Presiden Bank Dunia Ajay Singh Banga menyatakan, dalam 12 tahun-15 tahun ke depan, akan ada 1,2 miliar orang muda di negara-negara kawasan emerging markets yang akan memasuki pasar ketenagakerjaan. Namun, pertumbuhan ekonomi dalam kurun yang sama hanya menghasilkan sekitar 400 juta lapangan kerja. Dengan kata lain, dalam satu setengah dasawarsa ke depan, dunia akan kekurangan 800 juta lapangan kerja untuk orang muda, terutama di Asia dan Afrika.
Untuk mengantisipasi dan menanggulangi persoalan itu, semua pemangku kepentingan ekonomi perlu terus membenahi kemudahan berusaha (ease of doing business) sehingga dapat memicu investasi masa depan bagi negara-negara emerging markets.
Sebagai fasilitator, pemerintah perlu memberdayakan orang muda membuka usaha mikro dan kecil lewat akses pembiayaan, energi, dan penyiapan sumber daya manusia yang andal dan tidak mudah tergerus automasi.
"Apa yang kita butuhkan bukan hanya strategi penciptaan lapangan kerja, tetapi suatu ekosistem yang mempertemukan infrastruktur, sumber daya manusia, dan iklim berusaha yang memungkinkan bisnis mikro dan kecil bertumbuh dan menyerap luapan tenaga kerja usia muda dan produktif," ujar Banga dalam diskusi panel A Coming Jobs Challenge in Emerging Markets di Davos, Rabu (21/01/2026).
CEO Mastercard 2010-2020 itu menyatakan, peran fasilitator pemerintah bukan hanya diharapkan menjawab optimisme yang terancam tidak dapat dipenuhi di masa depan, tetapi juga menjadi preseden penyediaan kesempatan bagi sektor swasta seluas-luasnya, terutama bagi usaha kecil dan mikro, dari aspek infrastruktur, penyediaan sumber daya manusia, dan pembiayaan yang mendukung.

Dalam hal infrastruktur, Banga secara tegas menyatakan bahwa ketersediaan pasokan energi yang cukup dengan harga terjangkau merupakan kebutuhan utama bagi bisnis di abad ke-21, kalau bukan bagian dari hak asasi manusia. Mengingat energi fosil telah memasuki senja kala, investasi dalam energi hijau dan terbarukan merupakan salah satu tanggung jawab pemerintah dan badan usaha energi.
"Dan yang saya maksud bukanlah listrik untuk menyalakan kipas atau televisi. Itu tidak produktif, melainkan pasokan listrik yang memungkinkan kapasitas produksi tercapai secara maksimal: kulkas untuk menyimpan bahan baku, komputer yang terhubung jaringan internet, dan seterusnya. Bagi usaha kecil dan mikro yang berbasis digital, keduanya lebih berarti dari apapun," jelasnya.
Tak lekang waktu
Menyediakan insentif bagi orang muda untuk menggerakkan ekonomi lewat usaha kecil dan mikro merupakan pilihan paling memungkinkan untuk menanggulangi luapan tenaga kerja di masa depan. CEO Petronas Tengku Muhammad Taufik mengungkapkan, dari pengalamannya mereorganisasi SDM perusahaan minyak negara itu, bukan hanya pasar ketenagakerjaan berubah, tetapi sifat dasar pekerjaan pun berubah.
"Sesuatu yang dulu dapat diproduksi enam bulan, kini dapat diproduksi dalam beberapa hari dengan agentic AI. Pengayaan angkatan kerja ke depan tidak hanya perlu dilengkapi dari segi pendidikan, tetapi juga persepsi yang tepat, sejalan dengan korporasi yang tidak akan lagi melakukan perekrutan dengan janji karier stabil atau promosi berkala," jelas Taufik.
Banga sependapat. Menurutnya, terdapat 5 sektor pencipta lapangan kerja di masa depan yang tak lekang waktu dan tidak mudah tergantikan automasi dan kecerdasan artifisial. Kelima sektor itu adalah infrastruktur dan konstruksi; layanan kesehatan dasar seperti klinik dan rumah sakit; pertanian kecil dan mikro; pariwisata; dan manufaktur yang memaksimalkan ekonomi lokal tanpa praktik ekstraksi berlebihan.
"Pekerjaan masa depan yang tidak akan terdampak AI adalah pekerjaan yang menggunakan tangan manusia dan tidak dapat digantikan. Ini adalah pekerjaan yang mungkin hari ini kita anggap informal dan tidak menjanjikan, tetapi nyatanya sangat dibutuhkan kehidupan: pengasuh anak, pelatih fisiologis, perawat lansia, bahkan dog walker," cetusnya.
Ia mengingatkan bahwa potensi AI saat ini seringkali mengecoh cara pandang para pengambil keputusan yang menganggap pendidikan matematika, ilmu rekayasa, dan teknik (STEM) lebih penting dari yang lain. Padahal, ketika kapasitas AI benar-benar diimplementasikan secara luas, pekerjaan STEM justru akan jadi yang pertama tergantikan.
"Negara-negara emerging markets perlu memanfaatkan kesempatan yang tersisa saat ini untuk menciptakan iklim berusaha yang bersahabat bagi pekerjaan-pekerjaan yang sulit digantikan automasi. Kita punya kesempatan itu, maka jangan sampai kecemasan pada perkembangan teknologi membuat kita gagal mengambil peluang dari sana," pungkas Banga.
Buka semua jalan
Berbagi pandangan dengan Banga, Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam menegaskan, dengan perkembangan AI yang menjadi keniscayaan, negara-negara emerging markets perlu benar-benar mengakhiri hierarki semu pasar ketenagakerjaan untuk lulusan pendidikan akademis versus vokasi, pekerjaan manufaktur dasar versus manufaktur canggih, atau investasi energi hijau versus energi fosil.
"Lulusan pendidikan vokasi, pekerja manufaktur canggih, dan sektor energi hijau membutuhkan struktur kesempatan yang sama dengan lulusan pendidikan akademis, pekerja manufaktur dasar, dan pekerja sektor energi fosil. Kita tidak perlu lagi membanding-bandingkan, tetapi mempersiapkan lapangan dengan kapasitas serapan tenaga kerja lebih besar dari yang lain," cetusnya.
Baca juga:

Chairman of the Board Infosys Limited Nandan Nilekani menegaskan hal serupa. Ketika teknologi dianggap akan mengancam menggantikan pekerjaan, satu hal yang jangan sampai dilupakan adalah seberapa besar teknologi juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan, atau lebih penting lagi: menciptakan struktur kesempatan (structure of opportunity) bagi para pencari lapangan kerja.
"Di India, ketika seseorang memiliki nomor identitas, memiliki rekening bank, dan memiliki ponsel, dia secara otomatis dapat mengakses pembiayaan perbankan dan mengembangkan bisnisnya secara digital. Kepemilikan akses seperti ini adalah dasar yang mesti dimiliki untuk pengembangan bisnis, terutama orang muda," ujar Nandan.
Apabila skala bisnis tersebut terlalu kecil, Nandan berharap, jejaring digital dapat memfasilitasi agregasi produsen-produsen kecil tersebut menjadi satu usaha yang memiliki cukup modal untuk berekspansi dan menggerakkan ekonomi lokal. Pemakaian jejaring digital untuk kebutuhan seperti itu adalah cara yang tepat bagi dunia usaha berhadapan dengan AI dan internet.
"Misalnya, jika ada jutaan usaha mikro dan kecil yang menggunakan 10-20 panel surya untuk penyewaan baterai listrik secara eceran sehingga mudah dijangkau petani kecil dengan harga yang murah. Baik usaha itu maupun petani kecil adalah pekerjaan yang bermartabat, asalkan hierarki semu ditiadakan," ujarnya.
Perdana Menteri Sri Lanka Harini Amarasuriya membenarkan pendapat Nilekani. Mengubah persepsi terhadap usaha rintisan orang muda yang saat ini cenderung dianggap rawan kerugian bukanlah upaya yang mudah, tetapi juga bukan kemustahilan. Apabila hierarki semu ditiadakan, akan terlihat jelas bahwa usaha rintisan mikro dan kecil sejatinya menjadi penggerak kehidupan selama ini.
"Usaha-usaha rintisan orang muda perlu dipandang secara bermartabat, karena sekalipun kecil, ia adalah pekerjaan yang menunjang kehidupan sehari-hari. Kita perlu memberikan kemudahan bagi pekerjaan baru ini untuk setara dengan pekerjaan lain, dan dengan itu memberikan martabat yang pantas bagi para penggerak ekonomi masa depan ini," tuturnya.