Akselerasi Ekonomi ala Danantara (1)

BPI Danantara memulai proyek investasi untuk tahun 2026. Dari  energi terbarukan hingga ternak ayam. Mengejar pertumbuhan ekonomi 8%. 

Akselerasi Ekonomi ala Danantara (1)
hief Marketing Officer BPI Danantara Dendi Danianto menyampaikan paparannya pada Forum bisnis dan pameran pasar digital (PaDI) UMKM 2025 di Jakarta, Rabu (10/12/2025). ANTARA FOTO/Fauzan
Daftar Isi

Pagar beton mengelilingi lahan kosong yang yang tak jauh dari Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Rencananya, di lahan inilah sebuah proyek besar yang diprakarsai Badan pengelola Investasi (BPI) Danantara akan dimulai. 

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kusno Wibowo, menjelaskan, lahan tersebut telah diputuskan untuk lokasi program Waste to Energi.  "Luasnya 5,7 hektar. Tanah milik Pemda DIY, sudah dibeli," ujarnya.

Foto udara tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) di Piyungan, Bantul, DI Yogyakarta, Kamis (7/3/2024).

Ia menjelaskan, lahan di Piyungan itu memang satu-satunya tanah yang disiapkan oleh Pemda DIY karena luasannya memenuhi syarat.  "Yang paling urgent memang persiapan lahan," kata dia.

Hanya saja, kondisi medan di sana belum sepenuhnya rata. Nantinya penataan lahan juga menyesuaikan desain instalasi pengolahan sampah oleh perusahaan pemenang tender. "Kami akan segera melakukan penataan lahan. Ini akan paralel dengan proses administrasi dan supaya bisa segera direalisasikan untuk groundbreaking," tuturnya.

Pembangunan WtE ini merupakan bagian dari rencana investasi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia sepanjang tahun 2026. Khusus WtE ini, selain di Yogyakarta, juga akan dibangun fasilitas yang sama di Bekasi, Bogor, dan Bali. 

Kusno menjelaskan, sampai saat ini proses proyek tersebut masih berada di Jakarta. Tahapannya pada fase pengadaan dan lelang tender proyek. "Untuk yang mengerjakan, masih dilelang oleh Danantara. Akhir bulan Februari ini baru diumumkan pemenangnya. Kalau tidak salah tanggal 24 Februari," ujarnya.   

Setelah pengumuman tersebut, Kusno menyatakan Pemda DIY akan segera berkomunikasi dengan pemenang tender. "Kami di DIY dengan Danantara akan berkoordinasi untuk langkah berikutnya. Keperluan administrasi perizinan lain akan segerakan," katanya. 

Sebab, groundbreaking ditargetkan berlangsung pertengahan tahun ini. Adapun pengerjaan instalasi sampah selama 1,5 -2 tahun. Bagi warga Yogyakarta, nantinya fasilitas ini akan menjadis solusi efektif bagi masalah sampah di kota ini. Apalagi TPST Piyungan sudah overload tidak bisa menampung sampah dari kota Jogja.  

Kusno menjelaskan, selain lahan, Pemda DIY bersama Pemerintah Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, dan Kabupaten Bantul juga diminta menyiapkan skema pengangkutan sampah dan komitmen suplai sampah. "Kapasitas pabrik mampu mengolah 1000 ton sampah per hari," ujarnya.

Direktur Utama Investasi Danantara Stefanus Ade Hadiwidjaja (tengah) dan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian (kanan) setelah Rapat Koordinasi Nasional tentang Pengolahan Sampah menjadi Energi di Wisma Danantara, Jakarta, Selasa (30 September 2025). ANTARA Foto/ Muhammad Heriyanto

Sebagai bagian dari komitmen menuju transisi energi hijau, Danantara menjadikan proyek WtE atau pengolahan sampah menjadi energi sebagai salah satu portofolio investasinya. Proyek ini menjadi langkah aktif Danantara dalam mengatasi sampah nasional melalui investasi berkelanjutan.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir mengatakan, di proyek ini pihaknya berperan sebagai investor yang masuk melalui skema project financing. Struktur pendanaan proyek WtE yang diterapkan terdiri atas 30% ekuitas pemilik saham dan 70% pinjaman bank atau lembaga keuangan.

Danantara akan menyediakan minimum 30% persen dari total 30% ekuitas  dalam pendanaan proyek WtE.  "Danantara masuk di equity saja. Jadi kan kalau misalkan 70% itu pinjaman biasanya kalau project financing finance, 30% dari equity. Jadi kita minimum 30% dari 30% (ekuitas)," katanya ditemui di The St.Regist Jakarta, Selasa 10 Februari 2026 lalu. 

Pandu menegaskan Danantara bukan mendanai proyek WtE sebesar 30% persen dari total pendanaan, melainkan 30% dari ekuitas. Skema itu berlaku untuk setiap proyek WtE di berbagai titik. 

Investasi energi bersih

Rencana investasi lainnya sepanjang tahun 2026 yang diinisiasi Danantara memang kebanyakan di bidang energi bersih.  Menurut Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Roeslani, Danantara telah menyiapkan proyek gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME) yang ditargetkan mulai memasuki tahap groundbreaking pada bulan Februari. Saat ini, menurut Rosan, aspek teknologi proyek DME masih dalam tahap analisis internal. 

Masih di sektor energi, di Jawa Tengah, tepatnya di Kilang Cilacap, Danantara juga mengembangkan fasilitas produksi bioavtur dengan nilai investasi US$1,1 miliar.  Proyek ini ditujukan untuk mendukung transisi energi sekaligus pengembangan industri penerbangan berkelanjutan. 

Selain proyek-proyek tersebut, Danantara juga mengembangkan fasilitas bioetanol senilai US$80 juta di pabrik Bioethanol Glenmore di Banyuwangi, Jawa Timur. Pabrik ini diharapkan memiliki kapasitas produksi bioetanol berbasis tebu mencapai 30 ribu kiloliter per tahun. Selain itu ada juga proyek hilirisasi kelapa terintegrasi di Morowali dengan nilai investasi US$100 juta yang saat ini telah berjalan. 

Di sektor hilirisasi mineral, Danantara akan membangun smelter aluminium dari alumina dengan nilai investasi US$2,4 miliar serta fasilitas produksi alumina grade smelter (SGA) dari bauksit senilai US$890 di Mempawah, Kalimantan Barat dengan kapasitas 600 ribu metrik ton aluminium per annum.  Proyek ini juga paralel dengan proyek pengembangan Smelter Grade Alumina Refinery Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per annum.

Kedua proyek tersebut diarahkan untuk memperkuat penguasaan rantai nilai aluminium dari hulu hingga hilir. Secara keseluruhan, ada 18 proyek hilirisasi dengan total nilai investasi sebesar US$38,63 miliar atau sekitar Rp618,13 triliun yang dikaji oleh Danantara. 

Proyek hilirisasi lainnya yang sudah groundbreaking adalah pabrik garam bahan baku industri  di Gresik, Jawa Timur. Proyek ini meliputi Pabrik Garam Bahan Baku Industri berteknologi Mechanical Vapor Recompression (MVR) di Kabupaten Sampang berkapasitas 200 ribu ton per tahun; Pabrik Garam Bahan Baku Industri MVR di Manyar, Gresik berkapasitas 100 ribu ton per tahun; serta Pabrik Garam Olahan Segoromadu 2 di Kabupaten Gresik dengan kapasitas 80 ribu ton per tahun.

Chief Operating Officer (COO) Danantara. Dony Oskaria mengatakan, pihaknya akan melangsungkan groundbreaking 10 proyek hilirisasi lagi  pada pertengahan Februari 2026. Ia mengatakan, proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari total 21 proyek hilirisasi yang tengah disiapkan Danantara. 

Namun Dony tak menyebutkan daftar 10 proyek hilirisasi yang akan groundbreaking pekan depan. "Jadi ada 6 proyek yang kita selesaikan, yang sudah kita groundbreaking. Pekan depan kami akan groundbreaking lagi kurang lebih ada 10 proyek lagi," kata Donny dalam Economic Outlook 2026, di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Rabu, 11 Februari 2026. 

Dony menilai proyek hilirisasi ini akan memberikan dampak yang signifikan, baik bagi pertumbuhan ekonomi maupun pembukaan lapangan kerja. "Dari total 21 proyek yang akan kita lakukan dan kita akan groundbreaking di tahun 2026 dan itu dampaknya tentu signifikan yang kita harapkan nanti. Pertama tentu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan. Yang kedua tentu memberikan dampak lapangan pekerjaan yang signifikan bagi seluruh rakyat Indonesia," kata Dony.

Dari Kampung Haji hingga budidaya unggas

Danantara juga berencana membangun Kampung Haji Indonesia di Mekkah senilai US$500 juta atau sekitar Rp8,3 triliun. Proyek ini bertujuan menekan biaya haji, menyediakan fasilitas terintegrasi bagi jemaah Indonesia, dan menargetkan pembangunan 13 tower serta mal, dengan rencana konstruksi mulai akhir 2026. 

Pada Desember lalu, CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan pemerintah Indonesia telah bertemu dengan Royal Commission for Makkah City and Holy Sites (RCMC) selaku otoritas Arab Saudi yang mengurus penjualan tanah di Mekkah.Dalam pertemuan itu, RCMC menawarkan 8  plot lahan. "Prosesnya adalah biding, ada 8 plot yang ditawarkan. Kita memilih plot 6 karena relatif rata, dan ternyata di plot 6 ada 90 bidder," kata Rosan. 

Dari 90 bidder, Indonesia  berhasil masuk dalam dua besar kandidat. Ia menegaskan mekanisme bidding di Arab Saudi tidak didasarkan pada penawaran harga, melainkan pada penilaian rencana pembangunan, desain, serta kepatuhan terhadap ketentuan dan peraturan yang berlaku.  Lahan plot 6 ini lokasinya di kawasan Western Hindawiyah. Jaraknya 2,5 km dari Masjidil Haram. 

Sedangkan di sektor pangan, Danantara turut menggarap pengembangan lima dari total 12 fasilitas budidaya unggas yang tengah dikerjakan. PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food melalui anak usahanya, PT Berdikari, sudah meresmikan Fasilitas Hilirisasi Poultry Terintegrasi di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur. 

Mempercepat pertumbuhan ekonomi

Sejak diresmikan Presiden Prabowo Subianto 24 Februari 2025 lalu Badan Pengelola Investasi Danantara, singkatan dari Daya Anagata Nusantara, sovereign wealth fund (SWF) kedua Indonesia setelah Indonesia Investment Authority (INA) memulai debutnya meilah berbagai sektir yang akan dimasuki untuk dikembangkan. .  

Dengan mengelola aset lebih dari US$900 miliar, Danantara diharapkan bisa mengoptimalkan aset negara dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan capaian realisasi investasi triwulan IV tahun 2025 saat konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi, Jakarta, Kamis (15/1/2026). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S ANTARA FOTO/Fauzan

Institusi ini mengambil alih pengelolaan tujuh BUMN strategis, termasuk Bank Mandiri, BRI, BNI, Pertamina, PLN, Telkom Indonesia, dan MIND ID. Langkah ini menjadikan Danantara sebagai super holding yang mengonsolidasikan aset-aset negara untuk investasi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Salah satu tugas utama Danantara adalah mengalokasikan dana untuk proyek-proyek berdampak tinggi, terutama di sektor energi terbarukan, hilirisasi industri, elektronik, kendaraan listrik, produksi pangan dan ketahanan pangan nasional, hingga infrastruktur digital. 

Dengan peran strategis itu, lembaga ini diharapkan bisa menumbuhkan investasi yang mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8% per tahun pada 2029 dengan investasi yang lebih produktif.

Dalam 12 hingga 24 bulan ke depan, fokus investasi Danantara akan diarahkan ke energi terbarukan dan transisi energi, infrastruktur digital, layanan kesehatan, serta ketahanan pangan, sektor yang dinilai krusial untuk memenuhi kebutuhan populasi Indonesia yang mendekati 300 juta jiwa.

Danantara berencana membagi alokasi modal ke pasar publik dan privat. Sekitar 50% investasi tahun ini akan ditempatkan di pasar publik, terutama di dalam negeri, sambil menjajaki peluang di China, India, Jepang, Korea Selatan, dan Eropa.

Danantara juga menaruh perhatian besar pada penguatan tata kelola dan kredibilitas institusi guna mengurangi defisit kepercayaan yang kerap melekat pada lembaga besar di Indonesia.

Saat ini, Danantara telah mengantongi peringkat kredit BBB dari Fitch, setara dengan peringkat utang Indonesia. Selain itu, lembaga ini telah menjalin kemitraan dengan sesama SWF global senilai total US$45 miliar, termasuk kerja sama yang sebelumnya diumumkan dengan Qatar.

Danantara juga diproyeksikan dapat menciptakan hingga 3 juta lapangan kerja. Hal ini sejalan dengan kebutuhan mendesak Indonesia untuk mengurangi angka pengangguran yang masih cukup tinggi. Dengan penciptaan lapangan kerja, daya beli masyarakat akan meningkat, yang pada gilirannya dapat mendorong konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Kontribusi Danantara terhadap PDB nasional diperkirakan mencapai US$235,9 miliar.

Dengan dampak yang signifikan terhadap perekonomian, kontribusi Danantara terhadap PDB nasional diperkirakan mencapai US$235,9 miliar. Danantara dapat meningkatkan produktivitas aset BUMN dengan menggunakan strategi diversifikasi portfolio yang mencakup proyek greenfield dan brownfield. Dengan memanfaatkan aset-aset ini secara optimal, Danantara dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Pemerintah sendiri dalam perencanaan anggarannya, telah menargetkan total investasi mencapai Rp 7.450 triliun dalam menyongsong pertumbuhan ekonomi 5,4% pada tahun 2026.

Menciptakan efek pengganda 

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet, berpendapat,  dana investasi Rp235 triliun yang disiapkan Danantara untuk tahun 2026 berpotensi memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap perekonomian Indonesia, terutama sebagai pendorong di sektor riil seperti energi, pangan, dan juga hilirisasi.

“Dana sebesar ini seharusnya menciptakan efek pengganda karena bukan hanya membangun proyek, tetapi juga menggerakkan konstruksi, logistik, jasa, dan industri pendukung lainnya,” kata Yusuf kepada Suar.id

Meski begitu, dampak dari investasi yang dilakukan oleh Danantara ini tidak bisa dirasakan secara langsung dalam waktu singkat lantaran proyek-proyek besar yang dikerjakan membutuhkan waktu untuk benar-benar beroperasi dan menghasilkan output ekonomi, sehingga kontribusinya terhadap PDB lebih terasa dalam waktu jangka menengah.

Investasi Danantara dalam konteks pemerataan ekonomi dan persoalan sosial juga dinilai membuka peluang, tetapi tidak otomatis menjadi sebuah solusi yang mengatasi sejumlah persoalan yang ada.

“Banyak proyek berada di luar Jawa sehingga bisa mendorong pertumbuhan daerah, namun ada risiko munculnya ekonomi enclave, di mana kawasan industri tumbuh cepat sementara masyarakat lokal tertinggal karena keterbatasan keterampilan dan akses,” jelasnya.

Menurut Yusuf, investasi di sektor energi dan hilirisasi cenderung padat modal, sehingga penyerapan tenaga kerja besar terjadi saat konstruksi, tetapi saat operasional jumlahnya relatif terbatas. 

Perhatian terhadap isu lingkungan juga menjadi persoalan penting. Sebab hilirisasi dan pengembangan pangan ini berpotensi memicu terjadinya deforestasi dan juga permasalahan limbah, apabila standar pengelolaannya tidak diatur dan diawasi secara ketat.

“Artinya, manfaat sosial baru terasa jika investasi ini dibarengi dengan peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal dan komitmen kuat pada perlindungan lingkungan,” ungkapnya. .

Jika dikaitkan dengan target pertumbuhan ekonomi pada masa pemerintahan Presiden Prabowo ini, Danantara disebut bisa menjadi pendorong penting, namun belum cukup apabila Danantara bergerak sendiri.

Investasi Danantara dinilai lebih tepat apabila dipandang sebagai pemicu investasi lainnya yang memberikan sinyal positif ke pasar. Peran Danantara pun disebut penting, tetapi keberhasilan target pada pertumbuhan ekonomi tetap bergantung pada ekosistem perekonomian yang lebih luas.

“Untuk mencapai pertumbuhan sekitar 8 persen, Indonesia tetap membutuhkan lonjakan investasi swasta, daya beli masyarakat yang terjaga, serta birokrasi yang efisien agar setiap rupiah investasi benar-benar menghasilkan output,” jelasnya.

Danantara tidak boleh sendirian

Pengamat ekonomi dari Centre of Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan, juga menilai dengan nilai investasi yang besar khususnya di tahap pertama ini, Danantara seharusnya mampu berkontribusi terhadap peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) secara signifikan. Meski begitu, sejauh ini dampak perekonomian dari Danantara yang baru diluncurkan pada tahun lalu itu belum terlihat secara nyata dan belum bisa dinilai.

Di sisi lain, masalah terkait pemerataan ekonomi hingga lapangan pekerjaan pun tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada Danantara sendirian. Lembaga ini memang memegang peranan yang cukup penting dan bisa membantu berkontribusi, tetapi diperlukan kerja sama dari seluruh pihak terkait dalam penguatan ekosistem.

“Bebannya terlalu berat, kita enggak bisa mengatasi permasalahan pengangguran itu rely only on Danantara, enggak akan pernah bisa, itu butuh keseluruhan dunia usaha, bukan cuma Pemerintah doang, butuh pengusaha dan pelaku usaha swasta,” lanjut Deni.

Sebesar apa pun investasi dan proyek yang dilakukan oleh Danantara dinilai tidak sekuat dengan peran pemerintah maupun pihak swasta. Perlu adanya penguatan regulasi dan pengawasan yang ketat untuk mengatasi sejumlah persoalan, apalagi ketika berbicara tentang isu lingkungan.

“Dia bisa membantu tapi enggak bisa mengatasi masalah, apalagi masalah lingkungan. Itu bukan lewat Danantara tapi lewat regulasi dan enforcement terhadap aturan-aturan lingkungan, jangan sampai bisnis-bisnis yang dilakukan itu malah merusak lingkungan,” tegasnya.

Investasi dari Danantara juga dinilai tidak cukup kuat untuk menopang dan mendorong target pertumbuhan ekonomi yang tinggi yang ditargetkan oleh pemerintahan Presiden Prabowo.

Deni juga memiliki pertanyaan yang belum terjawab terkait dengan fasilitas poultry terintegrasi. Memang di sektor tersebut ada masalah supply akibat banyaknya demand, apalagi dengan hadirnya program MBG. 

“Tapi kan kenapa harus Danantara langsung yang melakukan, kan bisa sebenarnya mendorong pelaku usaha lokal yang melakukan itu,” lanjutnya.

Dalam kasus ini Deni mengingatkan pentingnya kajian yang dilakukan sebelum proyek benar-benar dilakukan ataupun beroperasi. Ketika misalnya ada permasalahan supply daging ayam, menurutnya jangan langsung cepat mengambil keputusan untuk membangun peternakan ayam tanpa adanya perencanaan yang matang.

Jangan sampai Danantara sebagai SWF malah merugi, sebab banyak BUMN lain yang dikatakan oleh Deni juga malah rugi, bukannya untuk, itulah yang menjadi kekhawatiran banyak pihak.

“Ketika misalnya ada permasalahan atau ada shortage daging ayam, tahu-tahu langsung bikin peternakan ayam, jadi tidak ada perencanaan yang benar-benar matang, jangan sampai jadi seperti itu kalau mau benar-benar berdampak baik, harus dikaji,” ungkapnya.

Mukhlison, Gema Dzikri, Feby Febriana Nadeak dan Arif Koes (Yogyakarta)

Baca selengkapnya