Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (11/2/2026) kembali memaparkan langkah strategis untuk meningkatkan transparansi dan likuiditas pasar modal Indonesia usai bertemu dengan penyedia global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Ini merupakan pertemuan ketiga kalinya dengan MSCI sebagai tindak lanjut diskusi sebelumnya pada 2 Februari dan pengiriman dokumen teknis pada 5 Februari.
Direktur Pengembangan BEI sekaligus Pejabat sementara (PJs) Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan meskipun masih bersifat teknis dan rahasia, pertemuan yang berlangsung beberapa jam itu berlangsung konstruktif.
“Kita membahas detail dari tiga rencana aksi yang sudah kita sampaikan sebelumnya," ujar Jeffry dalam preskon di Jakarta, Rabu.
Berikut tiga rencana aksi yang direncanakan BEI:
- Pertama tentang disclosure atas pemegang saham di atas 1%
- Kedua, penyediaan data investor yang lebih granular.
- Ketiga, progres implementasi Peraturan I-A tentang pencatatan yang menaikkan ketentuan free float minimum dari 7,5% menjadi 15%.
Selain tiga proposal tersebut, BEI juga akan menerbitkan Shareholders Concentration List atau daftar saham dengan indikasi kepemilikan terkonsentrasi. Ia menambahkan, ambang batas pengungkapan 1% merujuk pada praktik di India.
“Kalau ditanya angka 1% itu merefer ke mana, 1% itu merefer-nya ke India, kemudian shareholders concentration list itu di Hong Kong,” katanya.
Terkait publikasi pemegang saham di atas 1%, Jeffrey menyebut tambahan data yang dibuka tidak akan signifikan.
Timeline implementasi
BEI menyampaikan target waktu implementasi sejumlah kebijakan tersebut. Untuk publikasi pemegang saham di atas 1%, ditetapkan di akhir Februari atau awal Maret.
“Kemudian untuk data investor itu di paling akhir di bulan akhir Maret,” ujarnya.
Adapun perubahan aturan free float 15% masih dalam proses rule making hingga 19 Februari.
Setelah itu, BEI akan melalui proses persetujuan internal sebelum diajukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kita harapkan seluruh proses itu bisa selesai juga di bulan Maret tahun ini. Jadi kita melakukan akselerasi untuk mempercepat seluruh proses tersebut,” katanya.
Terkait ketentuan free float 15%, Jeffrey menyampaikan saat ini terdapat 268 emiten yang belum memenuhi batas tersebut dari total 956 perusahaan tercatat.
Dari jumlah tersebut, 49 perusahaan merepresentasikan sekitar 90% kapitalisasi pasar kelompok itu. “Kemudian dari 268 itu kalau kita fokus kepada 49 perusahaan itu sudah mewakili 90% dari market cap 268 perusahaan tersebut,” kata Jeffrey.
BEI juga menyediakan layanan konsultasi bagi emiten. “Kami juga menyediakan hotdesk untuk perusahaan-perusahaan tercatat untuk bisa menghubungi kami, berkonsultasi bagaimana tahapan-tahapan yang bisa dilakukan untuk bisa memenuhi ketentuan tersebut,” ujarnya.

Masih tertekan jangka pendek
Pengamat Pasar Modal, Hans Kwee, menilai dampak evaluasi MSCI terhadap pasar saham Indonesia lebih bersifat struktural dan berpotensi menekan pergerakan indeks dalam jangka pendek.
“Semoga perbaikan dari otoritas Indonesia bisa diterima MSCI, sehingga pasar saham bisa kembali rebound,” katanya.
Hans juga menilai arus dana asing berpotensi masih mencatatkan outflow dalam waktu dekat seiring penyesuaian portofolio investor global terhadap perubahan persepsi risiko dan status indeks.
“Tetapi harusnya pergerakan saham akan kembali ke fundamentalnya,” kata Hans.
Ia menambahkan, saham-saham yang sebelumnya terdorong oleh ekspektasi masuk atau bobot lebih besar dalam indeks MSCI berpotensi mengalami koreksi terlebih dahulu.
“Jadi yang bergerak karena harapan masuk indeks MSCI akan terkoreksi dulu,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Reliance Sekuritas Reza Priyambada mengatakan, hasil penilaian MSCI memunculkan asumsi seolah terjadi penurunan kepercayaan investor asing terhadap pasar Indonesia.
“Kesannya, jika asing masuk maka Pasar Modal Indonesia dilirik oleh asing dan akan mengundang aliran dana-dana asing masuk ke Indonesia. Ini yang menjadi problemnya karena terkesan juga mengesampingkan kekuatan investor dari dalam negeri,” ujarnya.
Ia menilai persepsi tersebut mendorong kekhawatiran bahwa investor asing akan hengkang, sehingga memicu aksi jual, termasuk dari investor domestik.
“Terkadang investor dari dalam negeri pun kurang percaya diri dengan kekuatannya. Jadi, alih-alih khawatir market drop maka mereka mengambil posisi jual yang tentunya mengakibatkan market turun signifikan,” kata Reza.
“Kondisi ini bisa saja dimanfaatkan oleh investor asing untuk masuk kembali atau istilahnya serok bawah,” ujarnya.
Ia menilai risiko terbesar justru ketika investor domestik telah lebih dulu melepas sahamnya, sementara investor asing kembali melakukan akumulasi di harga rendah. Dalam situasi tersebut, Reza menyebut investor domestik dapat memanfaatkan momentum untuk mencermati saham-saham dengan fundamental baik.
“Jika investor dari dalam negeri bersatu untuk kembali masuk tentunya dapat mempertahankan IHSG agar tidak melemah lebih dalam,” kata Reza.
Namun, bagi investor dengan profil risiko rendah hingga moderat, ia menyarankan penempatan dana sementara pada instrumen yang lebih defensif.
“Jika profil risikonya masih di level low-moderat ya sementara bisa parkirkan idle money-nya maupun dana hasil cut loss-nya di obligasi, reksa dana, maupun DIRE sementara waktu sambil menunggu momen kembali menghijaunya market,” tuturnya.