Produksi minyak bumi Indonesia yang siap jual cenderung menurun. Penurunan produksi disebabkan baik oleh faktor teknis maupun non-teknis, antara lain kegiatan pengeboran dan perawatan sumur minyak yang tidak sesuai target, frekuensi gangguan produksi (unplanned shutdown) yang terjadi, serta proyek yang tidak berjalan sesuai rencana.
Banyak sumur-sumur minyak yang kian tua memasuki periode declined. Selain itu, tantangan yang dihadapi juga terkait dengan terbatasnya investasi di hulu migas, yang meliputi kegiatan produksi, pengembangan lapangan eksisting, serta aktivitas eksplorasi sumber-sumber baru.
Selama satu dekade terakhir, target lifting minyak bumi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) turun 23%, dari 825 ribu barel per hari (2015) menjadi 635 ribu barel per hari (2024). Sementara, realisasi lifting minyak turun sekitar 30%, dari 829 ribu barel per hari (2016) menjadi 580 ribu barel per hari (2024).
Realisasi lifting minyak bumi berkisar antara 90% hingga 99% dari target. Kecuali realisasi pada tahun 2016 yang sempat melampaui target (101%).
Untuk tahun 2025, target lifting minyak lebih rendah lagi, yakni 605 ribu barel per hari. Hingga November 2025, realisasinya sudah mencapai 599,3 ribu barel per hari atau sebanyak 99,1%. Hingga akhir tahun, realisasi lifting minyak diperkirakan bisa melampaui target.
Untuk tahun 2026, pemerintah menargetkan lifting minyak sedikit lebih tinggi, yakni 610 ribu barel per hari. Peningkatan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah terus berupaya mengoptimalkan produksi minyak bumi melalui dua cara, yaitu pengembangan teknologi dan peningkatan investasi. Salah satunya adalah melakukan pengembangan Enhance Oil Recovery (EOR).
Di penghujung tahun 2025 lalu, tepatnya pada 23 Desember 2025, PT Pertamina (Persero) melakukan injeksi perdana peningkatan produksi menggunakan bahan kimia atau yang disebut "Chemical Enhance Oil Recovery" (CEOR) pada Lapangan Minas di Kabupaten Siak, Provinsi Riau pada Zona Rokan yang dikelola oleh PT Pertamina Hulu Rokan.
Dengan metode injeksi kimia pada CEOR Minas ini, maka minyak yang masih melekat di batuan reservoar bisa terangkat ke permukaan. Dengan teknologi ini, diharapkan produksi Lapangan Minas yang saat ini 28 ribu barel per hari bisa meningkat dua kali lipat. Di tahun 2023, produksi minyak dari lapangan Minas ini ditargetkan mencapai 70 ribu barel per hari. Jika berhasil, metode yang sama bisa diterapkan pada sumur-sumur minyak yang lain.
CEOR hanyalah salah satu cara untuk meningkatkan produksi minyak. Metode ini masih menghadapi ujian untuk membuktikan efektivitasnya karena tingkat kesuksesannya secara global tergolong cukup rendah. Ada metode lain yang berdasarkan pengalaman secara global memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi, seperti metode waterflood, steamflood, dan CO2 EOR.
Tentunya diperlukan metode atau strategi lainnya yang sesuai dengan kebutuhan di masing-masing sumur minyak untuk meningkatkan produksi agar Indonesia tidak semakin bergantung pada impor.