Geliat Dunia Usaha dari Kenaikan Impor Barang Modal hingga Lonjakan Investor Ritel di Bursa

Kurasi peristiwa terpenting yang perlu diketahui semesta dunia usaha untuk mengawali hari.

Geliat Dunia Usaha dari Kenaikan Impor Barang Modal hingga Lonjakan Investor Ritel di Bursa
Foto: Homa Appliances / Unsplash
Daftar Isi

Selamat pagi, Chief… 

Berikut informasi penting terkait pengembangan semesta dunia usaha yang perlu mendapat perhatian hari ini berdasarkan kurasi Tim SUAR.

Impor Barang Modal Cenderung Naik, Impor Bahan Baku Justru Menurun

  • Nilai impor barang modal menunjukkan tren kenaikan. Sementara itu, nilai impor bahan baku justru mengalami penurunan. Ini memperlihatkan aktivitas dunia usaha dalam tren kenaikan untuk mendorong ekspansi usaha jangka menengah dan panjang. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Januari-November 2025 nilai impor barang modal mencapai USD 144,81 miliar atau naik 18,54% secara tahunan. Porsi impor barang modal terhadap total impor pun meningkat sehingga pada Januari-November 2025 sebesar 20,6% dari sebelumnya 17,7% pada periode yang sama tahun lalu.
  • Lonjakan impor barang modal berasal dari mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS 84), mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) serta kendaraan udara dan bagiannya (HS 88). Pada saat yang sama impor barang bahan mengalami tren penurunan. Pada Januari-November 2025 impor bahan baku mencapai USD 153,19 miliar turun 1,46%. Porsi impor barang baku Januari-November 2025 turun menjadi 70,27% dari total impor, setelah pada tahun sebelumnya porsinya 72,8%.

Fenomena Meroketnya Investor Ritel Perlu Dibarengi Penguatan Integritas Pasar Modal

  • Mengutip data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) total investor pasar ritel Single Investor Identification (SID) pasar modal melonjak 5,25 juta dalam setahun. Pada 2024 jumlahnya 14,87 juta lantas meroket menjadi 20,12 juta pada 19 Desember 2025. Lonjakan jumlah investor ritel itu juga mengubah struktur transaksi di pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat kontribusi investor ritel terhadap nilai rata-rata transaksi harian saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) melonjak dari 38% pada akhir 2024 menjadi sekitar 50% sepanjang 2025. Artinya, kini nilai transaksi dibagi rata seimbang antara investor ritel dan investor korporasi.

Eksportir Siapkan Antisipasi Kenaikan Logistik ke Amerika Imbas AS vs Venezuela

  • Eksportir mengkhawatirkan membengkaknya biaya kenaikan logistik ke benua Amerika pasca serangan Amerika Serikat ke Venezuela pada akhir pekan lalu, meningkatkan eskalasi di kawasan yang disinyalir turut mempengaruhi harga komoditas global seperti emas dan minyak mentah. Eksportir Indonesia perlu mitigasi risiko proaktif untuk mengamankan kepentingan perluasan pasar yang telah diinisiasi, antara lain, lewat Indonesia-Peru CEPA dan rencana Indonesia-Brazil CEPA.

Nilai Tukar Petani (NTP) Meningkat, Petani Butuh Benih Berkualitas

  • Petani membutuhkan benih yang berkualitas guna meningkatkan produktivitas. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk mendorong nilai tukar petani (NTP) yang tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai tukar petani (NTP) Desember 2025 naik 1,05% menjadi 125,35, atau naik 1,05% dibandingkan dengan November 2025. Capaian ini menegaskan semakin membaiknya kesejahteraan rumah tangga pertanian di seluruh Indonesia. Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengatakan, petani bisa menerapkan sejumlah upaya untuk meningkatkan produktivitas.

Video Pilihan: Indonesia Lanjutkan Surplus Neraca Perdagangan 67 Bulan Berturut-turut

Indonesia Lanjutkan Surplus Neraca Perdagangan 67 Bulan Berturut-turut
Indonesia kembali mempertahankan tren positif perdagangan internasional dengan mencatat surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Pada November 2025, surplus tercatat sebesar 2,66 miliar dolar AS, ditopang kinerja ekspor yang lebih tinggi dibandingkan impor.

Surplus Perdagangan Indonesia-Venezuela Sebelum Ketegangan Geopolitik Meningkat

  • Ketegangan geopolitik global kembali meningkat seiring dengan invasi Amerika Serikat terhadap Venezuela. Peristiwa ini memicu kekhawatiran instabilitas ekonomi di kawasan Amerika Latin, mengingat posisi strategis Venezuela sebagai salah satu pemilik cadangan minyak terbesar di dunia. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan RI, hubungan dagang Indonesia-Venezuela cukup dinamis dalam lima tahun terakhir. Pada periode 2020 hingga 2022, nilai ekspor dan impor cenderung stabil. Mulai tahun 2023, terjadi peningkatan nilai ekspor Indonesia ke Venezuela yang cukup signifikan, yakni mencapai USD 27,7 juta, sementara impor berada di angka USD 20,4 juta. Hal ini menandakan adanya penguatan penetrasi produk Indonesia di pasar Venezuela.
  • Lonjakan yang paling mencolok terlihat pada tahun 2025 (periode Januari-November), di mana nilai ekspor Indonesia meroket tajam hingga mencapai USD 75,1 juta. Di sisi lain, nilai impor justru menurun ke angka USD 14,1 juta dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menyebabkan neraca perdagangan Indonesia terhadap Venezuela mengalami surplus yang sangat besar. Peningkatan ekspor yang masif ini menunjukkan bahwa permintaan Venezuela terhadap produk Indonesia tetap tinggi, bahkan meningkat. Hal itu merupakan keberhasilan atas upaya Indonesia melakukan diversifikasi mitra dagang di tengah tekanan internasional.

Kementerian Pertanian Republik Indonesia akan menyelenggarakan acara Panen Raya dan Pengumuman Swasembada Pangan yang dijadwalkan pada hari Rabu, 7 Januari 2026, mulai pukul 09.00 WIB. Acara ini akan dihadiri langsung oleh Presiden Republik Indonesia bersama jutaan petani dari seluruh penjuru negeri sebagai bentuk perayaan atas capaian swasembada yang telah diraih. Berpusat di Kecamatan Cilebar, Karawang, Jawa Barat, kegiatan ini juga dapat disaksikan secara luas oleh masyarakat melalui siaran langsung di kanal YouTube, Instagram, dan TikTok resmi Kementerian Pertanian. Informasi lebih lanjut terkait dengan acara tersebut dapat langsung mengakses Instagram resmi Kementerian Pertanian.

CSIS Indonesia akan menyelenggarakan media briefing bertajuk Outlook 2026: Ancaman dan Risiko Instabilitas Ekonomi, Sosial, dan Politik pada hari Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Auditorium CSIS, Gedung Pakarti Centre, Jakarta Pusat. Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 10.00 - 11.00 WIB ini bertujuan untuk memaparkan analisis strategis mengenai berbagai tantangan krusial yang diprediksi akan memengaruhi stabilitas nasional di tahun mendatang, termasuk potensi risiko ekonomi dan dinamika sosial-politik pasca-transisi pemerintahan. Mengingat urgensi topik yang dibahas, agenda ini menjadi referensi penting bagi insan pers dalam memetakan arah kebijakan serta navigasi krisis di tengah ketidakpastian global dan domestik pada tahun 2026. Informasi lebih lanjut terkait dengan acara ini dapat langsung mengakses Instagram resmi CSIS.

"Dengan sangat percaya pada sesuatu yang masih belum ada, kita menciptakannya. Yang tidak ada adalah apa pun yang belum kita inginkan." (Franz Kafka - Novelis)

Selamat beraktivitas, Chief.

Tim SUAR

Baca selengkapnya