Sejumlah pakar, pengusaha dan pejabat terkait di Indonesia mengharapkan gencatan senjata yang telah diumumkan selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran sejak Selasa, 7 April 2026 lalu bisa berlanjut ke tahap permanen, sekaligus menjadi momentum positif agar perdamaian dapat tercipta secara berkelanjutan.
Pakar Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia (UI) Agung Nurwijoyo menganggap gencatan senjata dua pekan ini merupakan window of opportunity yang sempit tapi krusial untuk mewujudkan perdamaian permanen di kawasan konflik.
“Mendorong semua pihak yang berperang untuk menahan diri. AS, Iran dan Israel wajib untuk menahan diri dan menghormati jeda ini, membangun kepercayaan awal yang berupa komitmen terhadap poin kesepakatan dan diplomasi intensif baik formal maupun backchannel pihak terkait,” kata dia kepada SUAR di Jakarta, Kamis (9/4/2026).
Menurut Agung, efektif tidaknya suatu gencatan senjata sangat bergantung pada political will kedua belah pihak untuk menahan eskalasi lanjutan. "Jangan hanya bersifat menunda," kata dia.
Periode ini juga dianggap penting bagi Indonesia untuk mendorong jaminan safe passage dalam periode gencatan senjata ini dengan mengintensifkan komunikasi dengan Iran dan pihak terkait.
Sebaliknya, pakar hubungan internasional dari President University, Teuku Rezasyah memperkirakan gencatan senjata masih sebatas sementara menyusul serangan Israel ke Lebanon yang sangat mencederai upaya damai yang sedang dilakukan berbagai pihak.
“Israel mempersulit keadaan di Lebanon Selatan. Dengan begitu, sepertinya perundingan akan gagal karena konsentrasi AS dan Iran akan terpecah,” kata dia.
Sedangkan ekonom dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Deni Friawan menilai, dampak ceasefire antara Iran dan Amerika Serikat serta pembukaan Selat Hormuz terhadap pasar energi global masih bersifat sementara dan dipenuhi ketidakpastian, meskipun sempat menekan harga minyak dan memberi ruang perbaikan bagi inflasi Indonesia.
Deni menjelaskan, kesepakatan gencatan senjata yang berlaku dalam jangka pendek dan dibukanya jalur distribusi energi utama tersebut langsung direspons positif oleh pasar. Harga minyak dunia yang sebelumnya berada di atas 110 dolar AS per barel sempat turun ke kisaran 93 dolar AS. Namun, penurunan itu tidak bertahan lama.
“Kalaupun dia turun, dia di level yang masih lebih tinggi dibanding sebelumnya,” kata Deni.
Ia menilai konflik masih berpotensi berlanjut karena kesepakatan ceasefire bersifat sementara dan dinamika di kawasan belum sepenuhnya stabil.
Dalam konteks domestik, ia menekankan pentingnya memanfaatkan momentum ini untuk memperkuat ketahanan energi dan fiskal. Menurutnya, pembangunan cadangan energi strategis dan percepatan transisi energi memerlukan waktu dan konsistensi kebijakan.
Di sisi lain, ruang fiskal Indonesia dinilai semakin terbatas akibat tingginya beban belanja dan kewajiban utang. Deni menyebut pembayaran bunga utang mencapai sekitar 20% dari total anggaran, sementara rasio layanan utang (debt service ratio) telah melampaui 45%.
”Jeda sementara akibat meredanya tensi geopolitik seharusnya dimanfaatkan sebagai waktu untuk melakukan pembenahan struktural di sektor energi dan fiskal, mengingat risiko gejolak serupa dapat kembali terjadi di masa mendatang,” kata dia.
Semua pihak menahan diri
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Ivvone Mewengkang mengatakan gencatan senjata ini menggambarkan adanya upaya berbagai pihak yang terkait untuk menurunkan eskalasi dengan membuka ruang dialog dan diplomasi dalam menyelesaikan konflik.
“Ini awal yang positif dan kami mendorong agar kesempatan untuk momentum ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk memajukan penyelesaian damai yang berkelanjutan,” kata Ivvone.
Ia juga menegaskan pentingnya agar semua pihak terkait dapat menahan diri secara maksimal menghormati kedaulatan dan integritas teritorial suatu bangsa serta penghormatan internasional.
“Kami terus menekankan bahwa dialog dan diplomasi merupakan satu-satunya jalan untuk menyelesaikan konflik. Indonesia juga terus menegaskan pentingnya penghormatan terhadap kebebasan navigasi sebagai hak yang dijamin oleh hukum internasional termasuk upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk berkembang menjadi penyelesaian yang sifatnya lebih permanen,” kata dia.
Selain mengumumkan gencatan senjata pada Selasa (7/4) waktu setempat, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump juga mengatakan Iran menyetujui pembukaan selat Hormuz secara menyeluruh, dalam waktu sesegera mungkin dan dijamin keamanannya.
“Saya setuju untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua minggu. Ini akan menjadi gencatan senjata dua sisi. Alasannya adalah karena kita telah memenuhi dan melampaui semua tujuan militer, dan telah mencapai kesepakatan definitif mengenai perdamaian jangka panjang dengan Iran dan perdamaian di Timur Tengah,” demikian pernyataan Trump dalam akun sosial medianya.
Trump juga menjelaskan Amerika menerima menerima 10 poin proposal yang diajukan oleh Iran dan mempercayai bahwa itu adalah dasar yang dapat diterapkan untuk bernegosiasi.
“Hampir semua poin perselisihan di masa lalu telah disepakati antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi periode dua minggu akan memungkinkan kesepakatan tersebut untuk diselesaikan dan diwujudkan,” demikian bunyi pernyataan itu.

Mengutip kantor berita AFP, Iran sempat membuka selat Hormuz sesaat setelah gencatan senjata tercapai. Namun, dilaporkan Iran kembali menutup perairan tersebut sebagai tanggapan atas serangan Israel ke Lebanon.
Pada Rabu (8/4), dengan menggunakan 50 jet tempur, Israel menjatuhkan bom di 100 target dalam waktu 10 menit, menewaskan ratusan warga sipil dan memicu kembali ancaman serangan balasan dari Iran. Serangan ini dinilai berbagai menodai kesepakatan gencatan senjata yang telah disepakati sehari sebelumnya.
"Selama dua minggu, dibuka jalur aman melalui Selat Hormuz melalui koordinasi dengan Angkatan Bersenjata Iran dan dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis," tulis Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di X.
Hingga saat ini dua kapal tanker raksasa milik PT Pertamina International Shipping (PIS), Pertamina Pride dan Gamsunoro dilaporkan dilaporkan masih tertahan di kawasan Teluk Arab. Berdasarkan data pemantauan maritim terbaru, kedua kapal tersebut belum dapat melintasi Selat Hormuz, jalur krusial bagi distribusi minyak dunia yang kini tengah dibayangi ketegangan geopolitik.
Juru Bicara II Kementerian Luar Negeri Vahd Nabyl Mulachela mengatakan Indonesia telah berkoordinasi dengan berbagai pihak seperti BUMN, KBRI Teheran dan otoritas Iran.
“Intinya kita mengupayakan agar kapal pertamina bisa melintasi dari Selat Hormuz. Saat ini memang perkembangan yang berlangsung adalah terdapat beberapa hal-hal yang cukup teknis yang memang sudah ditindaklanjuti untuk bisa memastikan keselamatan untuk melintas dari sana. Ini termasuk hal-hal seperti asuransi dan juga kesiapan kru,” kata Vahd.
Vahd mengatakan pihaknya tidak menutup kemungkinan adanya kapal lain yang menyangkut kepentingan nasional Indonesia untuk dibantu, namun ia enggan menyebut ada berapa kapal yang masih terjebak di sana.
“Pada prinsipnya untuk kita ingin meminta agar kebebasan navigasi itu dihormati dan sesuai dengan hukum internasional,” kata dia seraya membantah adanya upeti yang diminta Iran kepada Indonesia.
Diharapkan bisa permanen
Duta Besar Uni Emirat Arab untuk Indonesia, Abdulla Salem AlDhaheri menegaskan seluruh negara di kawasan Timur Tengah berharap agar gencatan senjata permanen bisa segera terwujud.
"Gencatan senjata ini tahap awal, selanjutnya kedua belah pihak akan duduk bersama, dengan dimediasi pihak Pakistan dan mereka pastinya akan berharap hasil yang baik. Stabilitas keamanan di kawasan akan membawa kemakmuran bagi negara manapun termasuk Indonesia," ujar Abdulla kepada SUAR, Rabu malam (8/4).
Ia memastikan pihaknya akan terus menyerukan perdamaian, mengupayakan stabilitas keamanan di kawasan, deeskalasi di kawasan dan gencatan senjata.

Dewan Pakar Apindo Danang Girindrawardana berharap kesepakatan ini dapat menjadi titik awal meredanya ketegangan geopolitik yang selama ini memicu lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok global.
Pembukaan kembali selat strategis tersebut dinilai krusial, mengingat sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur itu, sehingga stabilitas distribusi energi sangat bergantung pada kondisi keamanan kawasan.
“Selain itu, pelaku usaha berharap gencatan senjata ini tidak bersifat sementara semata, melainkan dapat berlanjut menjadi kesepakatan jangka panjang yang lebih permanen,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (8/4).
Kepastian geopolitik dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga iklim investasi dan kestabilan harga komoditas, terutama bagi sektor industri yang bergantung pada bahan baku berbasis energi seperti petrokimia dan manufaktur.
Ridho Syukra dan Uswatun Hasanah berkontribusi dalam laporan ini