Tanpa kembang api, kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Selasa (31/12/2025) malam, tak lagi dipenuhi dentuman dan cahaya besar yang biasanya membelah langit.
Pergantian tahun di Jakarta kali ini hadir lebih sederhana, dan khidmat untuk menghormati korban bencana alam di Sumatera yang melanda akhir November lalu.

Namun, ketiadaan kembang api tak sepenuhnya memadamkan suasana. Lampu-lampu jalan di sepanjang Bundaran HI menyala terang.
Pohon-pohon dihiasi cahaya kuning keemasan, sementara layar LED dan permainan cahaya di sejumlah titik menggantikan letupan-letupan yang biasanya dinanti menjelang tengah malam.
Di sekitar bundaran Hotel Indonesia, warga tetap berdatangan. Ada yang duduk lesehan di trotoar, ada yang berdiri memandangi video mapping di layar besar, ada pula yang sekadar berjalan sambil berbincang.
Lalu lalang manusia berpadu dengan gerobak-gerobak minuman hingga asongan baik yang berdagang makanan maupun aksesoris tahun baru di sisi kiri dan kanan jalan.
Beragam wajah tampak di sana, keluarga berpiknik beralas kardus, pasangan yang berjalan beriringan, muda-mudi meloncat-loncat mengikuti musik, hingga warga yang berhenti untuk berfoto. Sebuah panggung megah berdiri di samping bundaran Hotel Indonesia, menampilkan beragam band ternama dan lagu hits sepanjang masa.

Di antara kerumunan, Alfian (25), perantau asal Jawa Timur yang sudah tiga tahun bekerja di Jakarta, mengaku rutin merayakan malam tahun baru di Bundaran HI.
Menurut Alfian, absennya kembang api tak mengurangi makna kebersamaan.
“Indonesia sedang berduka buat saudara kita di Sumatera, jadi nggak apa-apa,” ujarnya. Ia berharap tahun depan pemerintah lebih peka terhadap kondisi rakyat.

Tak jauh dari panggung utama, Suharti (38) datang bersama putrinya, Putri Sakila (18) atau Sasa. Warga Depok itu awalnya berencana merayakan malam tahun baru di daerahnya. Namun, setelah ada surat edaran larangan kembang api, mereka memilih ke Bundaran HI.
Menurutnya, suasana di Bundaran HI tetap menghibur. “Yang penting ada hiburan buat warga, anak-anak juga senang. Walaupun lebih rame tahun lalu, tapi tetap seru,” kata dia.
Suharti menyimpan harapan sederhana untuk 2026. Ia juga berharap kebijakan bantuan sosial, khususnya Program Indonesia Pintar, bisa lebih mudah diakses dan tepat sasaran. “Semoga lebih maju, pembangunan lancar, dan jangan banyak korupsi,” katanya.
Sementara Sasa berharap bisa menikmati konser musik malam itu, ‘quality time’ bersama keluarga sebelum memasuki masa kuliah atau kerja, serta kemudahan akses pendidikan bagi anak-anak sepertinya.
Pemerintah Provinsi Jakarta memang meniadakan pesta kembang api dan memangkas jumlah panggung hiburan dalam perayaan malam Tahun Baru 2026. Kebijakan ini diambil sebagai bentuk solidaritas terhadap korban bencana di Sumatera dan sejumlah daerah lain.
Gubernur Jakarta Pramono Anung mengumumkan kebijakan tersebut di Balai Kota Jakarta, Senin (22/12/2025).
“Peristiwa yang terjadi di Sumatera dan beberapa daerah lain jadi keprihatinan kita. Saya mengimbau kali ini untuk ditiadakan. Mudah-mudahan ini tidak mengurangi esensi kita dalam menyambut Tahun Baru,” ujar Pramono.
Kebijakan berlaku untuk seluruh perhelatan yang diselenggarakan pemerintah maupun pihak swasta. Meski demikian, Pemprov Jakarta tak melakukan razia terhadap perorangan yang menyalakan kembang api. Warga hanya diimbau untuk tidak bermain kembang api dan petasan.
Selain meniadakan kembang api, Pemprov Jakarta juga memangkas jumlah panggung hiburan dari semula 14 titik menjadi 8 titik. Kawasan Monumen Nasional, yang biasanya menjadi salah satu pusat keramaian, tahun ini tanpa panggung hiburan.
Titik utama perayaan tetap dipusatkan di Bundaran HI. Adapun lokasi lain yang masih menggelar acara antara lain Lapangan Banteng, Kota Tua, Jakarta International Stadium, dan Blok M.
Sementara itu, Kepolisian Indonesia (Polri) mengerahkan 312.000 personel untuk perayaan tahun baru 2026.
Irjen Pol. Mulya Hasudungan Ritonga menjelaskan bahwa dalam rangka Operasi Lilin, Polri mengerahkan sekitar dua pertiga dari total kekuatan personel.
"Secara keseluruhan, kurang lebih 312.000 personel kepolisian diturunkan untuk mengamankan seluruh rangkaian kegiatan masyarakat selama perayaan Natal dan Tahun Baru," ujar dia.
Selain itu, Polri juga menyiapkan sebanyak 2.903 pos pengamanan, pos pelayanan, dan pos terpadu yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan, mulai dari ibadah, kunjungan ke pusat keramaian dan pusat perbelanjaan, hingga aktivitas lainnya.
"Personel berseragam maupun tidak berseragam ditempatkan di lokasi-lokasi strategis, didukung dengan pemantauan melalui CCTV milik pemerintah, perorangan, maupun perusahaan, serta koordinasi dengan panitia kegiatan malam tahun baru."
Bagi pedagang kaki lima, Abiel Oktavianus Zebua (19), mahasiswa Universitas Trisakti yang malam itu berdagang kopi gerobakan franchise dari Sejuta Kopi, euforia pergantian tahun memang terasa berbeda tanpa kembang api, tetapi kepadatan pengunjung masih relatif sama. “Ya gapapa sih, namanya musibah. Ini bentuk respect kita,” katanya.
Sekitar 700 meter sebelum Bundaran HI, lapak aksesoris tahun baru tampak mencolok dengan aneka lampu dan warna. Kurniasih (41), akrab disapa Nia, dengan cekatan menawarkan bandana warna-warni, light stick, hingga kacamata aksesoris edisi ‘New Year 2026’.

Sekitar 700 meter sebelum Bundaran HI, lapak aksesoris tahun baru tampak mencolok dengan aneka lampu dan warna. Kurniasih (41), akrab disapa Nia, dengan cekatan menawarkan bandana warna-warni,
Sambil melayani pembeli, Kurniasih sesekali memberi harga khusus bagi yang membeli dalam jumlah banyak. Aksesori tahun baru itu dibanderol mulai Rp 35.000 per item, kecuali kipas tangan seharga Rp 60.000.
Bersama suaminya, ia sudah berdagang setiap malam tahun baru sejak sebelum 2000-an. “Biasanya tahun baru identik sama kembang api. Tapi ya kita ikut aturan pemerintah,” ujarnya.
Menurut Kurniasih, meski tanpa kembang api, cahaya lampu dan aksesori tetap memberi nuansa perayaan. “Lampu-lampu ini juga ngeluarin cahaya, ada seni-seninya. Ini juga buat menghormati korban bencana,” katanya.
Tahun-tahun sebelumnya, ia juga menjual petasan dan kembang api. “Sekarang nggak boleh, yaudah kita fokus jual ini. Yang penting tetap ada euforia,” ujarnya. Ia mengaku keramaian belum terasa penuh, tetapi berharap memuncak menjelang pukul 24.00 WIB.
“Semoga nggak ada kembang api nggak ngaruh ke jualan. Harapannya ekonomi warga lancar lagi, nggak ada bencana.”
Upaya solidaritas Pemprov Jakarta tak hanya dilakukan lewat pengaturan perayaan. Pemerintah juga kembali menggalang donasi untuk korban bencana di Sumatera dan daerah lain. Hingga kini, bantuan yang disalurkan mencakup kebutuhan dasar, 16 unit toilet portabel, serta bantuan uang tunai.

Tetap berjalan
Dari sisi pelaku usaha dan ritel, kebijakan tanpa kembang api dinilai dapat dipahami masyarakat. Ketua Umum HIPPINDO, Budihardjo Iduansyah, menyebut publik tidak menuntut perayaan meriah di tengah situasi bencana.
“Masyarakat mengerti. Tapi dari pihak mal, ritel, maupun pemerintah tetap ada acara seperti drone show, LED, atau permainan lampu dengan pesan merayakan secara sederhana,” ujarnya.
Menurut Budi, aktivitas ekonomi tetap perlu berjalan agar roda usaha dan lapangan kerja terus hidup, sekaligus memungkinkan dukungan bagi daerah terdampak.
“Meski ada musibah, semangat berdagang harus tetap jalan. Dari bisnis itulah akan tercipta lapangan kerja dan keuntungan yang nantinya juga bisa dikembalikan ke saudara-saudara kita di sana,” kata dia.

Hal senada disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja. Ia mengatakan pusat perbelanjaan akan mengikuti seluruh arahan dan ketentuan pemerintah, termasuk terkait larangan kembang api.
Sebagai gantinya, pusat perbelanjaan menyiapkan berbagai alternatif perayaan. Alphonzus menjelaskan, ada dua program utama yang dihadirkan untuk menyemarakkan Natal dan Tahun Baru tanpa kembang api.
“Pertama, penyelenggaraan berbagai acara, aktivitas, atraksi, dan dekorasi dalam nuansa seni, budaya, dan musik untuk memberikan pengalaman Natal dan Tahun Baru yang unik. Kedua, program promo belanja untuk memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat,” katanya.

Di kawasan wisata, penyesuaian serupa juga dilakukan. Corporate Communication Ancol Taman Impian, Daniel Windriatmoko menyatakan Ancol meniadakan pesta kembang api sebagai bentuk empati dan solidaritas.
“Ungkapan rasa syukur bukan tentang kemeriahan, tapi refleksi diri untuk menumbuhkan kepedulian terhadap orang lain,” ujarnya.
Sebagai gantinya, Ancol menyiapkan sejumlah acara, mulai dari Art Celebration di Pasar Seni, Konser Kemanusiaan Gempita 2026 bersama SCTV di Pantai Carnaval yang mengajak pengunjung berdonasi, Drone Light Show di Pantai Lagoon, hingga konser musik dangdut di Pantai Festival.
Tanpa kembang api, Jakarta menutup tahun dengan cara yang berbeda. Tidak ada ledakan cahaya di langit, namun ada jeda untuk menoleh ke sekitar, dan ke luar kota, tempat ribuan orang masih berjuang memulihkan hidupnya. Di tengah hening itu, pergantian tahun tak lagi sekadar perayaan, melainkan juga pengingat.