Tren Inflasi Jelang Lebaran 2026

Lonjakan konsumsi di saat Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri menjadi siklus musiman yang mendorong kenaikan inflasi. Pada Maret 2026, siklus tersebut kembali berulang, dengan kenaikan harga terutama pada komoditas pangan.

Tren Inflasi Jelang Lebaran 2026

Berdasarkan data historis inflasi bulanan (month-to-month) sejak 2023, Indonesia selalu menghadapi pola repetitif inflasi tinggi di saat Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Kelompok pengeluaran makanan atau volatile food menjadi menjadi faktor utama yang memengaruhi kenaikan inflasi. 

Data periode 2023-2026 menunjukkan bahwa kelompok volatile food memiliki volatilitas yang jauh lebih ekstrem dibandingkan inflasi umum. Sebagai contoh, inflasi volatile food pada Desember 2025 melonjak hingga 2,74%, sementara pada Januari 2026 sempat terjadi deflasi volatile food  sebesar -1,96%. 

Selain faktor musiman, angka inflasi di Indonesia sangat dipengaruhi oleh anomali cuaca dan rantai pasok komoditas pangan. Ketika pola musiman hari raya tiba, lonjakan harga pada sektor pangan seringkali menjadi faktor utama yang menggerus daya beli masyarakat di tengah euforia perayaan.

Memasuki pertengahan Maret 2026, pantauan harga komoditas nasional mulai menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Berdasarkan data perbandingan harga antara 2-18 Maret 2026, kelompok bumbu dapur, khususnya cabai, menjadi komoditas nomor satu yang mengalami kenaikan harga. 

Cabai merah keriting tercatat melonjak sebesar 18,68% ke harga Rp 46.240/kg, disusul oleh cabai merah besar yang naik 15,91%, dan cabai rawit merah sebesar 13,74%. Kenaikan dua digit dalam waktu kurang dari tiga minggu ini mengindikasikan adanya tekanan suplai yang berat atau indikasi penimbunan stok di tingkat distributor menjelang puncak Idul Fitri.

Tidak hanya bumbu dapur, komoditas protein hewani yang menjadi menu utama saat Lebaran juga mulai merangkak naik. Komoditas jenis daging sapi paha belakang mengalami kenaikan sebesar 5,10% menjadi Rp 142.098/kilogram, sementara daging ayam ras naik 3,63% menjadi Rp 41.756/kg. 

Bahkan, komoditas pokok seperti minyak goreng sawit curah juga mencatatkan kenaikan 3,92%. Menariknya, di tengah tren kenaikan ini, beberapa komoditas seperti Minyakita, kedelai impor, dan bawang putih Honan justru mengalami penurunan tipis (deflasi ringan), yang menunjukkan bahwa intervensi pasar atau ketersediaan stok untuk komoditas tertentu masih relatif terjaga.

Untuk mengendalikan inflasi agar tidak naik terlalu tinggi, pemerintah perlu menjaga rantai distribusi dan melakukan operasi pasar. Kenaikan harga cabai dan daging yang signifikan dalam waktu singkat harus diimbangi dengan kepastian pasokan agar tidak memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi di masyarakat. 

Di tingkat daerah, pemerintah juga turut mengamankan pasar dengan menggelar operasi pasar murah jelang perayaan Idul Fitri. Selain itu, pemerintah pusat juga telah mengalokasikan APBN untuk memberikan stimulus berupa bantuan pangan (beras dan minyak goreng) . Dengan berbagai langkah tersebut diharapkan momen Idul Fitri tahun ini dapat dirayakan dengan kondusif tanpa harus terbebani oleh lonjakan harga kebutuhan pokok yang tidak terkendali.

Baca selengkapnya