Apindo Dorong UMKM Gunakan Indonesia Open Network Untuk Masuk Pasar Global

ION memfasilitasi konektivitas antara aplikasi pembeli, sistem penjual, platform logistik, dan layanan pembayaran.

Apindo Dorong UMKM Gunakan Indonesia Open Network Untuk Masuk Pasar Global
Warga Negara Asing (WNA) melihat produk UMKM saat International Handicraft Trade Fair (INACRAFT) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Rabu (4/2/2026).ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/bar

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) mendorong pemilik usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) untuk menggunakan Indonesia Open Network (ION) untuk memperluas akses digital ke pasar global.

Peluncuran awal ION ditandai melalui acara 'Curtain Raiser on Indonesia Open Network (ION)' yang digelar Indonesia Economic Forum (IEF) di Artotel, Jakarta (5/2).

Ketua Apindo Shinta Kamdani yang hadir dalam acara IEF mengatakan ION merupakan hasil momentum kemitraan teknologi India-Indonesia melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Mou) pengembangan digital di New Delhi pada Januari 2025 yang bertepatan dengan kunjungan Prabowo ke India.

ION dibentuk sebagai utilitas perdagangan digital terbuka yang digerakkan oleh sektor swasta, sebagai infrastruktur publik digital ION memfasilitasi konektivitas antara aplikasi pembeli, sistem penjual, platform logistik, dan layanan pembayaran.

“Inisiatif ini bertujuan untuk mengurangi fragmentasi yang memungkinkan UMKM, koperasi, petani kecil berpartisipasi dalam ekonomi digital secara lebih adil,” ujar Shinta dalam sambutannya di Jakarta, Kamis (5/2).

Dengan dukungan infrastruktur digital berskala nasional, pelaku usaha tidak perlu membangun platform tertutup dari awal, tetapi dapat langsung mengembangkan layanan di jaringan terbuka tersebut.​​​​​​​

Shinta menekankan bahwa inisiatif ini sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, yang menargetkan Indonesia menjadi salah satu dari lima ekonomi terbesar dunia.

Solusi Kesenjangan Digital UMKM

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan bahwa kehadiran Indonesia Open Network (ION) bisa menjadi solusi kesenjangan digital di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia.

Dia mengemukakan bahwa masih adanya kesenjangan yang tidak bisa diabaikan di balik pertumbuhan ekonomi digital nasional.

Menurut Nezar, nilai ekonomi digital nasional diproyeksikan melampaui US$ 130 miliar  pada akhir tahun ini dan pembayaran digital telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Pada paruh pertama tahun 2025 saja, nilai transaksi berbasis QRIS tercatat telah mencapai lebih dari 6 miliar kali.

Indonesia memiliki sekitar 64,2 juta UMKM, yang berkontribusi 61 persen pada produk domestik bruto (PDB) serta menyerap 97 persen tenaga kerja secara nasional. Namun, belum semua pelaku UMKM terintegrasi dalam ekosistem digital.

Menurut Nezar, sebagian pelaku UMKM, terutama yang berada di luar kota besar, masih menghadapi sejumlah hambatan untuk mengakses dukungan platform digital, antara lain nilai komisi untuk platform yang tinggi dan keterbatasan akses terhadap layanan data.

ION dikembangkan sebagai sistem perdagangan digital terbuka yang digerakkan sektor swasta tetapi berorientasi pada kepentingan publik. ION dirancang untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh pelaku usaha dalam menggunakan platform digital.

Menurut dia, infrastruktur digital publik ini mempertemukan pembeli, penjual, serta penyedia layanan logistik dalam sistem yang terbuka, sehingga pelaku usaha tidak terkunci pada satu platform saja.

Dengan skema tersebut, UMKM diharapkan memiliki lebih banyak pilihan saluran penjualan, kemudahan untuk menjangkau pasar yang lebih luas, serta kendali atas pertumbuhan usahanya.​​​​​​​

Nezar mengatakan bahwa ION merupakan wujud nyata implementasi kebijakan pemerintah, seperti Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023, yang ditujukan untuk melindungi UMKM dari praktik perdagangan yang tidak adil dalam ekosistem digital.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani Saat Menghadiri Indonesia Economic Forum dan Perkenalan Indonesia Open Network di Artotel, Jakarta (5/2)- (Ridho-Suar.id)

Percepat Digitalisasi

Ketua Persatuan Insinyur Indonesia Ilham Habibie mengatakan ION menjalankan tiga pilar strategis untuk memperkuat transformasi digital ekonomi rakyat. Pertama, integrasi dengan program digitalisasi pemerintah yang sudah berjalan, seperti SAPA UMKM, supaya ada kesinambungan dan sinergi dalam pemberdayaan usaha mikro dan kecil. Kedua, pelibatan konsumen dalam skala besar guna menciptakan permintaan stabil bagi para penjual di platform ION.

Ketiga, aktivasi ekosistem hiper-lokal melalui kemitraan dengan aplikasi KomDigi dan asosiasi logistik yang memperkuat distribusi barang dan jasa secara efisien sesuai kebutuhan komunitas akar rumput. 

“Upaya ini memungkinkan produk lokal mendapatkan akses pasar yang lebih luas dengan biaya lebih rendah,” ujar dia.

Ilham mengatakan pengembangan ION melibatkan mitra teknologi kelas dunia seperti Google dan Protean e-Gov Technologies untuk membangun jaringan berbasis cloud yang andal dan aman. Bank BRI berperan dalam menyediakan fondasi perbankan digital yang stabil dan mendukung transaksi keuangan di ekosistem ini.

Perlu sosialisasi

Dihubungi terpisah, Founder GNB Drinks Jonathan Pranadjaja mengatakan pelaku UMKM mendukung penuh terobosan dari pemerintah termasuk implementasi ION.

Pelaku UMKM belum mengetahui informasi jelas mengenai ION ini dan perlu dilakukan sosialisasi besar-besaran tentang apa itu ION, manfaatnya dan bagaimana cara kerjanya.

‘ Saya pernah dengar sekilas tapi belum tahu detail ION itu apa, mungkin perlu sosialisasi agar lebih mengerti,” ujar dia kepada SUAR di Jakarta (5/2).

Jonathan mengatakan selama platform tersebut baik untuk keberlangsungan UMKM tidak ada masalah, ia menghargai inisiatif pemerintah.

Baca selengkapnya