang sudah terjadi sepanjang 2025. Tahun lalu, total bank sentral total menurunkan BI sebanyak 125 basis poins. Berkaca dari itu, penurunan BI Rate diperkirakan bakal berlanjut.

Ia menjelaskan, peningkatan konsumsi rumah tangga dalam negeri yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini tidak lepas dari dampak pelonggaran kebijakan dari sisi moneter dan penambahan jumlah stimulus ekonomi dari sisi fiskal.

"Kami memperkirakan inflasi akan tetap berada dalam kisaran target 1,5%-3,5% pada 2026. Sekalipun terdapat sedikit kenaikan dalam inflasi harga pangan, harga bahan bakar dan energi yang tetap rendah, dan inflasi inti yang terdampak deflasi Tiongkok memberi ruang bagi BI untuk melakukan pelonggaran dan mendukung pertumbuhan," cetus Bhandari dalam taklimat HSBC Economic Outlook 2026 yang diselenggarakan secara virtual, Senin (12/01/2026).

Dalam outlook tersebut, penurunan BI Rate akan secara bertahap sebesar 25 basis poins pada kuartal pertama, kedua, dan ketiga di tahun 2026. Dengan demikian pada akhir tahun, BI Rate diperkirakan akan berada pada level 4,00%. Sayangnya tidak dijabarkan secara lebih detail pada bulan apa BI akan menurunkan BI Rate.

Meski ruang penurunan suku bunga masih memungkinkan, Bhandari menggarisbawahi faktor keuangan eksternal yang tidak dapat diabaikan. Kendati saat ini neraca perdagangan Indonesia tetap memiliki surplus akibat kuatnya front loading ekspor, neraca pembayaran secara keseluruhan berada di zona negatif akibat arus keluar modal portofolio dan lemahnya arus modal masuk melalui FDI.

"Rupiah telah terdepresiasi 1,5% terhadap US dollar sejak pertengahan bulan September dan 3,5% sejak awal tahun, terlepas dari pelemahan indeks mata uang dollar (DXY) yang juga terus berlangsung," ujarnya.

Dengan memperhatikan irama kebijakan BI yang berusaha menjaga inflasi sambil tetap mendorong pertumbuhan dengan menurunkan suku bunga acuan dan mencegah peningkatan arus modal keluar, Bhandari menilai pemotongan suku bunga acuan akan tetap berlanjut, tetapi menggunakan pendekatan yang cenderung bertahap dan tidak beruntun seperti pernah terjadi pada Juli, Agustus, dan September 2025.

"Kami tidak mengekspektasikan adanya pemotongan suku bunga dalam waktu dekat, tetapi penurunan 75 bps akan tersebar merata pada tiga kuartal secara bertahap dan membawa suku bunga acuan ke level rendah 4,00% pada akhir tahun 2026," tukas Bhandari.

Selain didorong inflasi yang rendah, pelonggaran kebijakan moneter yang bergerak lebih cepat daripada fiskal, meskipun efektivitas transmisinya pada pertumbuhan kredit relatif lebih rendah. Di samping itu, sekalipun tersedia, ruang gerak BI dalam menurunkan cenderung terbatas karena perlu memperhatikan momentum saat rupiah tidak terlalu melemah.

"Bank Indonesia tidak akan memotong suku bunga acuan saat nilai tukar rupiah menunjukkan tekanan depresiasi, sehingga pemotongan di tahun ini akan bersifat oportunistik. BI akan berusaha mencari-cari kesempatan yang paling memungkinkan saat dollar melemah dan ada ruang yang cukup untuk melakukan pemotongan," pungkasnya.

Melengkapi penjelasan Bhandari, Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Investment Herald van der Linde menilai, sekalipun penurunan suku bunga relatif berdampak buruk bagi bank, situasi di Indonesia relatif berbeda karena bank memiliki daya tawar harga yang relatif lebih besar dibandingkan dengan negara lain.

"Artinya, suku bunga yang lebih rendah seringkali tidak langsung berdampak pada tekanan margin. Ini terlihat ketika bank ikut menurunkan suku bunga simpanan saat BI Rate diturunkan," ucap Herald.

Meski demikian, dalam skenario buruk bahwa penurunan suku bunga dapat membahayakan margin, maka bank akan cenderung menyasar sektor yang sensitif terhadap perubahan suku bunga dan diuntungkan dengan kebijakan tersebut, seperti sektor properti dan perumahan yang akan segera merasakan dampak langsung perubahan terhadap angsuran pembayarannya.

Faktor struktural

Kendati ruang penurunan BI Rate masih terbuka sepanjang tahun, Peneliti LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai transmisi dampak kebijakan moneter tersebut tidak akan terlalu signifikan. Bagi sektor riil, BI Rate merupakan faktor sekunder, sementara terdapat isu struktural lebih besar yang menghambat pembentukan permintaan secara agregat.

"Dampak perubahan supply dengan menurunkan suku bunga acuan akan terbatas apabila isu struktural seperti tingkat pendapatan, kepastian iklim berusaha, dan daya beli yang selama ini menghambat permintaan tidak dibenahi secara menyeluruh," ucap Riefky saat dihubungi, Selasa (13/01/2026).

Selain pembentukan permintaan domestik, pelonggaran kebijakan moneter lewat penurunan suku bunga acuan Fed Fund Rate oleh Federal Reserve Amerika Serikat juga menjadi faktor struktural eksternal yang akan memengaruhi peluang penurunan BI Rate ke depan. Pelonggaran FFR tersebut ditengarai sebagai sinyal kekhawatiran melemahnya performa pasar ketenagakerjaan bersamaan dengan tekanan inflasi AS yang terus meningkat.

"Penurunan FFR seperempat poin telah diantisipasi pelaku pasar sehingga memicu arus modal menuju pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Di sisi lain, keputusan BI menahan suku bunga acuan di 4,75% memberikan sinyal kepada investor bahwa BI fokus pada kestabilan inflasi setelah beberapa episode tren pelemahan rupiah," jelasnya.

Baca juga:

Outlook Makroekonomi 2026: Agar Pertumbuhan Tinggi Tak Sekadar mimpi
Dengan postur APBN ekspansif dan perbaikan iklim usaha yang dijalankan, pertumbuhan tinggi bukan lagi sekadar mimpi jika gerak sinkron setiap mesin memiliki tujuan yang sama, yaitu mengangkat kapasitas ekonomi, bukan sekadar menambah kemampuan belanja.

Sekalipun dampak pemotongan suku bunga terhadap arus masuk modal asing telah terbukti dengan penguatan nilai tukar, pergerakan yang cenderung fluktuatif membutuhkan langkah stabilisasi lebih lanjut. Untuk itu, Riefky menilai, kebijakan menahan suku bunga perlu benar-benar menunggu saat perkembangan inflasi turun ke 2,5% dan nilai tukar menguat di atas batas bawah Rp16.800.

Sebelumnya, dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) 2025 di Jakarta, Jumat (28/11/2025), Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan bahwa kebijakan suku bunga ditetapkan secara forward looking dan pre-emptive untuk mengarahkan prakiraan inflasi dua tahun ke depan tetap terkendali dalam sasaran.

Penurunan BI Rate diputuskan Bank Indonesia selama tahun 2025 pada Januari, Mei, Juli, Agustus, dan September masing-masing sebesar 25 bps. Sesudah itu, RDG Bulanan memutuskan mempertahankan BI Rate untuk terus mendorong peran perbankan dalam memanfaatkan pelonggaran likuiditas bagi sektor riil.

"Masih ada ruang penurunan suku bunga ke depan, dengan dasar pertimbangan inflasi tetap rendah dan terkendali dalam sasaran dan perlunya mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi. Tingkat penurunan dan waktunya akan kami evaluasi dari bulan ke bulan melalui asesmen. Kami terus mencermati ruang penurunan suku bunga, tetapi besarnya berapa dan waktunya kapan, itu akan kami evaluasi dalam setiap RDG," ucap Perry.

Author

Chris Wibisana
Chris Wibisana

Wartawan Makroekonomi, Energi, Lingkungan, Keuangan, Ketenagakerjaan, dan Internasional