Hubungan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pada sektor non-migas. Kesepakatan baru yang dicapai lewat The Agreement on Reciprocal Trade (ART) diharapkan dapat memperkuat hubungan dagang kedua negara.
Pembatalan tarif oleh Mahkamah Agung AS tidak menghentikan proses perjanjian. Ini justru membuka ruang penyesuaian menuju kesepakatan yang lebih seimbang dan modern.
Pasca perjanjian ini, bagaimana respon dunia usaha? Bagaimana arah perdagangan Indonesia-AS ke depan? Berikut Suar.id akan memaparkan sejumlah hal yang jadi sorotan yang patut diketahui oleh semesta dunia usaha Tanah Air.
Salah satu poin krusial dalam perjanjian ini adalah pemberian tarif nol persen untuk produk tekstil dan apparel asal Indonesia melalui mekanisme Tariff Rate Quota (TRQ).
Perekonomian Indonesia mampu bangkit hingga mencapai pertumbuhan yang moderat di kisaran 5% pascapandemi. Pertumbuhan akan bisa lebih tinggi jika kebijakan pemerintah diarahkan untuk mengatasi hambatan non-tarif yang memengaruhi sektor perdagangan.
Selain sawit, AS juga memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas unggulan ekspor Indonesia seperti kopi, dan kakao
Sejumlah komoditas yang dijual di atas harga eceran tertinggi (HET) yaitu minyak goreng, telur ayam dan daging ayam.
Ada empat alasan kenapa Indonesia belum mampu untuk terlibat perang dagang dengan AS. Apa saja?
Angka tersebut mengalami kenaikan sebesar 10-15% dibandingkan realisasi transaksi pada periode yang sama di tahun 2025 yang mencapai RP32,7 triliun
Tak hanya bersifat transaksional dan diplomatis, dukungan Indonesia dan Tiongkok terhadap agenda prioritas masing-masing negara akan diikuti transfer pengetahuan, teknologi, hingga jejaring sumber daya manusia yang mulai terbentuk selama beberapa tahun terakhir.
Pada 2026, Kemendag menargetkan total nilai ekspor barang bisa mencapai US$ 298,02 miliar-302,55 miliar atau bertumbuh 5,3% hingga 6,9%.
Di tengah berbagai ketidakpastian global, Indonesia masih melanjutkan surplus neraca perdagangan 68 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Menampilkan 12 dari 73 total postingan
Tetap terupdate dengan koleksi cerita terbaik kami.