Uni Eropa Nilai ASEAN Butuh Investasi Lebih Banyak

Uni Eropa (UE) berkomitmen memperkuat posisinya sebagai mitra dagang utama ASEAN dengan memfokuskan investasi berkualitas tinggi dan keberlanjutan energi di kawasan Asia Tenggara (ASEAN). 

Uni Eropa Nilai ASEAN Butuh Investasi Lebih Banyak
Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Sujiro Seam saat wawancara eksklusif di kantornya di Jakarta, Senin, 23 Februari 2026. Foto: Ahmad Afandi/SUAR.id.

Pasca pandemi COVID-19, Uni Eropa stabil jadi mitra dagang terbesar ke tiga bagi negara-negara di wilayah Asia Tenggara. Wilayah ini juga menjadi investor asing langsung (FDI) terbesar bagi ASEAN. 

Kekuatan keduanya, Uni Eropa dan ASEAN, menurut Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN Sujiro Seam, telah menyumbang lebih dari seperlima PDB global dengan populasi 1,1 miliar jiwa atau lebih dari 14% dari total populasi dunia. Sebagai sebuah kelompok, ASEAN adalah mitra dagang terbesar ketiga Uni Eropa di luar Eropa, setelah Tiongkok dan AS.

Berdasarkan data Dewan Uni Eropa, pada tahun 2024, neraca perdagangan barang antara Uni Eropa dan ASEAN bernilai €258,8 miliar. Jumlah tersebut €94,3 miliar untuk ekspor dan €164,5 miliar untuk impor. Dalam dekade terakhir, perdagangan barang antara Uni Eropa dan ASEAN telah tumbuh hampir 67%. Impor meningkat lebih dari 90%, sementara ekspor tumbuh hampir 37%.

Sujiro mengatakan, Uni Eropa lebih menekankan pada sektor manufaktur bernilai tinggi, seperti otomotif, penerbangan, hingga teknologi satelit. "Pasar kami sangat matang dengan 450 juta konsumen bernilai tinggi. Kami adalah pasar ekspor yang sangat baik untuk ASEAN. Namun bagi ASEAN, yang lebih krusial untuk pertumbuhan jangka panjang adalah investasi,” kata dia dalam sebuah wawancara eksklusif SUAR awal pekan ini. 

Di mata Sujiro, sebagai ekonomi terbesar di kawasan, Indonesia mendapat perhatian khusus dalam peta jalan kerjasama ini. Dengan populasi mencapai 280 juta jiwa dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki negara ASEAN lainnya. 

Uni Eropa juga menargetkan perundingan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) dengan Indonesia dan sejumlah negara anggota ASEAN seperti Thailand, Filipina dan Malaysia dapat rampung pada akhir tahun 2027, sekaligus menandai peringatan 50 tahun kemitraan dialog antara ASEAN dan Uni Eropa. 

Terkait isu transisi energi, Uni Eropa melalui inisiatif Global Gateway berkomitmen mendukung proyek infrastruktur hijau di kawasan. Fokus utama diarahkan pada pengembangan jaringan listrik ASEAN (ASEAN Power Grid) serta investasi pada sektor energi terbarukan seperti hidro, angin, dan surya. 

Di Indonesia dan Vietnam, dukungan ini diperkuat melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP), untuk mendorong ekonomi rendah karbon.

Menanggapi dinamika regulasi deforestasi (EUDR) yang sempat memicu perdebatan, pihak Uni Eropa menyatakan telah menunda pemberlakuan aturan tersebut, guna memberikan waktu adaptasi bagi para mitra. UE berkomitmen memberikan bantuan teknis dan peningkatan kapasitas bagi petani kecil di ASEAN agar mampu memenuhi standar keberlanjutan global tanpa kehilangan akses pasar di Eropa.

Berbincang dengan wartawan SUAR, Sutta Dharmasaputra, Tria Dianti, Agung Mahesa dan pewarta video Ahmad Afandi di kantornya pada Senin, 23 Februari 2026 lalu, Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN Sujiro Seam  memaparkan bagaimana perkembangan hubungan Uni Eropa dengan Asean saat ini hingga potensi yang bisa diraih di masa depan. Petikannya:

Bagaimana Anda melihat gambaran hubungan ekonomi UE-ASEAN hingga saat ini?

Pasca Covid-19, perdagangan kembali meningkat. Kami berhasil mempertahankan peringkat sebagai mitra dagang terbesar ketiga bagi ASEAN. Dalam hal investasi, kinerja kami bahkan lebih baik. Tergantung tahunnya, kami adalah investor asing langsung (FDI) terbesar kedua atau ketiga bagi ASEAN. Menurut saya, ini bahkan lebih signifikan daripada perdagangan. Tentu saja, dalam hal perdagangan, kami menawarkan peluang pasar yang sangat besar bagi ASEAN, yakni pasar dengan 450 juta orang.

Dan kami adalah pasar bernilai tinggi yang sangat matang. Jadi, kami adalah pasar ekspor yang sangat baik bagi ASEAN. Namun, apa yang dibutuhkan ASEAN dalam hal pertumbuhan adalah investasi. Jadi, saya pikir sangat penting bahwa Uni Eropa menempati posisi kedua atau ketiga sebagai investor asing langsung terbesar di ASEAN.

Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Sujiro Seam saat wawancara eksklusif di kantornya di Jakarta, Senin, 23 Februari 2026. Foto: Ahmad Afandi/SUAR.

Sektor apa saja yang akan jadi ditawarkan Uni Eropa di ASEAN?

Sektornya selalu sama. Uni Eropa mengekspor banyak barang manufaktur, seperti barang industri maju, mobil, pesawat, perangkat satelit, dan elektronik.

Kami juga mengekspor banyak produk bernilai tinggi. Saya pikir ini adalah ciri khas Uni Eropa. Biasanya kami tidak mengekspor produk murah, karena kami tidak memproduksi banyak barang murah. Posisi perdagangan kami ada pada segmen pasar bernilai tinggi.

Bagi negara-negara ASEAN apa artinya?

Ya, Anda tahu, prinsipnya selalu sama. Sebuah negara perlu tumbuh, dan pertumbuhan didasarkan pada perolehan pendapatan, oleh karena itu negara di ASEAN memerlukan investasi—baik investasi modal maupun investasi sumber daya manusia. Saya pikir ini berlaku bagi setiap negara di dunia. Anda perlu mempromosikan investasi dan mempromosikan tenaga kerja yang sangat terampil. Anda sering bepergian ke negara-negara ASEAN.

Bagaimana Anda melihat perbedaan antara Indonesia dan negara-negara lain di ASEAN terkait perizinan melakukan bisnis?

Saya akan katakan bahwa di antara negara anggota ASEAN, ada dua negara berpendapatan tinggi, yaitu Singapura dan Brunei. Sementara itu ada tiga negara berpendapatan rendah atau negara kurang berkembang yaitu Myanmar, Kamboja, dan Laos, serta sekarang Timor-Leste, jadi totalnya ada empat. Sisanya adalah negara-negara berpendapatan menengah. Jadi tentu saja ada perbedaan dari satu negara ke negara lain, tergantung pada tingkat pembangunan dan PDB per kapita.

Meski begitu, ada juga perbedaan dalam hal ukuran negara. Sulit untuk membandingkan persaingan antara negara seperti Brunei yang berpenduduk 450.000 jiwa, atau Singapura dengan 6 juta jiwa, dengan negara seperti Indonesia yang memiliki 280 juta jiwa. Jadi sulit membandingkan satu sama lain. Kinerja ekonomi tidak hanya diukur dari PDB per kapita, tapi tergantung pada kombinasi berbagai faktor. Namun saya katakan Indonesia memiliki berkah berupa populasi yang sangat besar, pasar yang besar dan alokasi sumber daya alam yang sangat baik karena luas wilayahnya. Itu adalah aset yang sangat bagus untuk berkinerja baik dalam hal pertumbuhan, lapangan kerja, pendapatan, dan investasi.

Bagaimana Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara ASEAN lainnya?

Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN berdasarkan ukuran dan populasi. Saya pikir ini adalah pencapaian yang sangat signifikan bahwa kita berhasil mewujudkan perjanjian perdagangan bebas (FTA) antara Uni Eropa dan Indonesia. Sekarang kami juga memiliki negosiasi yang sedang berlangsung dengan Thailand, Filipina, dan Malaysia. Tentu saja, kami akan melanjutkan negosiasi ini agar mencapai kesimpulan, jika mungkin, pada akhir tahun 2027. Karena pada tahun 2027 kita akan merayakan peringatan 50 tahun kemitraan dialog antara ASEAN dan Uni Eropa.

Kami memiliki ambisi politik untuk menyelesaikan negosiasi FTA yang sedang berlangsung ini pada tahun 2027. Saya pikir ini adalah sinyal yang sangat bagus bahwa Indonesia kini bergabung dengan kelompok negara anggota ASEAN yang memiliki perjanjian perdagangan bebas bilateral dengan Uni Eropa. Selain membuka pasar Uni Eropa bagi eksportir Indonesia, ini juga merupakan sinyal bahwa Indonesia terbuka untuk bisnis.

CEO dan Pemimpin Redaksi SUAR, Sutta Dharmasaputra (kiri) dan Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, Sujiro Seam (kanan) saat berbincang di kantornya di Jakarta, Rabu (25/2/2026). (Foto: Ahmad Afandi/SUAR)

Bagaimana Anda melihat tantangan bagi negara-negara ASEAN terkait dengan perjanjian perdagangan bebas ini?

Jika kita memiliki FTA, sebenarnya segala sesuatunya berada dalam kerangka kerja yang pasti. Hubungan bisnis, ekonomi, perdagangan, dan investasi kami dengan Singapura dan Vietnam sebenarnya jauh lebih mudah dibandingkan dengan negara-negara yang belum memiliki FTA. Saya sangat senang bahwa dengan diselesaikannya Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) dengan Indonesia, Indonesia akan bergabung dengan kelompok negara yang memiliki FTA bilateral dengan Uni Eropa. Hal ini tidak hanya mengatur penghapusan tarif dan kuota, tetapi juga mencakup area lain di mana fasilitas diberikan kepada perusahaan dari kedua belah pihak agar mereka memiliki peluang bisnis yang lebih baik.

Apakah ada kerangka kerja sama konkret antara UE dan ASEAN untuk mendorong investasi di sektor energi terbarukan?

Ada dua hal yang memerlukan perhatian. Pertama adalah dialog antara ASEAN dan Uni Eropa. Kami memiliki dialog tingkat tinggi tentang energi yang berfokus pada implementasi rencana aksi dengan tiga prioritas: pasar energi, transisi energi, dan keamanan energi.

Dalam hal investasi, proyek unggulan dari Uni Eropa adalah Global Gateway, sebuah tawaran dari Uni Eropa untuk berinvestasi dalam infrastruktur di lima sektor utama: transportasi, energi, digital, kesehatan, serta pendidikan dan penelitian.

Jadi, energi adalah bagian dari penawaran Global Gateway kami. Dalam hal hasil konkret, dengan dua negara anggota ASEAN, kami mendukung Kemitraan Transisi Energi yang Berkeadilan (Just Energy Transition Partnership atau JETP). Kami memiliki JETP di Indonesia dan Vietnam dengan tujuan mendukung transisi energi menuju ekonomi rendah karbon. Fokusnya sangat besar pada energi terbarukan dan efisiensi energi. Selain itu, kami juga memiliki proyek energi di Thailand.

Pengumuman terakhir kami sampaikan di Forum Global Gateway di Brussels November lalu, di mana negara anggota kami bersama lembaga keuangan UE menandatangani deklarasi minat untuk berinvestasi lebih banyak pada jaringan listrik ASEAN (ASEAN power grid) di tahun-tahun mendatang. Jadi, energi adalah prioritas utama kemitraan strategis ASEAN-Uni Eropa.

Sektor energi mana yang Anda minati?

Tentu saja, kami lebih banyak berinvestasi di sektor energi terbarukan. Bisa berupa hidro (air), angin, atau surya. Tapi ya, fokusnya adalah pada energi terbarukan.

Apakah Anda memiliki pandangan untuk ekonomi digital di ASEAN?

Ya. Kita harus mengakui bahwa ASEAN sudah sangat maju dalam hal ekonomi digital. Inilah alasan mengapa salah satu prioritas utama ekonomi ASEAN adalah menyelesaikan Perjanjian Kerangka Kerja Ekonomi Digital (DEFA). Sudah ada kesepakatan prinsip tahun lalu di bawah keketuaan Malaysia, dan kini menjadi tugas keketuaan Filipina untuk memfinalisasi perjanjian tersebut.

Tanpa menunggu kesimpulan akhir DEFA, Uni Eropa dan ASEAN telah bekerja untuk mengidentifikasi area kerja sama potensial. Tahun lalu kami sepakat untuk bekerja pada prinsip-prinsip umum ekonomi digital agar perusahaan dari kedua wilayah dapat berbisnis bersama, dengan mempertimbangkan kerangka kerja DEFA di ASEAN dan aturan yang sudah ada di Uni Eropa, khususnya melalui Digital Market Act dan Digital Service Act.

Apakah Anda memiliki rencana untuk berbagi ekosistem inovasi di Eropa ke ASEAN?

Kami sudah memiliki platform untuk itu melalui dialog dalam konteks COSTI (Komite ASEAN untuk Sains, Teknologi, dan Inovasi). COSTI bertugas mengimplementasikan rencana ASEAN pada teknologi dan inovasi, dan kami mengadakan dialog tahunan untuk berbagi praktik terbaik dan pengalaman.

Ini masih dalam proses, tetapi selalu ada kepentingan bersama untuk fokus pada tiga dimensi. Yang pertama adalah inovasi melalui penelitian. Proyek Uni Eropa tentang penelitian, pengembangan, dan inovasi terbuka bagi pelaku ASEAN, dan ini adalah peluang besar untuk mempromosikan inovasi di ASEAN.

Peluang apa yang dapat diantisipasi atau dipersiapkan oleh bisnis Indonesia sekarang untuk masa depan di Asean dan Uni Eropa?

Saya pikir kita harus terus mengupayakan negosiasi FTA ini agar dapat menciptakan sebanyak mungkin peluang bagi bisnis dari kedua belah pihak. Secara paralel, kami sepakat untuk fokus pada tiga area kepentingan bersama:

  1. Ekonomi Digital: Investasi di bidang ini sangat menjanjikan untuk tahun-tahun mendatang.
  2. Transisi Hijau: Uni Eropa memiliki banyak kontribusi dalam hal teknologi dan perusahaan yang bersedia berinvestasi di ASEAN, baik dalam jaringan listrik, efisiensi energi, maupun energi terbarukan.
  3. Rantai Pasok yang Tangguh: Kita menghadapi dunia yang semakin tidak pasti, jadi semakin tangguh rantai pasok kita, semakin baik kapasitas kita menghadapi guncangan eksternal.

UE memiliki standar berkelanjutan seperti EUDR, apa sikap UE terhadap persyaratan ini, terutama kesulitan para petani mengimplementasikannya?

Pemberlakuan regulasi deforestasi UE (EUDR) ditunda, sehingga memberikan lebih banyak waktu bagi semua orang di seluruh dunia, termasuk di UE, untuk menyesuaikan diri dan bersiap.

Kami memiliki pendekatan yang sama dengan semua negara ASEAN. Ada minat besar dari pihak kami untuk memastikan regulasi kami bermanfaat bagi semua orang. Uni Eropa sadar bahwa regulasi keberlanjutan ini mutlak diperlukan, jadi kami tidak akan menyerah pada agenda keberlanjutan kami. Kami juga bertekad membantu mitra kami mencapai standar tinggi yang kami miliki.

Kami memiliki proyek di negara anggota ASEAN untuk membantu pihak yang paling rentan beradaptasi dengan persyaratan di Uni Eropa. Kami memberikan bantuan keuangan, peningkatan kapasitas, dan keahlian—termasuk bantuan teknologi bagi mereka yang memiliki lahan namun belum memiliki teknologi untuk mengukur lahan tersebut.

Baca juga serial wawancara eksklusif Suar.id lainnya:

CEO Freeport Indonesia Tony Wenas: Perlu Nilai Tambah Lanjutan Hilirisasi Tembaga
Tim SUAR.id berkesempatan untuk berbincang dengan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas di Kantor PTFI, Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Wawancara Khusus Wali Kota Surabaya: Transfer Pusat ke Daerah Mengecil, Wali Kota Jangan ‘Sambat’
Wawancara eklusif Ketua Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) 2025-2030 yang juga Walikota Surabaya Eri Cahyadi dalam siniar dengan Suar.id. Eri bicara mengenai persoalan mengecilnya transfer pusat ke daerah untuk tahun 2026.
Wawancara Eksklusif: Ketua Komite Nobel Ekonomi Bicara soal Inovasi Dunia Usaha Kunci Cegah Stagnasi
Redaksi SUAR berkesempatan mewawancarai Ketua Komite Ekonomi Hadiah Nobel 2025 dan Guru Besar Ekonomi Internasional Stockholm University John Hassler melalui korespondensi tertulis via surel.

Baca selengkapnya