Pertemuan Tahunan World Economic Forum 2026 resmi ditutup pada Jumat (23/01/2026) dengan meninggalkan tiga catatan penting dari forum puncak "Global Economic Outlook 2026". Pertama, para pemimpin eksekutif telah mencapai konsensus bahwa tatanan ekonomi dunia tidak akan kembali seperti sedia kala. Kedua, AI telah dan sedang memimpin transformasi ekonomi global. Ketiga, visi pertumbuhan perlu disertai agenda redistribusi kemakmuran, terutama ke negara-negara emerging markets yang menjadi pasar masa depan.
Direktur Jenderal World Trade Organization (WTO) Ngozi Okonjo-Iweala menyatakan, berkaca dari disrupsi total terhadap perdagangan global, optimisme yang tetap tumbuh terhadap pertumbuhan ekonomi membuktikan built-in resilience dalam sistem perdagangan pasca-Perang Dunia II tetap aktif sebagai pelindung terpenting, sehingga kebijakan unilateral AS tidak serta-merta membuat rantai pasok kolaps.
"Meskipun aturan perdagangan global benar-benar diluluhlantakkan, penelitian kami menemukan bahwa 72% perdagangan dunia masih berjalan sesuai koridor ketentuan WTO. Sistem ini tangguh, tetapi tidak berarti ia sempurna. Itu mengapa WTO sangat gigih mengusahakan reformasi, tetapi bukan dengan membenarkan usaha unilateral," jelasnya.
Menteri Keuangan Nigeria 2011-2015 itu menegaskan, ketangguhan sistem dan tatanan yang tidak serta-merta luluh-lantak ketika menghadapi perubahan sedemikian cepat menjadi pelajaran penting agar disrupsi tidak ditanggapi secara reaktif, tetapi juga jangan sampai membuat lengah. Diversifikasi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan instrumen untuk bertahan dan menavigasi arah ke depan.
"Saya tidak berpikir tatanan perdagangan global akan kembali seperti sedia kala. Tidak. Dalam dunia masa depan yang dibangun di dalam ketidakpastian, setiap orang dituntut untuk melihat dan mempertahankan negara serta kawasannya sendiri sebelum bertindak untuk kepentingan orang lain. Boleh jadi situasi ke depan akan membaik, tetapi tidak akan pernah seperti dulu," tegasnya.

Berbagi pandangan dengan Iweala, Presiden European Central Bank Christine Lagarde berharap para pengambil keputusan ekonomi dan politik perlu melihat disrupsi lebih jauh daripada sekadar kehancuran tatanan lama. Apabila hal itu dilakukan, interdependensi rantai pasok yang terbukti mampu bertahan menjadi bukti nyata bahwa semua kemungkinan optimistik ke depan masih sangat terbuka.
"Sebagai otoritas moneter, saya bertanggung jawab hanya pada kebenaran, dan di tengah kebisingan saat ini, saya hanya bisa membedakan itu apabila mampu membedakan signal dari noise. Tugas kami memastikan prospek pertumbuhan bukan sekadar janji, tetapi pertumbuhan riil yang benar-benar dirasakan, dan itu tidak mudah," ucap Lagarde.
AI memimpin
Salah satu signal yang Lagarde dapatkan dari serangkaian forum WEF tahun ini adalah gambaran lebih utuh tentang cara kerja AI memimpin transformasi ekonomi global. AI bukan lagi sekadar kemajuan teknologi, melainkan telah bermetamorfosis menjadi industri dengan tiga sifat: padat modal, padat data, dan membutuhkan pasokan energi sangat besar untuk dapat beroperasi secara optimal.
"Jika kita tidak bekerja sama secara kooperatif, akan ada lebih sedikit data yang bisa diproses, lebih sedikit modal yang mengalir, dan itu tidak kondusif untuk sektor yang sekarang memimpin dan menjanjikan masa depan yang produktif. Kita saling terikat, dan AI akan membantu dunia usaha membedakan signal dari noise dalam mengambil keputusan," ujarnya.
Direktur Pelaksana International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva membenarkan penilaian Lagarde. Dalam penelitian terbarunya, IMF menemukan tiga observasi ekonomi dunia dalam waktu lima tahun yang akan datang.
- Transformasi kecerdasan artifisial mengubah skill demand pekerja, mengingat 60% pekerjaan di dunia akan terdampak AI. "Ini seperti tsunami yang melanda pasar ketenagakerjaan," tukas Georgieva;
- Para pekerja high-skilled, termasuk mereka yang menguasai algoritma dan kapasitas pemrograman AI akan dibayar lebih tinggi, sehingga berdampak pada struktur upah yang semakin tidak memihak pekerja low-skilled, sehingga berdampak pada daya beli;
- Dalam perkembangan yang sangat cepat, manusia kehilangan kesempatan untuk membicarakan dua aspek paling mendasar tentang AI: bagaimana membuat ekosistem AI lebih aman, dan bagaimana menjadikan AI lebih inklusif.
"AI akan memimpin transformasi yang menguntungkan segelintir orang, tetapi merugikan yang lain. Saya ingin tekankan itu sekali lagi: bangunlah. AI itu nyata, dan dia mentransformasikan dunia kita lebih cepat daripada yang bisa kita bayangkan. Pertumbuhan saja tidak akan cukup, tetapi pemerataan jangan sampai kita lupakan," tegas Georgieva.
Baca juga:

Berbagi pandangan dengan Georgieva, CEO Pfizer Albert Bourla menyatakan, sebagai perusahaan multinasional di bidang kesehatan, Pfizer tengah mengawal inovasi biomedik berbasis AI yang kini berkembang di Eropa. Terbaru, Inggris telah menandatangani peningkatan alokasi anggaran penelitian innovative medicine dengan Amerika Serikat, mengikuti langkah negara-negara Eropa.
"Kemajuan teknologi memungkinkan kita menciptakan obat-obatan yang tidak terbayangkan sebelumnya, dan momentumnya tepat karena perubahan demografis mendorong kenaikan permintaan tersebut. Eropa sudah memproyeksikan bagaimana AI akan mengubah industri kesehatan, dan mereka mengikutinya dari dekat," jelas Bourla.
Perubahan demografis yang Bourla maksudkan terutama terjadi pada angkatan kerja yang berubah. Kelompok usia pekerja produktif saat ini akan mencapai puncaknya dalam beberapa tahun ke depan, sebelum memasuki usia menua. Sebaliknya, orang-orang muda yang saat ini menjalani pendidikan tengah bersiap memasuki pasar ketenagakerjaan yang berubah.
"Kesehatan tidak hanya menentukan pertumbuhan global, tetapi juga menentukan tingkat produktivitas seseorang. Kesehatan membentuk demografi masa depan, sehingga kami bertanggung jawab memastikan angkatan kerja yang akan datang harus lebih produktif dari yang ada saat ini," jelasnya.
Berkeadilan
Meski perkembangan AI menjanjikan transformasi ekonomi global secara menyeluruh, Menteri Keuangan Arab Saudi Mohammed Al-Jadaan mengingatkan agar sensasi demam AI tetap perlu disikapi secara berhati-hati dan jangan sampai memicu ekspektasi yang berlebihan, tetapi proporsional sehingga kemajuan AI tidak serta-merta diremehkan, terutama karena dampaknya yang sudah terlihat.
"Kita perlu sangat berhati-hati dengan bising yang kita dengar, dan jangan sampai kita lengah pada tantangan yang benar-benar terjadi. Kita perlu pastikan inovasi mendatangkan manfaat mengalir ke sebanyak mungkin orang, sebanyak mungkin negara dan komunitas berkembang," tegas Al-Jadaan.
Mengamini peringatan Al-Jadaan, Lagarde mengingatkan bahwa di tengah disrupsi yang terus berjalan, pada akhirnya manusialah yang terdampak dan perubahan nilai-nilai yang selama ini berakar di masyarakat merupakan keniscayaan. Untuk itu, Lagarde mengharapkan agar isu pemerataan kemakmuran dan melebarnya kesenjangan tidak dipandang sebelah mata.
"Jika kita mengabaikan pelebaran kesenjangan, kita benar-benar menghadapi masalah," cetus Lagarde
Ke depan, fokus utama redistribusi kemakmuran global terutama adalah negara-negara kawasan emerging markets, terutama Afrika yang akan dihuni 2,5 miliar penduduk bumi dan mengisi seperempat jumlah angkatan kerja global pada 2050. Emerging markets yang saat ini belum menikmati tetesan kemakmuran global perlu diperlakukan lebih dari sekadar pasar masa depan, tetapi juga sebagai mitra pembangunan.
"Ketika semua orang berpikir multilateralisme sudah mati, kita lupa tidak satupun negara atau kawasan bisa menyelesaikan semuanya sendirian, bahkan negara adidaya sekalipun. Itulah mengapa kita harus memastikan forum ini membawa lebih dari sekadar dialog, tetapi menumbuhkan kesalingpercayaan, yang kian tergerus akibat disrupsi dan tidak dapat dipastikan kapan ia dapat tercipta kembali," pungkasnya.
Baca juga:
